Emiten Lippo LPKR Raup Triliunan Rupiah dengan PBV 0,20 Kali

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:11:56 WIB
Emiten Konglo (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Emiten konglomerasi Lippo, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mengalami penurunan 2,38 persen ke posisi Rp 82 pada transaksi perdagangan Jumat (8/5/2026). Satu hari sebelumnya, saham LPKR juga mengalami koreksi 1,18 persen.

Dalam rentang tiga pekan terakhir, pergerakan saham Lippo Karawaci mengalami tekanan dengan mayoritas berada di zona merah. Per 17 April 2026, harga saham LPKR masih berada di level Rp 92, sehingga harganya merosot sekitar 10 persen menuju posisi Jumat kemarin. 

Selama sepekan terakhir, tepatnya periode 2-8 Mei 2026, saham Lippo Karawaci mencatatkan jual bersih asing senilai Rp 1,44 miliar.

Ditinjau dari segi valuasi, angkanya semakin menurun dengan rasio price to book value (PBV) hanya sebesar 0,20 kali, sementara price earning ratio (PER) berada di angka 14,28 kali (TTM).

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan performa yang solid pada kuartal I-2026 walaupun kondisi makroekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan. Perusahaan berhasil memperoleh pendapatan mencapai Rp 1,80 triliun.

Di samping itu, LPKR juga meraih EBITDA senilai Rp 337 miliar. Arus kas dari kegiatan operasional juga mengalami perbaikan sebesar 20 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp 499 miliar, yang didorong oleh kenaikan penerimaan dari pelanggan. 

Perusahaan mengakhiri periode ini dengan posisi kas yang kuat senilai Rp 1,62 triliun, dengan raihan laba bersih LPKR sebesar Rp 107 miliar.

Pada sektor bisnis real estat, pra penjualan LPKR menyentuh angka Rp 1,95 triliun atau sekitar 32 persen dari target satu tahun. 

Pencapaian ini terutama dipicu oleh tingginya minat terhadap rumah tapak mulai dari segmen terjangkau hingga premium, yang memberikan kontribusi 84 persen dari keseluruhan pra penjualan.

Momentum tersebut semakin kuat dengan peluncuran beberapa proyek baru seperti Park Serpong Phase 7 dan Neo 5ense Collection di Cikarang, yang menargetkan pangsa pasar massal serta menengah.

Pada tingkat holding, penjualan residensial menjadi penyumbang utama senilai Rp 1,22 triliun, diikuti oleh penjualan unit komersial Rp 156 miliar, kavling tanah Rp 30 miliar, serta lahan pemakaman San Diego Hills senilai Rp 33 miliar.

Sektor lifestyle juga tetap terjaga stabil dengan perolehan pendapatan Rp 310 miliar, EBITDA Rp 103 miliar, serta laba bersih Rp 55 miliar. Hasil ini didukung oleh efisiensi operasional di tengah adanya tekanan permintaan. 

Rata-rata tarif kamar hotel terpantau stabil pada angka Rp 639 ribu, sedangkan jumlah kunjungan mal tumbuh 6 persen YoY menjadi 11,5 juta pengunjung setiap bulannya.

CEO LPKR John Riady menjelaskan bahwa hasil pra penjualan menggambarkan keberlanjutan momentum permintaan, khususnya pada sektor rumah tapak, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Kami senang dengan momentum penjualan yang terus berlanjut, dengan pra penjualan mencapai Rp 1,95 triliun atau 32% dari target tahunan. Permintaan masih didominasi rumah tapak, khususnya segmen terjangkau dan menengah,” tuturnya dalam keterangan pers, Senin (4/5/2026).

John juga menyampaikan bahwa perusahaan akan senantiasa fokus pada pelaksanaan proyek township serta menjaga kedisiplinan dalam pengelolaan modal maupun operasional di tengah situasi pasar yang dinamis, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Perusahaan akan terus fokus pada eksekusi proyek township serta menjaga disiplin pengelolaan modal dan operasional di tengah dinamika pasar.”

Terkini