Inflasi dan Rupiah Jadi Sentimen Penggerak IHSG
JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat terbatas pada perdagangan awal September 2026. Sebelumnya, IHSG menutup Agustus dengan naik 0,11 persen ke level 6.525,48.
Sepanjang Agustus 2026, IHSG tercatat menguat 4,64 persen secara bulanan. Namun sejak awal tahun, IHSG masih terkoreksi 24,53 persen.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pergerakan IHSG akan dipengaruhi beberapa sentimen, seperti rilis data inflasi dan PMI manufaktur Indonesia periode Agustus 2026.
Konsensus memproyeksikan inflasi Indonesia pada Agustus 2026 di level 2,86 persen YoY. Sementara PMI manufaktur diperkirakan tetap di zona ekspansif di level 50,5.
“Sehingga hal ini akan cenderung direspon moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan materil,” jelas Audi, Senin (31 Agustus 2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain itu, pergerakan IHSG juga dipengaruhi stabilitas rupiah seiring pelemahan DXY. Pasar dinilai akan merespon positif jika tren ini berlanjut.
Rupiah di pasar spot ditutup Rp17.722 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (31 Agustus 2026). Kurs Jisdor Bank Indonesia berada di level Rp17.746 per dolar AS.
“Di sisi lain, kenaikan harga minyak pasca serangan militer AS dengan target rocket launcher dan menjadikan serangan pertama lebih dari sebulan terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran pasar,” jelas Audi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dengan support di 6.428 dan resistance di 6.585. Indikator MACD menunjukkan tren melandai.
Untuk perdagangan hari ini (1 September 2026), Kiwoom Sekuritas merekomendasikan:
- Speculative buy MEDC dengan support Rp1.340 dan resistance Rp1.545
- Trading buy ESSA dengan area support Rp610 dan resistance Rp720