Wall Street Melemah Imbas Saham Teknologi dan SpaceX Turun Tiga Hari

Ilustrasi: Wall Street terkoreksi akibat tekanan pada saham teknologi dan penurunan saham SpaceX selama tiga hari berturut-turut. (Gambar: NET)
Selasa, 23 Juni 2026 | 12:09:01 WIB

NEW YORK – Mayoritas indeks saham di bursa Wall Street mencatatkan penurunan pada sesi perdagangan Senin (22/6/2026). Koreksi ini disebabkan oleh gelombang aksi jual masif yang melanda saham-saham sektor teknologi raksasa, di samping penurunan harga saham SpaceX yang telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut.

Pergerakan indeks mencatat S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,37% menuju posisi 7.472,79, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Pada saat yang sama, indeks Nasdaq Composite yang padat dengan saham teknologi merosot tajam 1,32% ke level 26.166,60, sebagaimana dilansir dari berita sumber. 

Kontras dengan kedua indeks tersebut, Dow Jones Industrial Average berhasil mempertahankan zona hijau dengan kenaikan sebesar 148,01 poin (0,29%) ke level 51.712,71, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Laju positif Dow Jones ini disokong oleh apresiasi saham Caterpillar yang melesat mendekati 4%.

Sektor teknologi menjadi penekan utama pasar, di mana saham Alphabet terpuruk 5% dipicu oleh kekhawatiran pasar atas hengkangnya sejumlah ahli di bidang kecerdasan buatan. Selanjutnya, saham Amazon terkoreksi 4,8%, Meta Platforms melemah 2,3%, serta Microsoft yang ikut turun 3%.

Perhatian utama para investor juga tertuju pada SpaceX yang kembali didera aksi jual. Saham perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk ini anjlok signifikan sebesar 16%, yang sekaligus memperpanjang tren koreksi selama tiga hari bursa secara beruntun.

Kendati sektor teknologi secara umum tertekan, beberapa saham di industri semikonduktor justru bergerak melawan arus dengan performa positif. 

Saham Micron Technology melonjak hampir 7% menjelang publikasi laporan keuangan kuartalan yang dijadwalkan pada hari Rabu waktu setempat. 

Emiten produsen chip lainnya turut menguat, seperti Advanced Micro Devices (AMD) yang naik di atas 2% dan Intel yang melesat hingga 5%. Di sisi lain, para pelaku pasar juga sedang memantau dengan cermat kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Komoditas minyak mentah dunia bergerak berbalik melemah setelah pihak mediator mengumumkan bahwa perwakilan dari Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam jangka waktu 60 hari. 

Sentimen pasar ini kian dipertegas oleh kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat yang menerbitkan izin terkait penjualan minyak Iran selama periode 60 hari tersebut. 

Akibatnya, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus melemah 3,31% dan ditutup pada level US$ 77,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menyusut 2,32% ke level US$ 74,82 per barel.

Kini, fokus perhatian para investor beralih pada perilisan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat yang dijadwalkan pada Kamis (25/6/2026). 

Data ekonomi ini dikenal sebagai indikator inflasi utama yang paling diperhatikan oleh The Fed guna menentukan arah kebijakan suku bunga mereka. Sejumlah ekonom memproyeksikan bahwa inflasi inti PCE akan menunjukkan kenaikan dibanding bulan sebelumnya. 

Menyusul hasil pertemuan The Fed yang cenderung bernada hawkish pada pekan lalu, proyeksi pasar mengenai percepatan kenaikan suku bunga kini bergeser, bahkan diperkirakan berpotensi terjadi pada Oktober mendatang.

Walaupun pasar saham saat ini sedang berada di bawah tekanan, National Investment Strategist US Bank Asset Management Group, Tom Hainlin, berpendapat bahwa prospek untuk saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar di Amerika Serikat masih tergolong menarik. 

Kondisi ekonomi Amerika Serikat dinilai masih ditopang oleh fundamental yang kuat, seperti pasar tenaga kerja yang solid, tingkat kepercayaan konsumen yang terjaga, serta aktivitas korporasi yang tetap ekspansif.

"Selama konsumen masih memperoleh pendapatan dan yakin terhadap pekerjaannya sehingga tetap berbelanja, serta perusahaan masih melihat ekonomi dalam kondisi baik dan terus melakukan ekspansi, maka kondisi tersebut masih menjadi fondasi yang cukup positif bagi pasar," ujar Hainlin sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan