Saham PRDL Oversubscribed 709 Kali Saat Pasar Volatil

ILUSTRASI, Saham PRDL mencatat oversubscribed hingga 709 kali meski pasar sedang volatil. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 10 Juli 2026 | 10:47:46 WIB

JAKARTA – Instruksi langsung dari pendiri Prodia Group, Andi Wijaya (90), mendorong manajemen PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL) atau Proline untuk mempercepat seluruh rangkaian persiapan melantai di bursa hanya dalam waktu 6 bulan saja.

Direktur Utama Prodia Diagnostic Line Cristina Sandjaja membeberkan bahwa proses penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) PRDL bergulir secara mendadak usai dirinya mendapatkan arahan khusus pada awal tahun ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Cristina Sandjaja mengungkapkan, "Pak Andi baru memberikan arahan ke saya pada 16 Januari 2026. Beliau meminta perusahaan untuk IPO tahun ini. Saya sempat menawar agar ditunda tahun depan, tetapi beliau menegaskan harus tahun ini selagi beliau masih ada."

Menerima instruksi tersebut, Cristina segera bergerak cepat untuk berkoordinasi dengan tim internalnya. 

Cukup dalam kurun waktu dua minggu setelah perintah itu didelegasikan, perseroan langsung menunjuk penjamin emisi efek (underwriter) serta menyelenggarakan rapat perdana bersama segenap profesi penunjang pasar modal pada 25 Januari 2026.

Akselerasi kinerja ini membuahkan hasil berupa rampungnya draf prospektus pertama dalam waktu dua bulan. Pihak manajemen pun mengakui bahwa seluruh tim harus merelakan waktu istirahat mereka dan bekerja tanpa lelah guna mengejar target legalitas serta pemenuhan aspek keuangan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Cristina mengenang, "Perjalanan Proline dalam mempersiapkan IPO ini selama 6 bulan sangat luar biasa. Kami bekerja tanpa henti, siang dan malam, bahkan sering kali hingga subuh. Hari Sabtu dan Minggu tidak pernah terlewat untuk koordinasi."

Upaya meluncurkan PRDL ke pasar perdana menjadi semakin menantang lantaran kondisi pasar modal di sepanjang paruh pertama tahun 2026 sedang dihadapkan pada volatilitas yang tinggi. 

Di samping faktor makroekonomi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pihak bursa juga menerapkan proses penyaringan yang jauh lebih ketat terhadap para calon emiten baru.

Perseroan juga harus menghadapi dinamika dalam pemenuhan regulasi, termasuk penyesuaian ketentuan batas minimum saham publik (free float) yang sempat ramai diperbincangkan akibat adanya evaluasi pada indeks global MSCI. 

Kendati demikian, seluruh hambatan tersebut berhasil diselesaikan dengan baik hingga perseroan memperoleh pernyataan efektif.

Segala kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang manis. Walaupun pasar dalam kondisi fluktuatif, saham PRDL justru mengukir prestasi dengan mengalami oversubscribed hingga 709 kali pada porsi penjatahan terpusat. 

Manajemen mencatat bahwa tingginya minat pemesanan dari investor ritel domestik ini merupakan salah satu rekor tertinggi dalam sejarah IPO di tanah air.

Cristina menekankan bahwa capaian ini menjadi bukti nyata bahwa pasar saham di Indonesia masih sangat bergairah dan mendambakan instrumen investasi baru, khususnya pada emiten yang menunjukkan fundamental kuat serta konsistensi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dalam tiga tahun terakhir.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Cristina memungkasi, "Oleh karena itu, seleksi ketat dari regulator sebenarnya membuat investor di Indonesia bisa lebih lega karena perusahaan yang berhasil lolos IPO dipastikan sudah tersaring dengan sangat baik."

Reporter: Gemilang Ramadhan