S&P 500 Turun 0,58 Persen akibat Kenaikan Minyak dan Data Inflasi
JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan. Indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones ditutup melemah pada Kamis (10/9/2026), setelah lonjakan harga minyak serta data inflasi produsen memicu kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury turut menekan saham karena membuat aset pendapatan tetap lebih menarik dibandingkan ekuitas. Yield Treasury bertenor 10 tahun bahkan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
S&P 500 turun 0,58 persen menjadi 7.591,75. Nasdaq melemah 0,65 persen ke 26.081,73, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,60 persen ke 52.064,10 sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Penurunan terjadi setelah harga minyak Brent melonjak sekitar 6 persen menjadi US$107 per barel. Gangguan jalur pasokan melalui Selat Hormuz dan Laut Merah meningkatkan kekhawatiran tekanan harga energi akan kembali mendorong inflasi.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pekan depan meningkat menjadi sekitar 70 persen, dari sekitar 64 persen sebelum data terbaru dirilis.
"Imbal hasil yang lebih tinggi berdampak negatif bagi pasar ekuitas," kata Ross Mayfield, investment strategy analyst di Baird sebagaimana dilansir dari berita sumber. Menurut dia, kenaikan yield di sisi pendek kurva mencerminkan ekspektasi kenaikan suku bunga, sementara yield tenor panjang terdorong persoalan utang, defisit fiskal, dan inflasi yang masih bertahan.
Data terbaru juga menunjukkan indeks harga produsen (PPI) AS meningkat sesuai ekspektasi pada Agustus secara bulanan, terutama setelah biaya produk energi kembali naik. Pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Jumat.
Kenaikan yield memberikan tekanan tambahan bagi saham-saham teknologi yang memiliki valuasi relatif tinggi. Nvidia turun 2,3 persen, sedangkan Micron Technology terkoreksi 4,7 persen. Kedua saham tersebut menjadi penekan utama S&P 500.
Sektor material mencatat penurunan terbesar di S&P 500, yakni 1,45 persen, disusul sektor teknologi informasi yang turun 0,91 persen. Sebanyak sembilan dari 11 sektor S&P 500 berakhir di zona merah. Dalam empat sesi perdagangan terakhir, S&P 500 telah kehilangan sekitar 2 persen, menjadi penurunan empat hari terdalam sejak Juni.
Meski demikian, Apple bergerak berlawanan arah. Saham perusahaan tersebut melonjak 3,6 persen, sehari setelah memperkenalkan iPhone lipat seharga US$1.999.
Penurunan pasar juga membuat valuasi S&P 500 lebih rendah. Indeks kini diperdagangkan sekitar 19 kali proyeksi laba, level forward price-to-earnings (PE) terendah sejak April 2025. S&P 500 telah turun hampir 3 persen dari rekor penutupan yang dicapai pada 13 Agustus. Namun, indeks masih membukukan kenaikan sekitar 11 persen sepanjang 2026.
Di luar saham teknologi, Macy's merosot 4,7 persen meski menaikkan proyeksi tahunannya. American Eagle Outfitters juga jatuh 14 persen ke level terendah sejak Oktober setelah mempertahankan proyeksi penjualan tahunannya di tengah lemahnya belanja konsumen.
Secara keseluruhan, saham yang turun di S&P 500 mengungguli saham yang naik dengan rasio 2 banding 1. S&P 500 mencatat delapan saham mencapai level tertinggi baru dan 28 saham mencetak level terendah baru. Di Nasdaq, terdapat 44 saham yang mencetak level tertinggi baru berbanding 215 saham yang mencapai level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai sekitar 15,1 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 sesi sebelumnya yang sebesar 14,9 miliar saham.