JAKARTA - Memasuki 2026, OJK menegaskan komitmennya untuk memperkuat integritas pasar modal Indonesia.
Fokus utama meliputi pendalaman likuiditas, penguatan basis investor institusi, dan pembangunan ekosistem Bursa Karbon yang kredibel. Sinergi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan sektor keuangan.
Perlindungan investor, khususnya investor ritel dan minoritas, menjadi perhatian utama OJK. Penegakan perilaku atau market conduct akan diperkuat untuk memastikan praktik investasi yang bertanggung jawab. Termasuk di dalamnya pengawasan terhadap financial influencer atau finfluencer yang memengaruhi keputusan investasi publik.
Aturan baru bagi finfluencer sedang disiapkan dan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun. Fokusnya pada kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan. Tujuannya agar literasi investasi masyarakat meningkat dan risiko kesalahan keputusan diminimalkan.
Perluasan Pasar Modal Indonesia
Masih terdapat ruang besar untuk memperluas pasar modal Indonesia. Kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih di bawah beberapa negara kawasan, sehingga potensi pertumbuhan signifikan terbuka lebar. Hal ini menjadi peluang untuk meningkatkan kedalaman pasar dan jumlah investor institusi.
Pertumbuhan investor muda menjadi salah satu pendorong utama. Dominasi investor di bawah usia 40 tahun membuka peluang inovasi produk keuangan. Rata-rata nilai transaksi harian juga menunjukkan tren positif, menandakan likuiditas pasar semakin meningkat.
Kinerja indeks LQ45 menjadi perhatian, meski pertumbuhannya relatif rendah dibanding IHSG. LQ45 tumbuh hanya 2,41 persen year to date, jauh di bawah IHSG yang naik lebih dari 20 persen. Perbedaan ini menunjukkan masih ada ruang optimalisasi untuk saham unggulan yang menjadi rujukan global maupun domestik.
Kinerja Pasar Saham dan IPO
Hingga akhir 2025, IHSG berhasil mencatatkan penguatan signifikan. Penutupan di level 8.646,94 poin mencerminkan kenaikan sekitar 22 persen year to date. Peristiwa ini termasuk mencatat 24 kali all time high sepanjang tahun, menandakan optimisme pasar cukup tinggi.
Dari sisi penghimpunan dana, tercatat 215 penawaran umum dengan total nilai sekitar Rp 275 triliun. Di antaranya terdapat 18 emiten baru dengan nilai initial public offering (IPO) Rp 14,41 triliun. Angka ini menunjukkan aktivitas pasar modal cukup dinamis dan tetap menjadi kanal pendanaan strategis.
Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat menjadi Rp 18,1 triliun dibandingkan Rp 12,9 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan single investor identification (SID) yang kini mencapai lebih dari 20 juta. Tren ini menandakan partisipasi investor muda dan ritel semakin signifikan.
Penguatan Bursa Karbon dan Keberlanjutan
Selain pasar saham, pembangunan ekosistem Bursa Karbon menjadi fokus strategis 2026. Bursa ini diharapkan menjadi platform yang kredibel dan berstandar internasional. Upaya ini mendukung target keberlanjutan nasional sekaligus memberikan alternatif investasi baru bagi investor institusi dan ritel.
Percepatan pembangunan bursa karbon sejalan dengan tren global untuk investasi hijau. Investor semakin memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam pengambilan keputusan. Hal ini mendorong pasar modal Indonesia untuk lebih inovatif dan berdaya saing.
OJK menekankan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memastikan Bursa Karbon berjalan optimal. Keterlibatan regulator, perusahaan, dan investor penting agar standar transparansi dan integritas tetap terjaga. Langkah ini diharapkan memunculkan kepercayaan pasar serta mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Sinergi dan Kolaborasi untuk Pertumbuhan Ekonomi
Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KSSK) menjadi mekanisme strategis untuk menjaga stabilitas. Sinergi antar lembaga dan pemangku kepentingan di pasar modal mendukung penguatan sektor keuangan nasional. Tujuannya agar sektor ini berperan lebih optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Perlindungan investor, peningkatan likuiditas, dan penguatan indeks saham unggulan menjadi faktor utama. Pengawasan perilaku pasar dan literasi investasi yang baik menjadi kunci keberhasilan. Dengan pendekatan ini, pasar modal diharapkan lebih transparan, inklusif, dan kompetitif di tingkat regional maupun global.
Inovasi dan transformasi pasar modal Indonesia akan terus didorong sepanjang 2026. Integritas, keberlanjutan, dan partisipasi investor muda menjadi fondasi utama. Dengan langkah strategis ini, pasar modal diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi nasional yang sehat, stabil, dan berkelanjutan.