JAKARTA - Isu kelautan dan energi kini semakin sering dibahas dalam satu tarikan napas. Di tengah ancaman perubahan iklim global, naiknya suhu laut, serta tekanan terhadap ekosistem pesisir, diskusi tentang pembangunan berkelanjutan tidak lagi bisa memisahkan sektor energi dari laut.
Inilah konteks besar yang mengemuka dalam Bali Ocean Days 2026, sebuah forum internasional yang menegaskan keterkaitan erat antara transisi energi dan keberlanjutan ekosistem kelautan Indonesia.
Konferensi tahunan yang digelar di InterContinental Bali Resort Convention Centre tersebut menghadirkan ruang dialog lintas sektor.
Pembuat kebijakan, ilmuwan, pelaku industri energi dan maritim, akademisi, hingga komunitas global berkumpul untuk membahas solusi jangka panjang menjaga laut di tengah tantangan iklim yang kian kompleks. Forum ini menegaskan bahwa masa depan laut Indonesia sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan energi nasional.
Energi Dan Laut Dalam Satu Kerangka Pembangunan
Tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut telah mendorong pemahaman baru bahwa kebijakan energi tidak berdampak semata pada sektor darat.
Emisi dari aktivitas energi terbukti berkontribusi terhadap pemanasan global yang kemudian memicu kenaikan suhu laut, pemutihan terumbu karang, serta degradasi ekosistem pesisir.
Oleh karena itu, transisi energi dipandang bukan hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan energi nasional, tetapi juga sebagai langkah strategis menjaga kesehatan laut.
Hubungan ini semakin relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan garis pantai lebih dari 100.000 kilometer yang menghubungkan sekitar 17.000 pulau, kondisi laut Indonesia memiliki pengaruh besar terhadap ketahanan pangan, ekonomi, dan stabilitas iklim. Ekosistem laut dan pesisir menjadi fondasi kehidupan jutaan masyarakat, sekaligus penyangga sistem iklim global.
Tekanan Demografi Dan Kebutuhan Energi Nasional
Indonesia saat ini dihuni oleh lebih dari 280 juta penduduk, dan pada 2045 jumlah tersebut diproyeksikan melampaui 320 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk ini membawa konsekuensi langsung berupa peningkatan kebutuhan energi nasional, urbanisasi yang semakin pesat, serta tekanan yang kian besar terhadap sumber daya alam.
Proyeksi perencanaan nasional menunjukkan bahwa kebutuhan listrik Indonesia dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2045. Dalam situasi ini, transisi energi menjadi agenda strategis nasional yang tidak dapat dihindari.
Tanpa peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih, peningkatan konsumsi energi berpotensi memperparah emisi dan mempercepat kerusakan lingkungan, termasuk ekosistem laut dan pesisir.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Perairan nasional menjadi rumah bagi sekitar 76% spesies karang dunia dan lebih dari 37% spesies ikan karang global.
Ekosistem mangrove dan lamun Indonesia juga menyimpan sekitar 17% cadangan blue carbon dunia, setara dengan miliaran ton karbon yang berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim global. Potensi ini menjadikan laut Indonesia sebagai aset strategis, sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijaga.
Peran Pertamina Dalam Transisi Energi Bersih
Dalam konteks tersebut, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) hadir sebagai subholding PT Pertamina (Persero) yang berfokus pada pengembangan energi baru dan terbarukan serta energi transisi. Peran Pertamina NRE diarahkan untuk mendukung ketahanan energi nasional, sekaligus berkontribusi pada pengurangan emisi dan perlindungan lingkungan.
Saat ini, Pertamina NRE mengelola portofolio energi bersih yang mencakup panas bumi, tenaga surya, biogas, serta gas-to-power sebagai energi transisi.
Selain itu, Pertamina NRE juga terlibat dalam pengelolaan layanan operasi dan pemeliharaan pembangkit, serta pengembangan bisnis karbon sebagai bagian dari strategi penurunan emisi.
Ke depan, Pertamina NRE menyiapkan pengembangan bioetanol dan hidrogen hijau sebagai fase pertumbuhan berikutnya dalam mendukung agenda transisi energi nasional.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat bauran energi bersih Indonesia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang berdampak pada lingkungan.
Kolaborasi Energi Dan Maritim Untuk Keberlanjutan
Dari sisi sektor maritim, peran menjaga ekosistem laut juga dijalankan oleh PT Pertamina International Shipping (PIS). Upaya tersebut dilakukan melalui penerapan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan untuk armada kapal, serta berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada pelestarian biota laut dan ekosistem pesisir.
Pendekatan lintas entitas ini mencerminkan cara pandang Pertamina Group yang melihat isu energi dan kelautan secara terintegrasi. Keberlanjutan laut tidak hanya ditentukan oleh aktivitas di wilayah pesisir, tetapi juga oleh bagaimana energi diproduksi, didistribusikan, dan digunakan. Setiap keputusan di sektor energi memiliki dampak berantai terhadap lingkungan laut.
Namun sebagaimana mengemuka dalam forum Bali Ocean Days 2026, transisi energi tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan kepastian regulasi jangka panjang, pembiayaan berkelanjutan, transfer teknologi, serta keterlibatan masyarakat lokal agar proses transisi berlangsung adil dan inklusif.
Vice President Strategy & Portfolio Pertamina NRE, Aditya Dewobroto, menekankan pentingnya kolaborasi dalam proses transisi energi nasional.
“Indonesia memiliki potensi energi bersih yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana memastikan transisi ini berjalan terencana, terukur, dan melibatkan berbagai pihak. Transisi energi bukan hanya soal membangun pembangkit, tetapi membangun ekosistem,” ujar Aditya dalam keterangannya, Selasa, 3 Februari 2026.
Forum Bali Ocean Days 2026 menunjukkan bahwa diskusi tentang laut tidak dapat dilepaskan dari pembahasan energi, iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi kini dipandang sebagai agenda yang harus berjalan beriringan.
Bagi Indonesia, menjaga laut berarti mengelola pembangunan secara lebih berkelanjutan, dan mempercepat transisi energi menjadi salah satu jalur penting untuk memastikan masa depan ekosistem laut dan pesisir tetap terjaga.