Sentimen Gencatan Senjata Iran dan Israel Buat Harga Emas Stabil

ILUSTRASI, Emas Batangan (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 09 Juni 2026 | 11:56:38 WIB

JAKARTA - Komoditas emas di pasar global bergerak stabil pada perdagangan hari Senin (8/6/2026) seiring berkembangnya harapan gencatan senjata antara Israel dan Iran, yang membantu memulihkan posisi logam mulia ini dari titik terendah harian.

Kendati demikian, penguatan harga emas tertahan oleh solidnya laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Data tersebut memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan.

Di akhir perdagangan, harga emas spot ditutup stagnan pada level USD4.330,06 per troy ons, setelah sebelumnya sempat merosot ke posisi terendah sejak 23 Maret saat pasar baru dibuka.

Donald Trump selaku Presiden AS menyatakan bahwa pihak Israel maupun Iran kini sama-sama menginginkan "gencatan senjata segera" dan proses diskusi akhir menuju perdamaian sedang dilangsungkan.

"Kami berhasil bangkit dari level terendah di pasar luar negeri setelah muncul kabar bahwa mungkin akan ada gencatan senjata baru antara Iran dan Israel. Berita itu sedikit mengurangi tekanan penurunan harga," ujar Wakil Presiden sekaligus Strategis Senior Logam di Zaner Metals, Peter Grant, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada prinsipnya, emas sering dijadikan sebagai aset lindung nilai di tengah gejolak geopolitik. Namun, jika kesepakatan damai berhasil dicapai, risiko inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi dapat ditekan, sekaligus mengurangi kebutuhan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi. Tingginya suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.

Sisi lain yang menahan laju kenaikan harga emas adalah keperkasaan mata uang dolar AS yang mendekati level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir. 

Penguatan mata uang AS ini terjadi setelah rilis data tenaga kerja pekan lalu melampaui estimasi, sehingga memperkuat prediksi kenaikan suku bunga acuan pada akhir tahun. 

Menguatnya dolar AS membuat komoditas yang dihargai dengan mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi para investor yang menggunakan mata uang lain.

Merujuk pada data FedWatch milik CME Group, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang mencapai 43 persen, meroket dari posisi bulan lalu yang hanya sebesar 14 persen. 

Investor kini tengah menunggu rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada hari Rabu serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Di samping itu, Citi menurunkan target harga emas jangka pendek menjadi USD4.000 per troy ons dari proyeksi sebelumnya di angka USD4.300 per troy ons. 

Langkah pemotongan target ini dipicu oleh ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi tahun ini akibat ketegangan di Selat Hormuz serta tingginya biaya energi.

Untuk pergerakan logam mulia lainnya, harga perak spot terpantau naik 0,6 persen ke level USD68,22 per ons. Sebaliknya, platinum turun sebesar 1,6 persen ke posisi USD1.747,76 per ons dan paladium melemah 1,7 persen ke level USD1.205,73 per ons.

Reporter: Gemilang Ramadhan