JAKARTA – Nilai komoditas perak global menderita tekanan hebat pada sesi perdagangan Senin (18/5/2026) seiring dengan mencuatnya kecemasan atas inflasi dunia yang dipicu oleh melambungnya harga minyak serta eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan Reuters, nilai perak spot merosot sebesar 2,2% ke angka US$ 74,30 per ons dalam sesi transaksi pagi ini.
Penurunan ini berlangsung selaras dengan pelemahan nilai emas global yang merosot ke titik paling rendah selama kurun waktu satu bulan ke belakang, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Hambatan bagi sektor logam mulia mencuat setelah aksi serangan drone menyebabkan insiden kebakaran pada kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab.
Kejadian itu memicu lonjakan pada harga minyak mentah internasional sekaligus memperdalam kekhawatiran pelaku pasar atas kenaikan inflasi global.
Situasi tersebut turut mempertebal prediksi bahwa otoritas moneter Amerika Serikat atau The Fed bakal menahan tingkat suku bunga di level tinggi untuk durasi yang lebih panjang.
Pelaku pasar saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed sebelum penutupan tahun berada di angka 50% mengacu pada data FedWatch Tool dari CME Group.
Bukan hanya aspek geopolitik, sentimen negatif pun bersumber dari langkah pemerintah India yang memperketat aturan masuk impor perak dalam hampir seluruh wujud demi menekan beban pada kurs rupee sekaligus meredam lonjakan volume impor komoditas logam mulia.
Di bagian lain, komoditas emas spot ikut terkoreksi sebesar 1,1% ke posisi US$ 4.488,99 per ons, yang menjadi catatan terendah sejak tanggal 30 Maret 2026.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk termin pengiriman Juni pun terpangkas 1,5 persen ke level US$ 4.493,30 per ons.
Melonjaknya harga minyak ditambah proyeksi bertahannya suku bunga tinggi dianggap mengikis daya pikat penempatan modal pada instrumen logam mulia, mengingat aset-aset tersebut tidak menghasilkan imbal balik seperti halnya produk investasi berbunga.
Para pelaku pasar kini juga tengah menanti publikasi notulen rapat Federal Reserve edisi April yang diagendakan keluar minggu ini guna memantau indikasi arah kebijakan finansial selanjutnya.