Breaking

Penyebab Banjir di Indonesia Perlu Analisis Ilmiah dan Transparan

GE
Jumat, 30 Januari 2026
Penyebab Banjir di Indonesia Perlu Analisis Ilmiah dan Transparan
Penyebab Banjir di Indonesia Perlu Analisis Ilmiah dan Transparan

JAKARTA - Fenomena banjir yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia kerap menimbulkan kontroversi, termasuk klaim dan tudingan terhadap pihak tertentu sebagai penyebab utama. Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menekankan bahwa pendekatan ilmiah dan transparan sangat dibutuhkan agar langkah mitigasi dan korektif yang diambil tepat sasaran. Publik maupun pemerintah diminta untuk tidak menyimpulkan secara prematur tanpa data dan kajian menyeluruh.

Menurut Ketua Umum IAGI STJ Budi Santoso, penentuan penyebab banjir tidak bisa disederhanakan menjadi satu faktor tunggal. Setiap bencana harus dianalisis dengan mempertimbangkan kondisi geologi, hidrologi, iklim, serta dampak kegiatan manusia yang saling terkait.

Pendekatan Multidisiplin untuk Analisis Banjir

Budi menekankan bahwa bencana banjir sebaiknya dianalisis menggunakan pendekatan multidisiplin. Faktor geologi suatu wilayah memengaruhi daya dukung tanah dan risiko terjadinya banjir. Misalnya, beberapa daerah memiliki kondisi geologis yang kuat, aktivitas manusia minimal, dan tutupan vegetasi masih baik, namun tetap terjadi banjir bandang. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa penyebab banjir tidak bisa digeneralisasi.

Pendekatan multidisiplin juga melibatkan analisis hidrologi dan iklim. Curah hujan ekstrem, pola aliran sungai, dan perubahan tata guna lahan menjadi komponen penting dalam memahami risiko banjir.

Manfaat Teknologi dalam Analisis Risiko

Seiring kemajuan teknologi, pemetaan risiko banjir kini lebih terukur. Citra satelit, misalnya, memungkinkan ahli geologi dan perencana wilayah melihat kondisi suatu area dalam rentang waktu tertentu sebelum terjadi bencana. Informasi ini penting untuk memahami pola aliran air, tutupan vegetasi, serta dampak pembangunan manusia terhadap risiko banjir.

Menurut Budi, kajian semacam ini tidak hanya menjelaskan kejadian banjir di masa lalu, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan di masa depan. “Ini bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, tetapi lebih pada bagaimana kita mengantisipasi agar ke depan tidak terjadi lagi. Kalau pun terjadi, kita sudah punya langkah-langkah antisipatif atau mitigatif," jelasnya.

Analisis ilmiah yang terukur membantu pemerintah membuat kebijakan yang berbasis data, termasuk perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan lingkungan.

Risiko Langkah Korektif yang Salah

IAGI menekankan bahwa kesimpulan prematur terkait penyebab banjir berpotensi merugikan, karena bisa menghasilkan langkah korektif yang keliru. Budi menganalogikan jika diagnosis penyakit salah, obat yang diberikan tentu tidak akan menyelesaikan masalah.

Dengan kata lain, penanganan banjir harus fokus pada akar masalah: kondisi geologi, pola aliran air, faktor iklim, serta aktivitas manusia yang memengaruhi kapasitas lingkungan menampung air.

Dorongan Regulasi Berbasis Geosains

Dalam konteks penguatan kebijakan, Budi mendorong agar analisis berbasis geosains menjadi landasan utama dalam penanggulangan bencana, tata ruang, dan pemanfaatan wilayah. IAGI bahkan mengusulkan regulasi setingkat undang-undang khusus, yaitu Undang-Undang Geologi atau Undang-Undang Kebumian, agar muatannya cukup kuat dan semua aturan turunannya mengacu pada pendekatan ilmiah ini.

Regulasi berbasis data ilmiah akan meminimalkan spekulasi atau tudingan yang tidak berdasar, sekaligus mempermudah pelaksanaan mitigasi bencana yang efektif.

Transparansi dan Ilmu Menjadi Kunci

Bencana banjir adalah fenomena kompleks yang memerlukan analisis mendalam. Transparansi dan dasar ilmiah menjadi kunci agar langkah pencegahan dan mitigasi tepat sasaran. Menyalahkan pihak tertentu tanpa kajian hanya akan menghambat solusi yang efektif.

Dengan pendekatan multidisiplin, teknologi canggih, dan dukungan regulasi berbasis geosains, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menekan risiko banjir dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua