Rabu, 04 Februari 2026

Harga Minyak Global Menguat di Tengah Ketegangan dan Dinamika Geopolitik Dunia

Harga Minyak Global Menguat di Tengah Ketegangan dan Dinamika Geopolitik Dunia
Harga Minyak Global Menguat di Tengah Ketegangan dan Dinamika Geopolitik Dunia

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat setelah sempat mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. 

Pergerakan ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik yang kembali mencuat. Pasar merespons cepat laporan terkait insiden militer di kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga terjadi pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026. Sentimen pasar berubah setelah muncul laporan mengenai insiden yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar kembali mencermati risiko global.

Baca Juga

Purbaya Yudhi Sadewa Menilai Pengunduran Diri Bos OJK Dan BEI Harus Disertai Tanggung Jawab Penuh

Sebelumnya, harga minyak sempat bergerak stabil usai mengalami penurunan tajam. Pelaku pasar menimbang sejumlah faktor fundamental yang saling berlawanan. Situasi ini menciptakan volatilitas yang cukup tinggi.

Harga Brent dan WTI Bergerak Naik

Harga minyak Brent berjangka untuk April tercatat mengalami kenaikan signifikan. Kontrak tersebut naik 1,3 persen dan berada di level USD67,16 per barel. Kenaikan ini menandai pembalikan arah setelah pelemahan sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate juga mencatat penguatan. Kontrak berjangka WTI naik 1,5 persen menjadi USD63,09 per barel. Kedua patokan minyak utama tersebut menunjukkan sentimen positif pasar.

Kenaikan ini terjadi setelah harga sempat melemah di awal sesi perdagangan. Penurunan sebelumnya dipicu oleh sentimen diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kondisi pasar kembali berubah dalam waktu singkat.

Dampak Insiden Drone dan Pernyataan Politik

Harga minyak terdorong naik setelah laporan menyebutkan AS menembak jatuh drone Iran. Drone tersebut dilaporkan mendekati kapal induk angkatan laut AS. Peristiwa ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik.

Sebelumnya, harga minyak anjlok lebih dari empat persen pada Senin. Penurunan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran “serius berbicara” dengan Washington. Pernyataan itu memberi sinyal meredanya ketegangan geopolitik.

Komentar tersebut sempat menurunkan premi risiko di pasar minyak. Pelaku pasar melihat peluang penurunan konflik antara AS dan Iran. Namun, insiden drone kembali memicu kekhawatiran baru.

Kesepakatan Dagang AS dan India Jadi Sorotan

Pasar minyak juga mencermati kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan India. Kesepakatan ini memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18 persen dari sebelumnya 50 persen. Sebagai imbalannya, India menghentikan pembelian minyak Rusia.

Langkah tersebut berpotensi mengubah arus perdagangan minyak global. Penghentian pembelian oleh India dapat meningkatkan pasokan minyak Rusia di pasar internasional. Kondisi ini dinilai memberi tekanan tambahan terhadap harga tertentu.

"Jika ini terjadi, hal itu hanya akan menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam jumlah minyak Rusia yang mengambang di laut. Ini semakin menekan diskon Urals untuk menarik pembeli. Kurangnya pembeli berarti Rusia pada akhirnya akan dipaksa untuk mengurangi produksi, memperketat pasar minyak," kata analis di ING, dalam sebuah catatan.

Pembicaraan Nuklir AS dan Iran Dinanti Pasar

Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan nuklir. Pertemuan tersebut akan digelar pada hari Jumat di Turki. Informasi ini menjadi perhatian utama pelaku pasar energi.

Pembicaraan berlangsung setelah peringatan keras dari Presiden AS. Trump berulang kali mendesak Iran untuk menerima kesepakatan. Ia juga mengisyaratkan potensi aksi militer jika negosiasi gagal.

Berita pembicaraan ini sempat meredakan kekhawatiran konflik regional. Premi risiko di pasar minyak pun mengalami penyesuaian. Namun, ketidakpastian hasil negosiasi tetap membayangi.

Kekhawatiran konflik sebelumnya menjadi penopang utama harga minyak. Hal ini terutama terjadi setelah AS mengerahkan kapal perang ke Timur Tengah. Peringatan potensi serangan terhadap Iran turut memperkuat sentimen tersebut.

Meski demikian, pasar masih menunggu hasil konkret dari pembicaraan. Negosiasi sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan signifikan. Oleh karena itu, potensi deeskalasi besar masih belum dapat dipastikan.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Bisa Menguat Tahun Ini di Tengah Tantangan Ekonomi

Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Bisa Menguat Tahun Ini di Tengah Tantangan Ekonomi

Program KUR Bank Mandiri 2026 Dorong UMKM Lebih Kompetitif dan Produktif

Program KUR Bank Mandiri 2026 Dorong UMKM Lebih Kompetitif dan Produktif

KUR BRI 2026 Jadi Dorongan Strategis Pertumbuhan UMKM Nasional Tahun Ini

KUR BRI 2026 Jadi Dorongan Strategis Pertumbuhan UMKM Nasional Tahun Ini

Harga Perak Antam Menguat, Investor Didorong Manfaatkan Peluang Investasi Tahun Ini

Harga Perak Antam Menguat, Investor Didorong Manfaatkan Peluang Investasi Tahun Ini

IHSG Menguat Hari Ini, Investor Tunjukkan Kepercayaan pada Pasar Saham

IHSG Menguat Hari Ini, Investor Tunjukkan Kepercayaan pada Pasar Saham