Senin, 09 Februari 2026

Studi Terbaru Ungkap Kesenjangan Gender dalam Diagnosis Autisme

Studi Terbaru Ungkap Kesenjangan Gender dalam Diagnosis Autisme
Studi Terbaru Ungkap Kesenjangan Gender dalam Diagnosis Autisme

JAKARTA - Sebuah studi skala besar terbaru menyoroti adanya kesenjangan gender yang signifikan dalam diagnosis gangguan spektrum autisme (ASD). 

Penelitian ini menemukan bahwa anak perempuan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menerima diagnosis dibandingkan anak laki-laki. Anak laki-laki lebih mudah terdiagnosis pada masa kanak-kanak hingga empat kali, menimbulkan kekhawatiran tentang akses bantuan medis yang setara.

Penelitian yang dipimpin oleh Karolinska Institutet di Swedia meneliti tingkat diagnosis autisme bagi mereka yang lahir antara tahun 1985 dan 2020. Dari 2,7 juta orang yang dilacak, sekitar 2,8% didiagnosis mengidap autisme antara usia dua hingga 37 tahun. Data ini menunjukkan adanya kesenjangan gender yang jelas pada diagnosis awal.

Baca Juga

Haadiya Syari Hadir Warnai Industri Modest Fashion Jelang Ramadan

Berdasarkan temuan, pada usia 20 tahun, tingkat diagnosis pria dan wanita hampir setara. Hal ini menantang asumsi sebelumnya yang menyatakan autisme lebih umum pada laki-laki. 

Dr. Caroline Fyfe menjelaskan, “Perbedaan gender dalam prevalensi autisme jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan sebelumnya, karena perempuan kurang terdiagnosis atau terlambat didiagnosis.”

Perbedaan Usia Diagnosis Antara Anak Laki-laki dan Perempuan

Penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki didiagnosis rata-rata hampir tiga tahun lebih awal daripada anak perempuan. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 15,9 tahun untuk anak perempuan, sementara 13,1 tahun untuk anak laki-laki. Perbedaan ini menunjukkan adanya ketidaksetaraan dalam pengenalan gejala autisme pada anak perempuan.

Secara keseluruhan, anak laki-laki tiga hingga empat kali lebih mungkin didiagnosis autisme sebelum usia 10 tahun. Namun, anak perempuan cenderung mengejar ketertinggalan pada usia 20 tahun karena meningkatnya diagnosis autisme selama masa remaja. .

“Pengamatan ini menyoroti perlunya menyelidiki mengapa individu perempuan menerima diagnosis lebih lambat daripada laki-laki,” tambah para penulis.

Selain itu, perbedaan gender dalam tingkat diagnosis tetap cukup konsisten selama tiga dekade terakhir pada anak di bawah usia 10 tahun. Namun, perbedaan tersebut menurun secara signifikan pada kelompok usia lainnya. 

Para penulis menegaskan bahwa rasio laki-laki terhadap perempuan dalam gangguan spektrum autisme menurun seiring bertambahnya usia saat diagnosis.

Dampak Bias Sistemik terhadap Diagnosis

Anne Cary, pasien dan advokat pasien autisme, menekankan bahwa bias sistemik dalam diagnosis merupakan penyebab utama perbedaan tingkat diagnosis. Meskipun gejala mungkin muncul terlambat atau disamarkan, metode diagnosis yang ada juga cenderung bias. 

“Bias ini berarti seorang gadis yang akhirnya didiagnosis autisme memiliki peluang kurang dari sepertiga untuk menerima diagnosis sebelum usia 10 tahun,” ungkap Cary.

Anak perempuan dan wanita autis yang menunggu diagnosis sering salah didiagnosis dengan kondisi kesehatan mental lain. Kondisi ini termasuk gangguan suasana hati dan kepribadian. Mereka harus membela diri agar diperlakukan sesuai sebagai pasien autis yang sama dengan laki-laki.

