Ekspor Indonesia Februari 2026 Naik Jadi US$ 22,17 Miliar

Rabu, 01 April 2026 | 13:49:44 WIB
Ekspor Indonesia Februari 2026 Naik Jadi US$ 22,17 Miliar

JAKARTA - Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia kembali menunjukkan sinyal positif pada awal tahun 2026.

Meski kenaikannya terbilang tipis, capaian ini tetap menjadi indikator penting bahwa permintaan terhadap produk-produk Indonesia di pasar internasional masih terjaga.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 Kenaikan ini terutama ditopang oleh performa ekspor non minyak dan gas (non migas), yang masih menjadi tulang punggung perdagangan luar negeri nasional. 

Sementara itu, ekspor migas justru mengalami penurunan, sehingga memperlihatkan adanya perbedaan tren antara kedua kelompok komoditas tersebut.

Dalam konteks perekonomian nasional, pergerakan ekspor selalu menjadi salah satu indikator utama yang diperhatikan. Ekspor bukan hanya mencerminkan daya saing produk Indonesia di pasar global, tetapi juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. 

Karena itu, pertumbuhan ekspor pada Februari 2026 menjadi kabar yang cukup penting, terlebih ketika ditopang oleh sejumlah komoditas unggulan yang memiliki kontribusi besar terhadap total perdagangan.

Selain mencatat pertumbuhan bulanan secara tahunan, BPS juga memaparkan akumulasi kinerja ekspor sepanjang dua bulan pertama tahun ini. 

Hasilnya, nilai ekspor Januari hingga Februari 2026 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mengindikasikan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih bergerak dalam jalur yang positif, meskipun tantangan eksternal tetap perlu diwaspadai.

Ekspor Indonesia Februari 2026 Tumbuh Tipis Secara Tahunan

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 22,17 miliar, atau meningkat 1,01% year on year (yoy) bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 21,94 miliar.

Kenaikan sebesar 1,01% secara tahunan ini memang tergolong moderat, namun tetap menunjukkan bahwa ekspor nasional mampu bertahan di tengah situasi global yang belum sepenuhnya stabil. 

Dalam perdagangan internasional, pertumbuhan sekecil apa pun tetap memiliki arti penting, terutama ketika menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap produk Indonesia masih terjaga.

Nilai ekspor sebesar US$ 22,17 miliar juga memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih berada pada level yang solid. 

Angka ini menjadi salah satu penanda bahwa sektor eksternal masih memberi kontribusi terhadap perekonomian nasional, terutama di tengah berbagai tekanan dari pasar global, harga komoditas, dan dinamika geopolitik internasional.

Bagi pemerintah dan pelaku usaha, data ekspor seperti ini sangat penting untuk membaca arah permintaan global. Ketika ekspor tumbuh, meskipun tipis, hal itu bisa menjadi indikasi bahwa pasar internasional masih memberikan ruang bagi produk-produk unggulan Indonesia untuk tetap kompetitif.

Ekspor Non Migas Jadi Penopang Utama Kinerja Perdagangan

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan, peningkatan kinerja ekspor ini utamanya didorong oleh kinerja ekspor non minyak dan gas (migas).

Di periode tersebut, ekspor non migas Indonesia mencapai US$ 21,09 miliar atau naik 1,30% yoy dari periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 20,82 miliar.

“Secara tahunan nilai ekspor non migas tercatta sebesar US$ 21,09 miliar,” tutur Ateng.

Data ini menegaskan bahwa kelompok non migas masih menjadi penopang utama ekspor Indonesia. Dalam struktur perdagangan nasional, komoditas non migas memang selama ini memiliki porsi yang dominan dibandingkan migas. 

Karena itu, ketika sektor non migas tumbuh, dampaknya langsung terasa pada total nilai ekspor secara keseluruhan.

