Prospek Emiten Nikel Indonesia Tetap Positif Meski Ekspor Menyusut

Ilustrasi Ekspor nikel Indonesia turun 12,14% pada semester I-2026, namun nilai ekspor naik 69,30% karena harga global tinggi. (sumber foto: NET)
Penulis: Ibtihal
Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:18:38 WIB

JAKARTA — Prospek emiten nikel Indonesia masih positif meski volume ekspor menyusut pada semester I-2026. Data BPS menunjukkan ekspor produk nikel turun 12,14% yoy menjadi 1,06 juta ton, namun nilainya melonjak 69,30% yoy ke US$6,54 miliar berkat harga nikel global yang tetap tinggi di US$16.954 per ton (+10,63% yoy).

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai tingginya harga jual komoditas menjadi faktor utama yang memengaruhi penurunan volume ekspor.

 Sementara itu, Kadin Indonesia memperkirakan potensi kehilangan nilai ekspor nikel nasional mencapai US$3,5–5 miliar tahun ini akibat ketidaksesuaian kuota produksi, kenaikan royalti IUP ke 14–19%, serta keterbatasan bahan baku sulfur di smelter HPAL.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menegaskan penurunan volume ekspor tidak otomatis melemahkan kinerja emiten. 

“Penurunan volume ekspor dapat sebagian atau bahkan sepenuhnya terkompensasi oleh kenaikan harga jual,” ujarnya. sebagaimana dilansir dari berita sumber.

 Namun, risiko akan lebih besar jika penurunan volume terjadi bersamaan dengan pelemahan harga nikel.

Untuk menghadapi perlambatan ekspor, emiten nikel perlu mempercepat hilirisasi ke produk bernilai tambah seperti MHP dan nikel sulfat. Optimalisasi kuota RKAB serta diversifikasi komoditas di luar nikel juga menjadi langkah penting.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai memiliki prospek cerah dengan target RKAB produksi bijih nikel 18,1 juta wmt pada 2026, naik dari realisasi 16,11 juta wmt tahun sebelumnya. Harga jual rata-rata bijih nikel ANTM meningkat 50% yoy, sementara diversifikasi bisnis ke emas menjadi penopang tambahan. Abida merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp4.900 per saham.

Reporter: Ibtihal