JAKARTA - Menlu RI Sugiono mendorong ASEAN memperkuat fondasi politiknya demi menjaga kawasan tetap damai.
Langkah ini ditujukan agar Asia Tenggara tidak menjadi arena perebutan pengaruh atau konflik proksi. ASEAN diminta menegaskan perannya sebagai organisasi yang bersatu dan stabil di tengah dinamika global.
Sugiono menekankan pentingnya kemitraan strategis antarnegara anggota. Sentralitas dan kesatuan ASEAN harus diperkuat melalui langkah-langkah politik yang nyata. Hal ini menjadi modal utama agar kawasan mampu menghadapi tantangan internasional dengan efektif.
Menurut Sugiono, negara anggota ASEAN berada dalam satu perahu yang harus menavigasi masa depan bersama. Solidaritas menjadi kunci agar organisasi tetap kuat menghadapi berbagai tekanan eksternal. Dengan begitu, perdamaian dan stabilitas regional dapat terus terjaga.
Ketahanan Mandiri ASEAN Melalui Sektor Strategis
Menlu RI menekankan perlunya membangun ketahanan mandiri ASEAN. Sektor ekonomi, energi, pangan, dan teknologi menjadi fokus utama penguatan. Langkah ini penting untuk menjaga kedaulatan dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal.
Ketahanan ekonomi diharapkan memperkuat posisi ASEAN dalam hubungan internasional. Sementara itu, ketahanan energi dan pangan menjamin keberlanjutan kebutuhan masyarakat. Penguatan teknologi juga mendukung inovasi dan daya saing regional secara keseluruhan.
Sugiono menilai pembangunan ketahanan mandiri harus dilakukan secara kolaboratif. Negara anggota perlu menyelaraskan strategi dan kebijakan di masing-masing sektor. Pendekatan ini memastikan ASEAN mampu menghadapi gejolak global secara lebih resilien.
Percepatan Finalisasi Code of Conduct Laut China Selatan
Pertemuan ASEAN membahas percepatan penyelesaian Code of Conduct (CoC) di Laut China Selatan. CoC menjadi instrumen penting untuk menciptakan tatanan maritim yang stabil. Penyelesaian ini diharapkan dapat disepakati dalam tahun yang sama untuk kepastian hukum regional.
Sugiono menekankan bahwa CoC akan memperkuat kepastian aturan di kawasan. Implementasi kode etik ini juga meminimalkan potensi konflik antarnegara. ASEAN dapat menegaskan perannya sebagai mediator yang netral dan konstruktif.
Finalisasi CoC juga menjadi sinyal bagi dunia bahwa ASEAN mampu menjaga stabilitas regional. Hal ini mendukung iklim investasi dan keamanan maritim. Dengan CoC, wilayah Laut China Selatan dapat dikelola secara damai dan berbasis aturan.
Isu Myanmar dan Perbatasan Thailand-Kamboja
Pertemuan menlu ASEAN turut membahas situasi di Myanmar. ASEAN menekankan perlunya penyelesaian masalah secara konstruktif. Pendekatan ini diharapkan membawa stabilitas bagi rakyat Myanmar dan kawasan sekitarnya.
Isu perbatasan Thailand dan Kamboja juga menjadi perhatian. ASEAN menyepakati dialog dan kerja sama lintas batas sebagai solusi. Pendekatan ini memperlihatkan komitmen regional dalam mengelola konflik internal secara damai.
Sugiono menegaskan bahwa penyelesaian isu-isu ini harus mengutamakan prinsip inklusif dan bertanggung jawab. Negara anggota harus bekerja sama untuk solusi jangka panjang. Dengan demikian, stabilitas regional tetap terjaga tanpa mengorbankan kepentingan rakyat.
Penguatan Kerja Sama Bilateral dan Global
Di sela-sela pertemuan, Menlu RI mengadakan dialog bilateral dengan Singapura dan Kamboja. Tujuannya membahas penguatan kerja sama politik dan ekonomi. Dialog ini menjadi bagian dari strategi ASEAN menghadapi isu kawasan dan global secara terpadu.
Kerja sama bilateral mendukung konsistensi kebijakan ASEAN secara keseluruhan. Dengan koordinasi yang erat, ASEAN dapat menegaskan perannya di forum internasional. Langkah ini sekaligus memperkuat jaringan diplomasi yang menguntungkan seluruh negara anggota.
Sugiono menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk menjaga stabilitas kawasan. Hubungan bilateral yang kuat menjadi pondasi bagi kesatuan ASEAN. Pendekatan ini memperkuat sentralitas organisasi sekaligus meningkatkan daya tawar regional di mata dunia.