Harga Minyak Dekati Puncak Multi-Bulan, Brent Bertahan US$70,5 Jumat
JAKARTA - Harga minyak dunia masih bertahan di level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir pada Jumat 30 Januari 2026. Pergerakan harga ini sekaligus menempatkan pasar minyak di jalur kenaikan bulanan terbesar dalam beberapa tahun, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Situasi geopolitik tersebut membuat pelaku pasar kembali memasukkan faktor risiko dalam perhitungan harga. Kekhawatiran utama adalah kemungkinan gangguan pasokan dari Iran atau hambatan arus distribusi minyak global melalui jalur strategis Selat Hormuz. Ketika tensi meningkat, pasar minyak biasanya bergerak cepat karena harga minyak sangat sensitif terhadap ancaman gangguan pasokan, bahkan sebelum dampak nyata terjadi.
Brent dan WTI Masih di Dekat Level Tertinggi
Melansir Reuters, minyak mentah Brent turun 21 sen menjadi US$70,50 per barel pada pukul 01.39 GMT, setelah sehari sebelumnya melonjak 3,4% dan ditutup pada level tertinggi sejak 31 Juli.
Kontrak Brent bulan Maret akan berakhir pada Jumat, sementara kontrak April yang lebih aktif turun 37 sen ke US$69,22 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 39 sen menjadi US$65,03 per barel, setelah menguat 3,4% dan ditutup pada level tertinggi sejak 26 September.
Meski ada koreksi tipis pada Jumat pagi, posisi harga tetap menunjukkan bahwa pasar masih bertahan dalam tren naik. Penurunan kecil ini lebih mencerminkan aksi ambil untung setelah lonjakan kuat sehari sebelumnya, bukan perubahan arah fundamental.
Kenaikan Bulanan Terbesar dalam Beberapa Tahun
Secara bulanan, kedua acuan harga minyak diperkirakan mencatat kenaikan pertama dalam enam bulan.
Harga Brent telah melonjak lebih dari 16% sepanjang Januari, menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Januari 2022. WTI juga berada di jalur kenaikan lebih dari 14%, tertinggi sejak Juli 2023.
Lonjakan tersebut menandakan perubahan besar dalam sentimen pasar minyak. Setelah beberapa bulan terakhir cenderung tertahan, Januari menjadi titik balik karena kombinasi faktor geopolitik dan gangguan pasokan yang terjadi di beberapa negara produsen.
Dengan pergerakan sekuat ini, pasar juga mengirim sinyal bahwa risiko pasokan masih menjadi isu utama yang memengaruhi harga minyak, meskipun kondisi permintaan global tidak selalu bergerak seagresif kenaikan harga.
Ketegangan AS-Iran Dorong Premi Risiko Harga Minyak
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait program nuklir atau menghadapi kemungkinan serangan militer dari AS, yang dibalas Teheran dengan ancaman serangan balasan keras.
Pemerintahan Trump juga dilaporkan menggelar pertemuan terpisah dengan pejabat pertahanan dan intelijen senior Israel serta Arab Saudi di Washington untuk membahas Iran.
Pejabat AS menyatakan Trump masih meninjau berbagai opsi dan belum mengambil keputusan terkait aksi militer.
Ketegangan ini memperbesar ketidakpastian pasar. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar minyak biasanya tidak menunggu sampai konflik benar-benar terjadi, karena gangguan suplai minyak—meskipun hanya berupa potensi—sudah cukup untuk mengerek harga.
Prediksi JPMorgan dan Citi: Potensi Serangan Terbatas
Meski tensi geopolitik meningkat, JPMorgan memperkirakan gangguan pasokan minyak tidak akan berlangsung lama.
Jika aksi militer terjadi, mereka memperkirakan serangan akan bersifat terbatas dan menghindari infrastruktur produksi serta ekspor minyak Iran.
Citi juga memperkirakan Amerika Serikat dan Israel akan mengambil langkah terbatas terhadap Iran dalam waktu dekat, termasuk aksi militer terbatas dan penyitaan kapal tanker minyak, dengan probabilitas sekitar 70%.
Dua proyeksi ini memberi gambaran bahwa pasar sedang berada dalam kondisi “waspada penuh”, tetapi masih menilai bahwa risiko eskalasi besar yang merusak pasokan minyak global secara jangka panjang belum menjadi skenario utama. Namun, probabilitas tindakan terbatas tetap cukup tinggi untuk mempertahankan harga minyak di level atas.
Gangguan Pasokan Global: Kazakhstan, Rusia, Venezuela hingga Cuaca AS
Selain isu Iran, pasokan minyak global juga tertekan oleh gangguan produksi di Kazakhstan, Rusia, dan Venezuela yang secara total mempengaruhi sekitar 1,5 juta barel per hari sepanjang Januari, menurut JPMorgan.
Gelombang udara dingin di Amerika Serikat juga diperkirakan memangkas produksi minyak dan kondensat sekitar 340.000 barel per hari bulan ini.
Kazakhstan mengatakan akan memulai kembali produksi secara bertahap di ladang minyak raksasa Tengiz, dengan target kembali ke kapasitas penuh dalam waktu satu pekan, setelah kebakaran listrik yang tidak dijelaskan sebelumnya mengganggu produksi sekitar 7,2 juta barel minyak awal bulan ini.
Di Rusia, cuaca buruk mengganggu ekspor minyak, sementara Venezuela terpaksa memangkas produksi setelah Presiden Nicolas Maduro digulingkan oleh pasukan AS awal bulan ini.
Pemerintah sementara Venezuela pada Kamis menyetujui reformasi besar terhadap undang-undang minyak utama negara itu.
Pemerintahan Trump juga melonggarkan sanksi terhadap industri minyak Venezuela, langkah yang berpotensi meningkatkan produksi minyak dan gas negara tersebut serta mendorong investasi baru.
Kombinasi gangguan pasokan di beberapa wilayah ini memperketat pasar secara bersamaan. Ketika gangguan terjadi di banyak titik, pasar menjadi lebih sensitif, sehingga isu geopolitik seperti AS-Iran semakin mudah mengangkat harga.
Dengan Brent bertahan di sekitar US$70,5 dan WTI di kisaran US$65, pasar kini menunggu perkembangan lanjutan: apakah tensi geopolitik meningkat, atau justru mereda. Namun untuk saat ini, tren Januari menunjukkan bahwa minyak sedang memasuki fase volatilitas tinggi dengan risiko pasokan sebagai penggerak utama.