Produksi Migas Kuartal I 2026 Pertamina Hulu Indonesia Lewati Target

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:43:15 WIB
Produksi Migas Q1-2026 Pertamina (Sumber Gambar : nasional.kompas.com)

JAKARTA – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) memberikan laporan terkait produksi minyak mentah pada kuartal I-2026 yang menyentuh angka 60,44 ribu barel per hari (mbopd) serta gas bumi di angka 619 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Realisasi dari produksi minyak PHI di kuartal I-2025 ini mencapai 120% dari target produksi tahun ini, sedangkan untuk produksi gas mencapai 105% dari target produksi tahun ini.

Sunaryanto selaku Direktur Utama PHI mengutarakan bahwa perseroan sanggup menjaga kinerja keselamatan dengan angka nihil fatalitas, mencapai 57,36 juta jam kerja selamat, serta mendapatkan nihil Lost Time Incident (LTI).

Pencapaian produksi sampai akhir Maret 2026 tersebut didapatkan melalui kontribusi anak perusahaan serta afiliasinya yang berada di wilayah Kalimantan. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ”Di PHI, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas Perusahaan yang penting dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,” tutur Sunaryanto dalam siaran pers, Kamis (14/5/2026).

Sosok yang akrab disapa Anto tersebut menyebutkan bahwa PHI juga melangsungkan kegiatan pemeliharaan, perbaikan, serta reaktivasi sumur. Upaya itu diklaim mampu menaikkan produktivitas dan memperpanjang masa pakai sumur serta lapangan migas. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, ”Penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis Perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, dan mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” ungkap Anto.

Salah satu upaya yang dijalankan anak perusahaan PHI ialah penggunaan metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). 

Teknologi serupa pun digunakan di Lapangan Mutiara dan Lapangan Pamaguan yang berada di bawah pengelolaan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Anto memaparkan, metode HPPO tersebut mengatasi kendala jenis minyak yang memiliki kadar lilin atau parafin tinggi dengan titik tuang yang lebih tinggi dibandingkan suhu operasi pipa. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Penggunaan pelarut khusus mampu menjaga minyak agar tetap cair (tidak membeku) sehingga aliran produksi berlangsung optimal dan berkelanjutan. Tak hanya itu, terobosan teknologi lainnya di PHM juga berhasil mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu,” terangnya.

Di sisi lain, PHSS mengimplementasikan metode Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) pada sumur kerja ulang di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi gas lift ini bekerja dengan menyuntikkan gas bertekanan ke pipa sumur agar minyak lebih mudah naik ke permukaan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Inovasi ini berhasil meningkatkan produktivitas sumur dan mendukung pencapaian target produksi pada triwulan I 2026. 

Akselerasi pencatatan produksi minyak turut disumbangkan oleh anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dari Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta sumur sisipan (infill) baru di lepas pantai Kalimantan Timur,” klaim Anto.

Anto menyebutkan bahwa anak usaha PHI pun melakukan reaktivasi sumur. Pada PHM contohnya, dilakukan Program Handil Rejuvenation di Lapangan Handil yang menaikkan produksi 5% dibanding sebelum program berjalan. 

Sementara produksi gas yang tinggi didukung oleh on stream platform kedua dan ketiga Proyek Sisi Nubi AOI kelolaan PHM di akhir Februari dan Maret 2026. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Kontribusi positif produksi gas juga ditopang oleh kelancaran kegiatan perawatan sumur (well service) di Lapangan Tunu (PHM), sumur workover Lapangan Santan (PHKT) dan Lapangan Nilam serta Mutiara (PHSS),” tutup Anto.

Sebagai informasi, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) adalah bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengurusi operasi dan bisnis hulu migas Regional 3 Kalimantan yang mencakup Zona 8, Zona 9, dan Zona 10.

Terkini