Sektor Internet Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Pendapatan WIFI

Senin, 04 Mei 2026 | 12:56:09 WIB
ILUSTRASI, PT Solusi Sinergi Digital

JAKARTA – Pendapatan WIFI melonjak 238,38 persen pada kuartal I-2026 berkat ekspansi masif layanan internet Fiber to the Home yang menjadi kontributor utama perusahaan. Pencapaian luar biasa ini menunjukkan betapa kuatnya fundamental keuangan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge dalam mengawali tahun fiskal ini.

Laporan keuangan terbaru mengonfirmasi bahwa perusahaan berhasil mengantongi total pendapatan hingga menyentuh angka Rp 783,56 miliar. Nilai tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan perolehan Rp 231,56 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Struktur penerimaan perusahaan kini mengalami pergeseran signifikan seiring dengan fokus pengembangan infrastruktur jaringan digital yang lebih luas. Segmen Fiber to the Home (FTTH) tampil sebagai tenaga penggerak utama dengan menyumbang nilai sebesar Rp 435,70 miliar.

Angka kontribusi dari layanan internet rumahan tersebut mencakup sekitar 55,6 persen dari keseluruhan total pendapatan perusahaan. Selain itu, lini bisnis bandwidth juga menunjukkan performa positif dengan membukukan nilai sebesar Rp 141,21 miliar.

Pertumbuhan di sektor bandwidth tersebut setara dengan kenaikan sebesar 27,26 persen dibandingkan dengan catatan tahun sebelumnya. Sektor perdagangan besar juga mulai memberikan dampak nyata terhadap arus kas dengan kontribusi mencapai Rp 124,76 miliar.

Namun, di tengah pertumbuhan berbagai sektor unggulan, segmen periklanan justru mengalami koreksi pada kuartal pertama tahun ini. Pendapatan dari iklan terpantau turun menjadi Rp 68,75 miliar dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp 99,39 miliar pada kuartal I-2025.

Meskipun terdapat penurunan di satu sektor, kenaikan pendapatan secara keseluruhan tetap mampu mendongkrak laba bruto secara signifikan. Laba bruto perseroan tercatat meningkat 152,04 persen hingga mencapai posisi angka sebesar Rp 439,24 miliar.

Efisiensi dan skalabilitas bisnis juga terlihat dari laba usaha yang melesat 158,85 persen menjadi Rp 356,12 miliar. Performa ini jauh melampaui raihan laba usaha pada tahun lalu yang hanya berada di angka Rp 137,57 miliar.

Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat mencapai jumlah total sebesar Rp 164,50 miliar. Keuntungan bersih tersebut tumbuh 99,21 persen dari raihan Rp 82,57 miliar yang didapatkan pada periode kuartal I-2025.

Pada laporan periode ini, perseroan juga mulai mencantumkan beban amortisasi untuk biaya lisensi Fixed Wireless Access (FWA). Nilai beban lisensi tersebut tercatat sebesar Rp 111 miliar dan dimasukkan ke dalam komponen beban pokok pendapatan.

Jika beban amortisasi non-kas tersebut dikesampingkan, maka potensi laba bersih induk diperkirakan bisa mencapai Rp 275,50 miliar. Dinamika struktur permodalan saat ini bergerak selaras dengan agresivitas perusahaan dalam melakukan ekspansi infrastruktur telekomunikasi.

Akumulasi saldo laba yang terus meningkat secara konsisten ikut memperkuat posisi ekuitas yang dimiliki oleh perseroan. Efisiensi operasional tetap terjaga dengan baik meskipun perusahaan tengah gencar melakukan pembangunan jaringan FTTH di berbagai wilayah.

Laba operasional secara keseluruhan terpantau masih mampu tumbuh lebih dari 150 persen di tengah tantangan perluasan pasar. Keberhasilan dalam mengoptimalkan sektor perdagangan besar menjadi faktor tambahan yang memperkuat pilar bisnis perusahaan saat ini.

Keberhasilan Surge dalam mengamankan pertumbuhan pendapatan ini menjadi sinyal positif bagi para pemegang saham dan investor. Fokus pada konektivitas digital terbukti menjadi strategi jitu dalam meningkatkan nilai ekonomi perusahaan di masa depan.

Perusahaan diprediksi akan terus mempertahankan momentum pertumbuhan ini melalui pemanfaatan aset infrastruktur yang telah terbangun. Integrasi layanan antara bandwidth dan internet rumahan akan tetap menjadi motor utama pencapaian target keuangan tahun ini.

Dengan hasil audit dan laporan berkala yang solid, posisi tawar perusahaan di industri telekomunikasi semakin diperhitungkan. Sinergi digital yang dijalankan diharapkan mampu menjaga stabilitas margin laba di tengah persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Terkini