Capaian CIMB Niaga Bukukan Laba Konsolidasi Rp 2,3 Triliun di Awal 2026

Selasa, 05 Mei 2026 | 15:20:04 WIB
ILUSTRASI, PT Bank CIMB Niaga

JAKARTA – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) atau CIMB Niaga bukukan laba konsolidasi Rp 2,3 triliun pada kuartal I-2026 berkat pertumbuhan pendapatan komisi yang sangat solid.

Pencapaian laba tersebut merupakan hasil dari kenaikan laba sebelum pajak perusahaan yang menunjukkan tren positif pada pembukaan tahun ini. Perseroan berhasil mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp 2,3 triliun dengan nilai earning per share menyentuh angka Rp 70,20.

Pertumbuhan laba bersih tersebut mengalami kenaikan sebesar 4,5% jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Keberhasilan manajemen dalam menjaga fundamental bisnis menjadi kunci utama kesuksesan operasional pada tiga bulan pertama tahun ini.

Lani Darmawan selaku Presiden Direktur CIMB Niaga menyampaikan rasa syukurnya atas fondasi kuat yang telah diletakkan perusahaan di awal tahun. Pendapatan yang baik serta pertumbuhan fee-based income yang solid menjadi pilar utama dalam menopang kinerja perbankan tersebut.

"Kami bersyukur dapat memulai tahun 2026 dengan fondasi yang kuat, didorong oleh kinerja pendapatan yang baik, pertumbuhan fee-based income yang solid, dan fundamental bisnis yang sehat," kata Lani dalam keterangan resminya, Senin (4/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Beralih ke fungsi intermediasi, perseroan melaporkan bahwa total kredit dan pembiayaan telah tumbuh sebesar 2,2% secara year on year (yoy). Jumlah tersebut kini mencapai nilai Rp 235,1 triliun hingga akhir periode Maret atau kuartal I-2026.

Jika dilihat lebih dalam, segmen usaha kecil menengah (UKM) memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 1,2% secara tahunan. Sementara itu, sektor kredit konsumer juga menunjukkan pergerakan positif meski tipis dengan kenaikan sebesar 0,2% yoy.

Sektor ritel menunjukkan geliat yang lebih kuat terutama pada bagian Kredit Pemilikan Mobil (KPM) yang melesat hingga 4% yoy. Kenaikan ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat terhadap aset kendaraan masih cukup tinggi di tengah dinamika pasar.

Lani Darmawan juga menekankan bahwa kualitas kredit bank tetap berada pada jalur yang aman dan terkendali dengan baik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) milik perseroan dilaporkan masih berada di bawah angka rata-rata industri perbankan nasional.

Strategi manajemen risiko yang ketat membuat biaya kredit tetap bisa ditekan hingga berada di bawah level 1%. Keberhasilan menjaga efisiensi ini turut membantu posisi laba bersih perusahaan tetap terjaga secara konsolidasi.

Dari sisi penghimpunan dana, perseroan mencatatkan kinerja yang cukup impresif dalam mengumpulkan likuiditas dari masyarakat. Total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai angka Rp 260,1 triliun atau meningkat 2,3% yoy.

Kenaikan DPK ini secara spesifik didorong oleh pertumbuhan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) yang melonjak 12,2% yoy. Total dana murah yang terkumpul kini telah mencapai nilai Rp 192,3 triliun pada akhir kuartal pertama.

Prestasi ini membuat rasio CASA perseroan kini tercatat setara dengan 73,9% dari total keseluruhan dana pihak ketiga yang masuk. Angka tersebut menjadi sebuah tonggak sejarah baru karena merupakan rekor rasio CASA tertinggi yang pernah dicapai oleh CIMB Niaga.

Mengenai ketahanan modal, bank mencatatkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang sangat kuat sebesar 25,3%. Sementara itu, tingkat loan to deposit ratio (LDR) berada pada posisi 89,2% yang mencerminkan tingkat likuiditas yang cukup memadai.

Transformasi digital juga terus digeber oleh manajemen untuk mempermudah akses layanan bagi seluruh nasabah di tanah air. Tercatat sebanyak 90,6% dari total transaksi keuangan nasabah saat ini sudah beralih menggunakan kanal-kanal digital yang disediakan.

Fokus perusahaan ke depan adalah mempertahankan imbal hasil yang baik dengan dukungan permodalan yang masih sangat luas. Lani memastikan bahwa prioritas pertumbuhan akan diarahkan pada penguatan pendapatan inti dan peningkatan fee-based income.

"Ke depan, dengan kinerja imbal hasil yang tetap terjaga dan permodalan yang kuat untuk mendukung pertumbuhan di masa mendatang, kami akan terus memprioritaskan pertumbuhan fee-based income untuk memperkuat pendapatan inti, sekaligus menjaga margin yang baik melalui penguatan basis dana murah dan pendanaan yang disiplin," kata Lani sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Manajemen tetap berkomitmen untuk menjalankan disiplin pendanaan guna menjaga margin bunga bersih agar tetap berada di level yang optimal. Dengan strategi ini, CIMB Niaga bukukan laba konsolidasi Rp 2,3 triliun pada kuartal I-2026 sebagai bukti efektivitas strategi bisnis mereka.

Pertumbuhan yang berkelanjutan diharapkan dapat terus berlanjut hingga akhir tahun fiskal 2026 mendatang. Kepercayaan nasabah dan inovasi layanan digital akan tetap menjadi motor penggerak utama bagi perkembangan bisnis perseroan di masa depan.

Terkini