Wall Street Jatuh Berjemaah akibat Aksi Jual Saham Teknologi

Ilustrasi: Indeks Wall Street ditutup melemah akibat aksi jual saham teknologi yang meluas. (Gambar: NET)
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:47:30 WIB

JAKARTA – Indeks bursa saham Wall Street di Amerika Serikat berakhir melemah pada penutupan perdagangan Selasa (23/6) akibat berlanjutnya aksi jual saham sektor teknologi dari sesi terdahulu. Sentimen negatif ini turut berimbas ke pasar saham Asia, khususnya menekan saham produsen cip memori secara signifikan.

Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,44 persen menuju level 7.365,46, sementara Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi merosot 2,21 persen ke posisi 25.587,04. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average terkoreksi tipis 45,87 poin atau 0,09 persen menjadi 51.666,84.

Manajer portofolio senior di Morgan Stanley Investment Management, Andrew Slimmon, menilai aksi jual tersebut merupakan bentuk koreksi yang wajar. Menurut Slimmon, valuasi saham saat ini sebenarnya tidak mahal, tetapi kepemilikannya sudah terlampau padat karena menjadi buruan para investor yang mengejar momentum.

“Ketika itu terjadi, koreksi tajam seperti sekarang tidak bisa dihindari. Saya justru melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang sehat," ujar Slimmon, dikutip dari CNBC, Rabu (24/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Penurunan indeks utama sempat tertahan setelah beberapa saham teknologi di luar sektor semikonduktor, seperti Microsoft dan Amazon, bergerak naik. Saham-saham sektor defensif seperti Walmart, Procter & Gamble, serta Johnson & Johnson pun membukukan kenaikan.

Selain itu, saham IBM melonjak 5 persen menyusul langkah JPMorgan yang menaikkan rekomendasinya menjadi overweight. Saham Sherwin-Williams dan Merck juga berhasil menyudahi perdagangan di zona hijau.

Pada sesi perdagangan Senin, Nasdaq tercatat sudah kehilangan sekitar 1,3 persen akibat tertekan oleh pelemahan saham Alphabet. Dampak dari gelombang aksi jual ini kemudian merembet ke pasar global, dengan indeks Kospi di Korea Selatan memimpin pelemahan di wilayah Asia.

Saham SK Hynix, produsen cip memori yang menjadi salah satu penopang reli kecerdasan buatan di Korea Selatan, jatuh lebih dari 12 persen. Indeks acuan Korea Selatan, yang masih mencatatkan pertumbuhan sekitar 95 persen sepanjang tahun ini, merosot hampir 10 persen.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 3,55 persen sekaligus menghentikan tren reli yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut. Di pasar Amerika Serikat, saham Micron Technology turut tertekan dan anjlok sebesar 13 persen.

Saham Sandisk juga merosot 13 persen, sedangkan produsen komponen penyimpanan data Seagate Technology melemah lebih dari 5 persen. Saham Intel terkoreksi 6 persen, sementara Advanced Micro Devices (AMD) serta Qualcomm masing-masing turun hampir 6 persen dan 8 persen.

ETF sektor teknologi State Street Technology Select Sector SPDR (XLK) turun sebesar 4 persen, sedangkan VanEck Semiconductor ETF (SMH) merosot 7 persen. Di sisi lain, saham SpaceX berhasil menguat sekitar 1 persen.

Saham Alphabet melanjutkan tren penurunan dengan melemah 1 persen setelah pada hari sebelumnya sempat anjlok 5 persen. Kemerosotan ini disebabkan oleh kekhawatiran para investor terkait hengkangnya sejumlah talenta penting di bidang kecerdasan buatan dari perusahaan tersebut.

Reporter: Gemilang Ramadhan