Strategi Saham GOTO Menuju Profit, Analis Pasang Target Harga Rp110

Kamis, 30 April 2026 | 14:41:00 WIB
ILUSTRASI, Strategi Saham GOTO

JAKARTA – Saham GOTO mencetak laba perdana pada kuartal I-2026 sebesar Rp171 miliar, analis kini menetapkan target harga saham GOTO di level Rp110 per lembar.

Langkah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dalam mencapai profitabilitas membuahkan hasil positif bagi pergerakan instrumen investasinya di pasar modal. Momentum bersejarah ini terlihat dari catatan laba bersih periode berjalan yang menyentuh angka Rp171 miliar pada Maret 2026.

Pertumbuhan pendapatan bersih perusahaan meningkat sebesar 26% secara tahunan dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu. Saat ini pendapatan bersih tercatat mencapai Rp5,34 triliun, meningkat signifikan dari posisi sebelumnya senilai Rp4,23 triliun.

Kenaikan kinerja keuangan ini berdampak langsung pada apresiasi harga saham yang naik 3,77% menuju level Rp55 per lembar. Para analis memandang pencapaian ini sebagai sinyal kuat bagi investor untuk kembali melirik emiten teknologi terbesar di Indonesia tersebut.

Segmen jasa keuangan atau fintech melalui platform GoPay menjadi salah satu pilar utama di balik lonjakan performa perusahaan. Pendapatan bersih pada lini fintech terpantau melonjak hingga 58% secara tahunan menjadi sebesar Rp1,9 triliun.

Aktivitas transaksi pada aplikasi pembayaran digital ini menembus angka 2 miliar transaksi sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 84% year on year, yang didukung oleh ekspansi masif pengguna aktif bulanan.

Jumlah pengguna yang melakukan transaksi secara rutin meningkat 33% hingga kini telah mencapai total 27,5 juta orang. Di sisi lain, nilai buku pinjaman juga mengalami kenaikan 59% yang kini berada di posisi Rp9,9 triliun.

Dampak dari pertumbuhan ini membuat adjusted EBITDA pada sektor fintech berhasil menyentuh angka Rp364 miliar atau melesat 674%. Sementara itu, sektor on-demand services (ODS) memberikan kontribusi pendapatan Rp3,4 triliun dengan kenaikan sebesar 12%.

Lini ODS juga mencatatkan angka adjusted EBITDA sebesar Rp439 miliar, yang berarti tumbuh 40% dari tahun sebelumnya. Secara keseluruhan grup, adjusted EBITDA mencapai Rp907 miliar pada periode Januari hingga Maret tahun 2026 ini.

Angka capaian grup tersebut melesat hingga 131% dan dinyatakan tetap berjalan selaras dengan target yang dipasang manajemen. Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo menyebut capaian kuartal pertama mencerminkan hasil transformasi bisnis yang telah berjalan bertahun-tahun sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen perusahaan juga menegaskan bahwa struktur operasional saat ini sudah semakin efisien dan kuat untuk jangka panjang. Direktur Keuangan Grup GoTo Simon Ho menegaskan operating leverage kini semakin tertanam secara struktural dalam bisnis perseroan sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Hingga akhir tahun 2026, perusahaan tetap optimis dapat menjaga adjusted EBITDA pada rentang Rp3,2 triliun sampai Rp3,4 triliun. Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dinilai menjadi faktor krusial dalam menekan biaya layanan serta meningkatkan profitabilitas secara berkelanjutan.

Respon positif datang dari berbagai sekuritas global dan domestik yang memberikan rekomendasi beli bagi para pelaku pasar. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target Rp80, sementara Indo Premier Sekuritas memasang angka yang lebih optimis yakni Rp110.

Lembaga keuangan internasional seperti UBS dan Ciptadana turut mematok target harga pada level Rp100 per lembar saham. Bahkan, Citi dan Deutsche Bank juga memberikan penilaian optimis masing-masing pada level harga Rp80 dan juga Rp95.

Analis pasar modal Ryan Winipta melihat tren positif ini akan terus berlanjut seiring dengan penguatan jalur profitabilitas perseroan. Ryan Winipta mempertahankan rating buy dengan target harga Rp110, ditopang peningkatan EBITDA berkelanjutan dan jalur profitabilitas yang makin kuat sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Keberhasilan meraih laba bersih untuk pertama kalinya ini diprediksi akan menjadi katalis utama bagi aksi rerating saham. Dengan dukungan pertumbuhan bisnis inti yang solid, instrumen investasi ini kembali menjadi fokus utama bagi para investor ritel maupun institusi.

Terkini