Harga Minyak Turun, Prospek Naik hingga Akhir 2026 Masih Terbuka
JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali mengalami penurunan pada sesi perdagangan Jumat (28/8/2026). Penurunan ini terjadi usai harga sempat terangkat akibat tingginya risiko pasokan energi dunia akibat memanasnya suhu geopolitik di beberapa daerah.
Mengutip data Trading Economics pada Jumat (28/8/2026) pukul 14.53 WIB, harga minyak WTI berada di posisi US$ 82,89 per barel, atau melemah 0,76% secara harian dan menyusut 4,82% dalam sepekan. Di waktu bersamaan, harga Brent terkikis 0,61% harian serta merosot 6,80% mingguan ke level US$ 87,98 per barel.
Kendati sedang terkoreksi, pergerakan harga minyak mentah WTI tetap mencatatkan lonjakan sekitar 44% sejak awal tahun.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menilai harga minyak tetap menyimpan peluang untuk bergerak naik hingga penutupan tahun 2026, walaupun volatilitasnya tergolong tinggi.
"Minyak masih memiliki prospek bullish tetapi volatilitasnya jauh lebih tinggi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia berpendapat bahwa penurunan harga yang berlangsung saat ini tidak serta-merta menghapus potensi reli minyak. Ancaman terhadap pasokan global masih menjadi pemicu utama yang sanggup melambungkan kembali harga minyak.
Brahmantya menambahkan bahwa Selat Hormuz menjadi area paling rawan bagi pasar komoditas ini. Potensi hambatan di jalur distribusi vital tersebut dapat memicu kecemasan pasar atas ketersediaan pasokan energi sekaligus memacu lonjakan harga.
Menurutnya, memanasnya perselisihan Rusia-Ukraina turut berpeluang memperbesar premi geopolitik terhadap pergerakan minyak. Meski demikian, potensi gangguan di Selat Hormuz dinilai berdampak lebih signifikan terhadap lonjakan harga Brent.
"Kalau berbicara risiko lonjakan Brent kembali ke atas US$ 100, Hormuz masih menjadi katalis yang lebih besar," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping itu, kondisi stok minyak komersial Amerika Serikat (AS) masih menyokong pergerakan harga. Brahmantya memperkirakan cadangan minyak AS bakal konsisten berada di bawah garis rata-rata lima tahun sampai akhir 2026.
Dari sisi konsumsi, porsi impor minyak China yang menyusut menjadi penahan laju kenaikan harga.
"China sekarang justru menjadi faktor pembatas kenaikan. Lemahnya demand China membantu menahan kenaikan harga meskipun pasokan Timur Tengah terganggu," sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Kendati demikian, Brahmantya tetap mempertahankan estimasi harga minyak pada sisa tahun 2026. Proyeksi harga WTI dipatok pada rentang US$ 90-US$ 100 per barel, sementara Brent diperkirakan bergerak di kisaran US$ 95-US$ 110 per barel.