Badan amal autisme menekankan pentingnya mengatasi stereotip gender. Dr. Judith Brown mengatakan, jenis kelamin seharusnya tidak menjadi penghalang untuk menerima diagnosis autisme. “Secara historis, diasumsikan bahwa orang autis sebagian besar laki-laki, padahal perempuan lebih cenderung menyembunyikan tanda-tanda autisme,” ujarnya.

Tantangan Kesehatan Mental pada Perempuan Autis

Perempuan autis yang salah didiagnosis berisiko mengembangkan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Kurangnya dukungan dan kelelahan karena menyembunyikan kondisi mereka menjadi faktor utama. Brown menekankan, pengalaman perempuan autis tidak boleh diabaikan dan stereotip lama harus diakhiri.

Jolanta Lasota menambahkan bahwa anak perempuan autis memiliki pengalaman berbeda dengan anak laki-laki. Kebutuhan mereka sering disalahpahami, sehingga kehilangan dukungan penting. Dalam beberapa kasus, hal ini dapat menyebabkan krisis kesehatan mental yang serius.

Lasota juga menekankan pentingnya layanan diagnostik yang menyesuaikan dengan jumlah anak perempuan dan wanita autis yang meningkat. Pemahaman yang lebih baik tentang presentasi autisme pada perempuan harus dikembangkan. Layanan dukungan harus beradaptasi agar lebih inklusif dan tepat sasaran.

Pentingnya Diagnosis Tepat Waktu dan Kesadaran Profesional

Dr. Conor Davidson menjelaskan, autisme pada perempuan lebih mungkin tidak terdeteksi pada masa kanak-kanak. Tanda-tanda autisme sering muncul pada masa remaja atau dewasa awal. Oleh karena itu, akses penilaian dan perawatan yang tepat waktu sangat penting.

Para psikiater dan tenaga medis harus mempertimbangkan kemungkinan autisme saat menilai pasien dengan masalah kesehatan mental. Hal ini sangat relevan bagi perempuan yang mungkin tidak terdeteksi sejak kecil. Davidson menekankan, diagnosis yang tepat dapat mencegah kesulitan tambahan dan mendukung kesejahteraan pasien.

Kesimpulannya, studi ini menyoroti perlunya kesadaran lebih besar tentang kesenjangan gender dalam diagnosis autisme. Pemahaman yang lebih mendalam akan membantu menciptakan akses yang setara bagi anak laki-laki dan perempuan. 

Studi Terbaru Ungkap Kesenjangan Gender dalam Diagnosis Autisme menjadi tonggak penting untuk memperbaiki diagnosis dan dukungan bagi semua pasien.

Alif Bais Khoiriyah

Alif Bais Khoiriyah

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Daftar Tabel Angsuran KUR BRI Februari 2026 Terbaru Beserta Syarat Dan Prosedur Pengajuan

Daftar Tabel Angsuran KUR BRI Februari 2026 Terbaru Beserta Syarat Dan Prosedur Pengajuan

Penerapan Konsep ESG Menjadi Mesin Bisnis BRI Guna Memperkuat Ekonomi Rakyat Dan Alam

Penerapan Konsep ESG Menjadi Mesin Bisnis BRI Guna Memperkuat Ekonomi Rakyat Dan Alam

Strategi Bank Central Asia Menawarkan Produk KPR Fix Berjenjang Bagi Kalangan Generasi Z

Strategi Bank Central Asia Menawarkan Produk KPR Fix Berjenjang Bagi Kalangan Generasi Z

Laba Bersih BCA Digital Melonjak Drastis Hingga 98 Persen Sepanjang Tahun Lalu

Laba Bersih BCA Digital Melonjak Drastis Hingga 98 Persen Sepanjang Tahun Lalu

OJK Dorong Perluasan Aktivitas Perbankan Di Pasar Modal Melalui Implementasi Revisi UU P2SK

OJK Dorong Perluasan Aktivitas Perbankan Di Pasar Modal Melalui Implementasi Revisi UU P2SK