JAKARTA – Pertumbuhan Kredit BRI tercatat naik signifikan secara double digit diikuti dengan penurunan rasio NPL yang menjaga kualitas aset perseroan.
Kinerja keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menunjukkan performa yang sangat impresif pada periode laporan keuangan terbaru ini. Emiten berkode saham BBRI tersebut berhasil membukukan kenaikan penyaluran dana ke masyarakat dengan angka yang cukup fantastis.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa strategi ekspansi yang dijalankan perseroan tetap berjalan efektif di tengah dinamika ekonomi. Fokus pada sektor UMKM melalui penyaluran KUR menjadi mesin utama penggerak Pertumbuhan Kredit BRI hingga saat ini.
Berdasarkan data yang dirilis, total penyaluran kredit konsolidasi BRI mencapai angka yang tumbuh sebesar 10,96% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai total kredit tersebut kini telah menyentuh angka Rp1.353,36 triliun hingga akhir periode Maret 2026.
Keberhasilan ini semakin lengkap karena diiringi oleh pengelolaan manajemen risiko yang sangat ketat oleh pihak manajemen. Perseroan terbukti mampu menurunkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) secara signifikan.
Tercatat bahwa posisi NPL Gross BRI saat ini berada pada level 3,11%, angka ini menurun jika dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, NPL Net juga mengalami perbaikan ke posisi 1,08% yang menunjukkan kualitas aset dalam kondisi sangat sehat.
Direktur Utama BRI Sunarso menyatakan bahwa efisiensi dan pengelolaan aset menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis bank tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen untuk mendukung penguatan ekonomi kerakyatan melalui akses pembiayaan yang mudah.
"Hingga akhir Maret 2026, BRI berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit double digit, di mana penyaluran kredit BRI tumbuh 10,96% yoy menjadi Rp1.353,36 triliun," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Angka pertumbuhan ini berada di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional yang tercatat di kisaran angka satu digit. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih menjadi kontributor terbesar bagi portofolio pinjaman mikro yang dimiliki oleh perusahaan.
Perseroan juga melaporkan bahwa porsi kredit UMKM mencapai 83,25% dari total keseluruhan pinjaman yang diberikan kepada debitur. Capaian ini selaras dengan visi perusahaan untuk terus menjadi garda terdepan dalam pemberdayaan pelaku usaha kecil di Indonesia.
Sunarso juga menambahkan informasi penting mengenai bagaimana perusahaan menyikapi tantangan penyaluran KUR di lapangan yang cukup menantang. Pihaknya mengaku tetap optimis dapat memenuhi target pemerintah dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian perbankan.
"Penyaluran KUR tetap kami dorong untuk mendukung produktivitas masyarakat, namun kualitas kredit tetap menjadi prioritas utama kami," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, kemampuan BRI dalam memupuk Dana Pihak Ketiga (DPK) juga memperlihatkan tren yang sangat positif secara konsisten. Total DPK perseroan mengalami kenaikan sebesar 12,80% yoy menjadi Rp1.437,07 triliun dengan dominasi simpanan dana murah atau CASA.
Rasio CASA yang kuat ini memberikan keunggulan bagi BRI dalam mengelola struktur biaya dana secara lebih efisien dan kompetitif. Hal tersebut pada akhirnya memberikan ruang bagi Pertumbuhan Kredit BRI untuk terus meningkat tanpa membebani biaya operasional.
Secara keseluruhan, laporan keuangan ini memberikan sentimen positif bagi para investor dan pemangku kepentingan di pasar modal. Keberhasilan menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas aset menjadi nilai jual utama bagi saham BBRI ke depan.