JAKARTA - Di balik tembok tinggi Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, sebuah inovasi lingkungan yang luar biasa telah muncul.
Para warga binaan di sana berhasil mengubah ampas pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 3 Bangka menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi.
Ampas batu bara yang biasanya menjadi limbah, kini menjadi nutrisi tanah yang kaya akan unsur makro yang bermanfaat untuk menyuburkan lahan pertanian di Bangka.
Inovasi ini tidak hanya mengubah limbah menjadi produk berguna, tetapi juga membuka peluang baru dalam pemberdayaan warga binaan. Program yang dimulai sejak 2025 ini mendapatkan banyak dukungan, termasuk dari berbagai pihak seperti UMKM Green Soil Bangka Tengah dan PT PLN Nusantara Power Services Unit PLTU 3 Bangka. Hasil dari kerja keras ini tercatat dengan sukses melalui pengiriman 6 ton kompos ke kelompok tani di Bangka Tengah.
Kolaborasi Antara Lapas, UMKM, dan PLN Bangka
Kepala Lapas Pangkalpinang, Sugeng Indrawan, menyatakan kebanggaannya atas pencapaian para warga binaan dalam mengolah ampas batu bara menjadi kompos berkualitas. Menurut Sugeng, program pelatihan yang dimulai pada 2025 lalu ini merupakan hasil kolaborasi antara Lapas Pangkalpinang, UMKM Green Soil Bangka Tengah, dan PT PLN Nusantara Power Services Unit PLTU 3 Bangka.
“Kami berupaya mewujudkan pemanfaatan sumber daya yang ada di Lapas dengan dukungan berbagai pihak,” ujarnya.
Sugeng juga menambahkan bahwa kompos yang telah dihasilkan tidak hanya bermanfaat bagi pertanian, tetapi juga sebagai alat pemberdayaan yang dapat mengurangi angka pengulangan tindak pidana di kalangan warga binaan.
Dengan diberikannya keterampilan produktif seperti ini, warga binaan diberi kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat, sekaligus menumbuhkan kemandirian mereka.
Dampak Positif Program Pembinaan di Lapas
Inovasi ini juga mendapat apresiasi dari Gunawan Sutrisnadi, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung.
Gunawan menilai program yang dilakukan oleh Lapas Pangkalpinang sangat mendukung program akselerasi yang telah dicanangkan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto.
"Pengiriman perdana 6 ton kompos karya warga binaan Lapas Pangkalpinang ini menjadi kebanggaan Pemasyarakatan Bangka Belitung dan diharapkan terus meningkat serta menginspirasi inovasi di Lapas lain," ungkapnya.
Gunawan juga optimis bahwa pembinaan produktif ini akan berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar. Diharapkan, sinergi yang telah terjalin antara Lapas, PLN, dan UMKM dapat terus diperkuat, terutama dalam hal peningkatan kapasitas produksi, perluasan pemasaran, serta pengembangan pelatihan berkelanjutan bagi warga binaan.
Pemanfaatan Limbah Batu Bara untuk Kebaikan Lingkungan
Salah satu alasan mengapa kompos yang dihasilkan oleh warga binaan Lapas Pangkalpinang begitu istimewa adalah bahan bakunya yang berasal dari ampas pembakaran batu bara.
Manager Unit PLTU 3 Bangka, I Gusti Ngurah Putra Astawa, menjelaskan bahwa ampas sisa pembakaran batu bara, seperti fly ash dan bottom ash, memiliki kandungan unsur hara makro yang sangat bermanfaat untuk tanah. Fly ash, misalnya, mengandung Nitrogen, Fosfor, Kalium (NPK), serta silika yang berguna untuk menetralisir kondisi tanah.
“Kami mengapresiasi kolaborasi dengan Lapas Pangkalpinang yang dinilai memberi keterampilan bagi warga binaan sekaligus menghadirkan solusi lingkungan. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut,” kata Putra Astawa, menambahkan bahwa kerja sama ini memberikan banyak manfaat, baik bagi lingkungan maupun bagi masyarakat sekitar.
Pupuk kompos yang dihasilkan ini tidak hanya memberi nilai tambah pada limbah batu bara, tetapi juga berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan.
Dengan menggunakan fly ash dan bottom ash sebagai bahan baku, pupuk ini dapat membantu memperbaiki kualitas tanah yang ada di Bangka, sekaligus memberikan dampak positif bagi sektor pertanian.
Pemberdayaan Warga Binaan Lewat Keterampilan Produktif
Program pengolahan ampas batu bara menjadi pupuk kompos juga merupakan bagian dari pemberdayaan warga binaan di Lapas Pangkalpinang.
Melalui pelatihan dan kegiatan produktif lainnya, warga binaan diberikan keterampilan yang dapat digunakan setelah mereka kembali ke masyarakat. Hal ini diharapkan dapat mengurangi angka residivisme, yaitu kembalinya seseorang ke dunia kriminal setelah menjalani hukuman.
Sugeng menegaskan bahwa keberhasilan program ini adalah hasil dari kolaborasi yang solid antara Lapas Pangkalpinang, PLN, UMKM, dan masyarakat. Selain memberikan manfaat langsung bagi pertanian di Bangka, program ini juga membuka peluang untuk mengembangkan kapasitas produksi lebih lanjut.
Ke depan, diharapkan akan ada lebih banyak inisiatif yang melibatkan warga binaan dalam proyek-proyek pemberdayaan yang produktif, memberikan dampak positif bagi mereka dan lingkungan sekitar.
Program ini juga membuktikan bahwa pembinaan di Lapas bisa jauh lebih bermanfaat dari sekadar penghukuman. Dengan pendekatan yang lebih konstruktif, warga binaan tidak hanya diharapkan untuk menyesuaikan diri kembali dengan masyarakat, tetapi juga untuk berkontribusi secara langsung melalui keterampilan yang mereka dapatkan.
Masa Depan Inovasi Pembinaan di Lapas Pangkalpinang
Keberhasilan Lapas Pangkalpinang dalam mengubah ampas batu bara menjadi pupuk kompos berkualitas ini bisa menjadi contoh bagi Lapas lainnya di Indonesia.
Dengan terus mendukung pembinaan produktif dan program pemberdayaan, diharapkan lebih banyak lagi lapas yang dapat menghasilkan inovasi serupa yang bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat.
Melalui kolaborasi antar berbagai pihak dan penerapan program yang berkelanjutan, Lapas Pangkalpinang telah membuktikan bahwa pembinaan warga binaan tidak hanya bermanfaat bagi mereka, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
Program seperti ini bisa menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih baik, baik bagi para warga binaan maupun masyarakat secara keseluruhan.