Kenaikan 1,30% pada ekspor non migas menunjukkan bahwa produk-produk manufaktur, komoditas olahan, serta bahan baku tertentu masih memiliki daya saing di pasar global. 

Hal ini penting karena ketergantungan terhadap sektor non migas membuat kinerja ekspor Indonesia sangat bergantung pada permintaan terhadap komoditas unggulan dan barang hasil industri.

Di sisi lain, penguatan ekspor non migas juga menjadi sinyal positif bagi upaya diversifikasi ekonomi. Ketika pertumbuhan ekspor tidak hanya bergantung pada migas, maka struktur perdagangan menjadi relatif lebih kuat dan lebih adaptif terhadap perubahan harga energi global.

Ekspor Migas Turun Di Tengah Kenaikan Total Ekspor

Sementara itu, nilai ekspor migas tercatat sebesar US$ 1,08 miliar, atau turun 4,25% yoy, dari periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 1,13 miliar.

Penurunan ekspor migas ini menunjukkan adanya tekanan pada salah satu komponen perdagangan luar negeri Indonesia. Di tengah kenaikan total ekspor, kontraksi pada sektor migas menandakan bahwa penguatan yang terjadi benar-benar lebih banyak berasal dari kelompok non migas.

Secara umum, pergerakan ekspor migas kerap dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti harga energi global, volume pengiriman, hingga permintaan dari pasar tujuan. 

Karena itu, penurunan 4,25% pada Februari 2026 menjadi catatan tersendiri dalam struktur ekspor nasional.

Meski nilainya jauh lebih kecil dibandingkan non migas, ekspor migas tetap memiliki arti penting karena menjadi salah satu komponen dalam keseluruhan neraca perdagangan. Ketika sektor ini melemah, maka sektor non migas harus bekerja lebih kuat untuk menjaga total ekspor tetap tumbuh.

Kondisi Februari 2026 memperlihatkan hal tersebut. Di saat ekspor migas turun, ekspor non migas justru mampu mengangkat total ekspor Indonesia sehingga tetap mencatat pertumbuhan secara tahunan. Ini sekaligus menegaskan pentingnya penguatan sektor non migas dalam menopang kinerja perdagangan nasional.

Komoditas Utama Dan Akumulasi Awal Tahun Masih Positif

Ateng membeberkan, nilai ekspor non migas meningkat, utamanya didorong beberapa komoditas utama. Seperti lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) naik 16,19% dengan andil 2,17% terhadap peningkatan total ekspor.

Kemudian, didorong nikel dari barang daripadanya (HS 75) naik 74,84% dengan andil 1,84%. Mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) naik 28,43% dengan andil 1,21%.

Paparan ini menunjukkan bahwa kenaikan ekspor non migas tidak terjadi secara merata, melainkan ditopang oleh beberapa kelompok komoditas utama yang mencatat pertumbuhan signifikan. 

Lemak dan minyak hewan nabati menjadi salah satu penyumbang terbesar, diikuti oleh nikel dan barang daripadanya, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Kinerja nikel yang melonjak 74,84% menjadi sorotan tersendiri karena mencerminkan kuatnya permintaan terhadap komoditas hilirisasi yang selama ini menjadi fokus pemerintah. 

Sementara itu, kenaikan pada mesin dan perlengkapan elektrik menunjukkan adanya kontribusi dari sektor manufaktur yang lebih bernilai tambah.

Adapun sepanjang Januari hingga Februari 2026, kinerja ekspor mencapai US$ 44,32 miliar, atau naik 2,19% year on year (yoy) dari periode sama tahun lalu yang mencapai US$ 43,37 miliar.

Akumulasi dua bulan pertama ini memperlihatkan bahwa tren ekspor Indonesia pada awal 2026 masih berada di jalur pertumbuhan. Dengan capaian tersebut, sektor perdagangan luar negeri masih memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional, meskipun tantangan global dan fluktuasi komoditas tetap perlu terus dicermati ke depan.

Terkini