Rupiah Berpotensi Melemah akibat Sentimen Manufaktur dan Global

ILUSTRASI, Rupiah diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat akibat sentimen manufaktur dan kondisi global. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:07:47 WIB

JAKARTA - Mata uang rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026), akibat kuatnya pengaruh sentimen dari pasar internasional maupun domestik. Penurunan performa sektor manufaktur, kian tingginya kekhawatiran atas situasi ekonomi dalam negeri, hingga sikap menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat diproyeksikan bakal membebani posisi mata uang Garuda.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.990 sampai Rp18.050 per dolar AS pada sesi perdagangan hari ini. 

Pada hari sebelumnya, rupiah menyudahi perdagangan dengan pelemahan ke posisi Rp17.995 per dolar AS pada Kamis (2/7/2026). Penurunan nilai rupiah ini sejalan dengan dinamika mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga sedang tertekan.

Bersandarkan data RTI Infokom, yuan China tercatat menguat 0,06%, yen Jepang naik 0,84%, won Korea Selatan terapresiasi 0,69%, dolar Singapura menanjak 0,20%, dan baht Thailand melaju positif 0,09%. Di sudut lain, dolar Hong Kong melemah sebesar 0,01% dan dolar Taiwan terkoreksi 0,07%.

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen dari luar negeri masih dipengaruhi oleh jalannya proses negosiasi antara pihak Amerika Serikat dan Iran. Otoritas Qatar menyampaikan bahwa kedua belah pihak menorehkan perkembangan positif dalam diskusi tidak resmi yang bertempat di Doha berkaitan dengan aspek keamanan di Selat Hormuz serta pencairan dana milik Iran.

Menurut pandangannya, para pelaku pasar pun tetap memperhatikan arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. 

Para investor saat ini memperkirakan probabilitas terjadinya kenaikan suku bunga acuan pada rapat September esok menyentuh angka 67% mengacu pada indikator CME FedWatch Tool.

Ditinjau dari rilis data ekonomi AS, laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP memperlihatkan adanya penambahan jumlah pekerja di sektor swasta sebanyak 98.000 selama Juni, atau lebih rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi pasar yang mematok angka 113.000. 

Di saat bersamaan, Purchasing Managers' Index (PMI) untuk sektor manufaktur ISM melorot ke posisi 53,3 dari posisi sebelumnya di level 54,0. 

Atensi para pemodal kini terarah pada peluncuran data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang diestimasikan menampilkan tambahan tenaga kerja sebesar 110.000 orang sepanjang Juni. Sementara untuk tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan pada level 4,3%.

Dari aspek domestik, Ibrahim memberikan penilaian bahwa tingkat kepercayaan para pelaku pasar terhadap Indonesia tengah dihantam ujian setelah mencuatnya berbagai sentimen negatif belakangan ini. 

Persoalan tersebut mulai dari skandal korupsi dalam skala masif, meningkatnya kecemasan terhadap situasi fiskal pemerintah pasca neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit pada Mei, tren lonjakan inflasi, hingga adanya penundaan pengumuman terkait pasar modal Indonesia oleh pihak penyedia indeks global MSCI.

Tekanan tambahan juga bersumber dari lini manufaktur. Data keluaran S&P Global memperlihatkan indeks PMI manufaktur Indonesia merosot menuju level 46,9 pada Juni 2026. 

Capaian tersebut menjadi area kontraksi paling dalam selama satu tahun terakhir, yang dipicu oleh menurunnya jumlah pesanan baru hingga berdampak pada penurunan output paling masif sejak April 2025.

Bukan hanya itu, lembaga Fitch Ratings memproyeksikan persediaan cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 ini cuma akan mampu membiayai sekitar 4,9 bulan dari kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, berada sedikit di bawah angka median negara-negara dengan peringkat BBB yang rata-rata sanggup mencapai lima bulan.

Menurut penilaian Fitch, menyusutnya cadangan devisa ini disebabkan oleh memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi di tingkat global, langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing guna mengamankan stabilitas rupiah, serta aktivitas pembayaran utang luar negeri.

Reporter: Gemilang Ramadhan