INSIDERINDONESIA.COM — Denpasar—Pernah bayangin liburan ke Ubud, bangun pagi, lalu jalan ke pasar tradisional buat beli bumbu dan sayur segar, pulang ke villa, dan masak sendiri buat sarapan? Tren ini bukan lagi iseng belaka. Ketua PHRI Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati, atau yang akrab disapa Cok Ace, menyebut pergeseran perilaku wisatawan ini kian terlihat, terutama di kawasan seperti Ubud dan Kintamani.
Malas Masak di Vila? Itu Tren Baru Wisatawan
“Urusan makan dan minum bukan urusan isi perut saja. Sekarang yang lebih menonjol lagi adalah experience. Kuliner sudah menjadi bagian pengalaman yang autentik bagi wisatawan untuk mengetahui cita rasa dan budaya satu daerah,” jelas Cok Ace di sela pembukaan Bali Interfood 2026, Senin (31/8) di Denpasar.
Fenomena ini menarik karena mengubah cara pandang pariwisata Bali. Kalau sebelumnya wisatawan datang untuk sekadar menikmati hidangan di restoran, sekarang mereka ingin terlibat langsung. Dari membeli bahan baku sendiri, mencoba resep lokal, sampai menciptakan menu sesuai selera mereka di dapur villa.
Kaya Rasa, Tapi Baru Sate Lilit yang Dikenal
Padahal, potensi gastronomi Bali itu luar biasa besar. Cok Ace sedikit menyayangkan, kekayaan produk pangan lokal belum tergarap maksimal. Ia bahkan mengaku iri dengan daerah lain yang mampu mengangkat kuliner khasnya ke panggung dunia.
“Bali begitu kaya produk makanan lokal, tapi yang baru muncul sekarang baru satu saja, sate lilit, yang lain-lainnya belum ada. Sementara China atau Italia sudah sangat dikenal lewat makanan khasnya,” ujarnya.
Ini jadi catatan penting. Ada banyak bumbu, rempah, dan bahan pangan lokal yang bisa diolah jadi sajian dengan "nilai jual" berbeda. Namun, tanpa inovasi dan eksplorasi, semuanya hanya akan jadi bahan mentah yang terlupakan.
Bali Interfood: Panggung untuk Mengangkat Kuliner Lokal
Harapan itu coba dijawab lewat ajang pameran industri makanan dan minuman, Bali Interfood 2026 yang berlangsung 2–4 September di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Event yang diikuti 110 peserta, termasuk 35 UMKM dari delapan negara (Indonesia, China, Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Jepang, dan Prancis) ini menargetkan 15.000 pengunjung.
Cok Ace menilai pameran ini bukan sekadar ajang pamer produk. Bagi para pelaku usaha kuliner, ini adalah ruang strategis untuk memperkuat jejaring bisnis perhotelan dan restoran, sekaligus meningkatkan kreativitas. “Ini ruang bagi pengusaha untuk memperkokoh daya saing,” tambahnya.
Sementara itu, CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan potensi besar yang dimiliki Bali. “Bali memiliki potensi besar karena pariwisata, hotel, restoran, dan usaha makanan minuman berkembang bersamaan,” katanya. Lewat ajang ini, pelaku usaha bisa memperkenalkan produk, bertemu calon mitra bisnis, dan menyerap informasi terbaru industri.
Dengan okupansi hotel di angka 60–65 persen pada bulan yang sama dengan tahun lalu, tren kuliner ini dianggap sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk menarik lebih banyak wisatawan. Jadi, bukan cuma soal kopi susu di kafe, tapi juga soal siapa yang berani lebih dulu menampilkan rasa autentik Indonesia di meja makan dunia.