Pasar Volatil Delapan Perusahaan Bersiap IPO di Bursa Efek

ILUSTRASI, Delapan perusahaan bersiap melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia meski pasar saham sedang volatil. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 29 Juni 2026 | 12:43:03 WIB

JAKARTA – Geliat korporasi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau tetap tinggi di tengah situasi pasar saham yang sedang mengalami fluktuasi. Sampai dengan penghujung Juni 2026, dilaporkan terdapat delapan perusahaan yang masuk dalam daftar antrean untuk menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa kedelapan calon emiten itu kini masih diproses dalam pipeline pencatatan saham. “Dari delapan perusahaan tersebut, satu merupakan perusahaan dengan aset skala kecil, satu perusahaan aset skala menengah, dan enam perusahaan aset skala besar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila ditinjau dari sektor usahanya, pipeline IPO kali ini paling banyak diisi oleh empat perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Di samping itu, ada dua perusahaan dari sektor barang konsumsi primer, satu dari sektor barang konsumsi nonprimer, serta satu dari sektor infrastruktur.

Hingga kurun waktu ini, belum ada satu pun calon emiten baru yang datang dari sektor bahan baku, energi, finansial, industri, maupun properti dan real estat. Secara kumulatif, BEI mencatat realisasi penggalangan dana di pasar modal sepanjang tahun 2026 telah menembus angka Rp 80,28 triliun.

Jumlah tersebut dihimpun melalui skema penawaran umum perdana saham, peluncuran efek bersifat utang dan sukuk, serta aksi korporasi rights issue. Perolehan dana dari sektor IPO sepanjang tahun ini dilaporkan baru menyentuh angka Rp 300 miliar.

Di sisi lain, instrumen efek bersifat utang dan sukuk menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar Rp 76,09 triliun, yang berasal dari 71 emisi oleh 43 penerbit. Sementara itu, aktivitas penghimpunan dana lewat rights issue mendulang Rp 3,89 triliun dari empat emiten tercatat hingga posisi 26 Juni 2026.

Merujuk pada data e-IPO BEI, saat ini ada enam korporasi yang tengah berada dalam periode penawaran umum perdana saham. Perusahaan-perusahaan tersebut meliputi PT Niramas Utama Tbk, PT Prodia Diagnostic Line Tbk, PT Esa Medika Mandiri Tbk, PT Nitrasanata Dharma Tbk, PT Bach Multi Global Tbk, dan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk.

Gabungan dari keenam emiten tersebut diproyeksikan dapat menyerap dana segar berkisar Rp 2,14 triliun. PT Nitrasanata Dharma Tbk mengincar perolehan dana paling besar yakni di kisaran Rp 683 miliar, yang kemudian diikuti oleh target perolehan perusahaan lain dengan angka yang beragam.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, berpandangan bahwa langkah keenam korporasi untuk tetap masuk ke bursa di tengah situasi pasar yang bergejolak sudah sangat tepat. Kebijakan ini didukung oleh mulai meredanya tekanan pada harga minyak dunia, yang secara perlahan membuat situasi pasar kembali kondusif.

“Hal yang menjadi pertimbangan adalah kondisi pasar yang setidaknya mulai stabil, sehingga emiten dapat mengambil momentum potensi pembalikan arah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Faris pun menguraikan bahwa daya tarik investor pada saham-saham IPO tidak sekadar bersandar pada pergerakan IHSG atau kondisi fundamental internal perusahaan saja. Aspek krusial yang senantiasa dicermati oleh pemodal adalah rekam jejak dari penjamin emisi serta transparansi pemanfaatan dana segar hasil IPO tersebut.

“Melihat behavior investor saat ini yang biasa, terlihat mayoritas orang lebih memilih saham IPO dari sisi kredibilitas underwriter dan peruntukan alokasi dana IPO. Sehingga, kondisi pasar dan valuasi yang cenderung premium sering kali tereduksi,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan