Harga CPO Kembali Merosot Akibat Permintaan India yang Menurun

ILUSTRASI, Harga CPO di Bursa Malaysia kembali turun akibat menurunnya permintaan dari India. (Sumber Gambar : Net)
Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:33:30 WIB

JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatatkan penurunan kembali pada Jumat (3/7/2026), yang sekaligus menjadikan tren pelemahan berlangsung selama dua pekan berturut-turut.

Kondisi tersebut terjadi akibat menguatnya mata uang ringgit serta penurunan nilai minyak nabati di Bursa Dalian, China, yang akhirnya menekan sentimen pasar. 

Berdasarkan data BMD pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Juli 2026 terpangkas 6 Ringgit Malaysia menjadi 4.439 Ringgit Malaysia per ton. 

Untuk kontrak berjangka CPO periode Agustus 2026, nilainya merosot 20 Ringgit Malaysia ke posisi 4.458 Ringgit Malaysia per ton.

Selanjutnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber, kontrak berjangka CPO untuk September 2026 mengalami koreksi sebesar 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.480 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, untuk kontrak berjangka CPO Oktober 2026 mengalami penurunan tajam sebesar 27 Ringgit Malaysia ke level 4.505 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak berjangka CPO November 2026 terpangkas 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.533 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan untuk kontrak berjangka CPO Desember 2026 melemah 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.559 Ringgit Malaysia per ton.

Menurut laporan dari Tradingview, aktivitas perdagangan cenderung terbatas karena pasar Chicago ditutup sehubungan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS). 

Pelaku pasar bersikap hati-hati sambil menantikan rilis data penting mengenai suplai dan permintaan minyak nabati yang akan keluar pekan depan. Secara mingguan, harga jual CPO diproyeksikan turun sekitar 1,5 persen, yang menandai kemerosotan selama dua minggu berturut-turut.

Faktor utama yang menekan harga adalah berkurangnya permintaan dari India, yang merupakan negara pengimpor minyak kelapa sawit terbesar dunia. 

Laporan mencatat bahwa volume impor minyak sawit India pada Juni menyentuh titik terendah dalam 14 bulan terakhir. Penurunan ini disebabkan oleh lemahnya penyerapan pasar domestik India serta menipisnya selisih harga antara CPO dan minyak nabati pesaing, sehingga mengurangi minat beli.

Walaupun demikian, tekanan harga CPO tertahan oleh penguatan harga minyak mentah dunia yang meningkatkan daya saing biodiesel berbasis sawit, serta membaiknya permintaan ekspor. 

Data dari lembaga survei kargo menunjukkan volume ekspor minyak sawit Malaysia periode 1–25 Juni meningkat antara 10,6 persen hingga 11,1 persen dibandingkan periode yang sama di bulan Mei.

Sentimen positif lain muncul dari Indonesia melalui implementasi program mandatori biodiesel B50 yang resmi berlaku sejak 1 Juli 2026. 

Regulasi ini diharapkan meningkatkan penggunaan minyak sawit di pasar domestik, sehingga memperkuat prospek permintaan global untuk jangka menengah. 

Meskipun masih tertekan jangka pendek oleh penurunan serapan dari pasar India, pasar tetap memantau peluang kenaikan konsumsi dari industri biodiesel serta pemulihan kinerja ekspor sebagai penopang harga CPO di masa depan.

Reporter: Gemilang Ramadhan