Indeks Harga Pangan FAO Melonjak Akibat Cuaca Ekstrem dan Konflik
JAKARTA – Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB mengumumkan lonjakan harga komoditas pangan dunia pada Jumat (4/9/2026). Kenaikan harga bahan pokok global ini mencapai titik tertinggi dalam kurun waktu hampir empat tahun terakhir.
Anomali cuaca ekstrem di wilayah produsen utama serta gangguan geopolitik pada rantai pasokan global menjadi penyebab utamanya. Keadaan ini kembali mengancam stabilitas pasokan bahan pangan di berbagai negara konsumen.
Indeks Harga Pangan FAO berada di rata-rata 133,3 poin pada Agustus 2026, meningkat 1,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak November 2022 yang disebabkan oleh kenaikan harga serentak pada seluruh kelompok komoditas utama.
Selain itu, indeks harga sereal ikut naik 2,2 persen menjadi 116,3 poin yang terdorong oleh melonjaknya harga gandum dan jagung.
“Kenaikan harga pangan global pada Agustus menjadi peringatan bahwa risiko pasar komoditas kembali meningkat,” ungkap Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Suhu panas ekstrem serta kekeringan di Eropa menekan hasil panen jagung, bit gula, hingga pakan ternak. Situasi tersebut berdampak langsung pada terganggunya produksi industri susu di Prancis dan Polandia.
Sementara itu, ancaman fenomena El Nino di Asia memicu kenaikan Indeks Harga Gula FAO sebesar 11,9 persen ke level 106,4 poin. Kenaikan harga ini kian diperburuk oleh penurunan produksi tebu di Brasil.
Di sisi lain, harga minyak nabati ikut terangkat naik akibat kekhawatiran terhadap prospek produksi kelapa sawit di Asia Tenggara.
“Guncangan iklim dan gangguan logistik perdagangan kini saling berkaitan sehingga memperketat pasokan pangan,” kata Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Serangan militer di perairan Laut Hitam membatasi pengiriman gandum dari Rusia dan Ukraina, yang memicu penumpukan stok di pelabuhan. Pada saat bersamaan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut mengganggu jalur distribusi pupuk dunia di Selat Hormuz.
Berbagai hambatan logistik tersebut berisiko melambungkan biaya operasional para petani di negara-negara berkembang. Dampaknya, FAO memproyeksikan volume perdagangan sereal dunia pada periode 2026/2027 akan menurun menjadi 509,3 juta ton.
“Ketahanan pangan dan kelancaran arus pasokan bahan produksi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dunia,” tegas Torero sebagaimana dilansir dari berita sumber.