Laba Bersih SMDR Anjlok 35% di Kuartal I-2026, Ini Pemicunya

Kamis, 07 Mei 2026 | 16:37:30 WIB
Ilustrasi, Kapal SAMUDRA (SMDR) Tbk (Sumber Foto : syariahsaham.id)

JAKARTA - PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) melaporkan adanya penurunan laba bersih pada periode tiga bulan pertama tahun ini, walaupun secara pendapatan masih mengalami pertumbuhan tipis. 

Berdasarkan data laporan keuangan kuartal I-2026, pendapatan SMDR dari kontrak dengan pelanggan tercatat naik 2% secara year-on-year (YoY) menjadi US$ 184,3 juta, dibandingkan posisi US$ 181,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih SMDR merosot 35% (YoY) ke angka US$ 10,13 juta dari sebelumnya US$ 15,51 juta pada kuartal I-2025.

Direktur Utama Samudera Indonesia, Bani M. Mulia mengungkapkan bahwa penurunan laba perusahaan di awal tahun ini dipicu oleh adanya penambahan armada kapal. Sebagai informasi, SMDR menargetkan pengadaan tiga kapal baru tahun ini, yang terdiri dari dua unit kapal tanker dan satu unit kapal peti kemas.

"Pendanaan kapal juga menjadi beban depresiasi. Maka bisa dilihat juga penambahan aset lebih besar dibandingkan margin yang kami hasilkan," tuturnya dalam pemaparan kinerja keuangan secara daring, pekan lalu.

Anggaran yang disiapkan untuk pembelian dua kapal tanker mencapai Rp 460 miliar, sementara untuk kapal peti kemas dialokasikan sebesar Rp 240 miliar yang bersumber dari Sukuk Ijarah Berkelanjutan 1 Samudera Indonesia.

Selain faktor armada, pergerakan freight rate atau tarif angkutan laut yang cenderung melambat pada awal tahun ini turut menekan profitabilitas. Oleh sebab itu, Bani berharap tarif angkutan tersebut dapat merangkak naik demi memperbaiki perolehan laba perusahaan di akhir tahun nanti.

Bani menjelaskan bahwa perusahaan berencana mengekspansi rute baru pada 2026 ke wilayah India, Jepang, dan Eropa. Menghadapi situasi geopolitik yang dinamis, pihaknya terus melakukan pemantauan ketat terhadap perubahan rute setiap harinya.

"Dengan begitu, seandainya ada rute yang ke depan performance-nya jelek baik dari volume maupun permintaan, maka akan disesuaikan secepat mungkin," jelasnya.

Meski demikian, Bani menegaskan bahwa sepanjang kuartal I-2026, rute-rute yang dijalankan Samudera Indonesia tidak mengalami penurunan permintaan, sehingga utilisasi kapal tetap terjaga positif.

Pihak manajemen juga tengah membidik peluang dari operasional terminal Patimban Global Gateway Terminal (PGT) yang dimulai awal 2026. 

Melalui kepemilikan saham 21%, Bani menyebut terminal tersebut mulai melayani sejumlah panggilan kapal, walaupun saat ini masih mengandalkan dua alat bongkar muat sementara berupa harbour mobile crane (HMC).

"Tentu kontribusi profitabilitas dari satu terminal baru tak akan langsung besar di tahun pertama. Karena peningkatan volume dan aktivitasnya akan secara bertahap. Apalagi, saat ini masih menggunakan alat bongkar muat yang sementara," pungkasnya.

Ke depannya, Bani menilai efisiensi produktivitas akan optimal jika crane tetap seperti shore crane atau container quay crane telah terpasang. Fasilitas tersebut diyakini akan mendongkrak kecepatan serta volume aktivitas bongkar muat di terminal anyar tersebut.

Terkini