Saham SQMI Naik 33,33 Persen Usai Isu Mundur Dirut
JAKARTA — PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) menjadi sorotan setelah Direktur Utama Oktavia Budi Raharjo mengajukan pengunduran diri pada 31 Agustus 2026.
Keputusan atas pengunduran diri tersebut akan dibahas dalam RUPST yang dijadwalkan pada 4 September 2026.
SQMI menegaskan bahwa pengunduran diri tidak berdampak pada operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha.
Status pengunduran diri masih menunggu keputusan resmi pemegang saham dalam RUPST.
Pergantian pucuk pimpinan menjadi perhatian investor karena SQMI tengah mengembangkan bisnis pertambangan emas.
SQMI menyatakan pengunduran diri tidak memengaruhi operasional maupun kondisi keuangan perusahaan.
Wilton Resources Holding Pte Ltd tetap menjadi pengendali dengan kepemilikan sekitar 53,50% setelah menambah 160 juta saham pada Juli 2026.
Saat ini saham SQMI naik ke Rp84 per saham, meningkat 33,33 persen atau 21 poin pada sesi pertama Selasa (1 September 2026).
PT Wilton Makmur Indonesia Tbk bergerak di sektor pertambangan emas, sebelumnya bernama PT Renuka Coalindo Tbk.
Aset utama perseroan adalah Ciemas Gold Project di Sukabumi dengan luas konsesi 3.078,5 hektare dan izin operasi produksi berlaku hingga 7 September 2030.
Lini bisnis SQMI meliputi:
- Eksplorasi emas
- Penambangan emas
- Pengolahan dan produksi dore emas
Ciemas Gold Project memiliki estimasi cadangan bijih sekitar 3,26 juta ton dengan kadar rata-rata 7,7 gram emas per ton.
Estimasi sumber daya mencakup 3,415 juta ton measured & indicated serta 2,559 juta ton inferred.
Susunan Direksi SQMI:
- Oktavia Budi Raharjo (Proses Pengunduran Diri) – Direktur Utama
- Andrianto Darmasaputra Lawrence – Direktur
- Chia Wei Yang (Ethan) – Direktur
Susunan Komisaris SQMI:
- Wijaya Lawrence – Komisaris Utama
- Mohammad Raylan – Komisaris
Kinerja keuangan semester I 2026 menunjukkan pendapatan Rp591,04 juta, turun dari Rp925,58 juta pada periode sama tahun sebelumnya.
Laba bruto turun menjadi Rp406,04 juta dari Rp439,28 juta pada semester I 2025.
Beban usaha berhasil ditekan dari Rp33,21 miliar menjadi Rp13,52 miliar.
Rugi usaha turun dari Rp32,77 miliar menjadi Rp13,11 miliar.
Rugi sebelum pajak turun dari Rp38,69 miliar menjadi Rp17,08 miliar.
Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik turun dari Rp41,48 miliar menjadi Rp20,36 miliar.
Pada kuartal I 2026, pendapatan Rp302,45 juta dengan rugi bersih Rp11,88 miliar.
Kuartal II 2026 mencatat pendapatan Rp288,59 juta dengan rugi bersih Rp8,49 miliar.
Total aset per 30 Juni 2026 sekitar Rp512,32 miliar, turun dari Rp513,14 miliar akhir 2025.
Total liabilitas meningkat menjadi Rp422,30 miliar dari Rp402,45 miliar pada 31 Desember 2025.
Meskipun kerugian berhasil ditekan, posisi keuangan SQMI tetap perlu dicermati karena liabilitas meningkat saat perusahaan masih mencatat rugi bersih.