Perbedaan Jadwal Puasa 2026 Menurut Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah
- Jumat, 13 Februari 2026
JAKARTA - Bulan suci Ramadan selalu dinantikan umat Islam di seluruh Indonesia.
Setiap tahun muncul pertanyaan kapan puasa pertama dimulai dan bagaimana penentuan tanggalnya. Perbedaan metode yang digunakan Pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah membuat penentuan awal Ramadan menjadi menarik dan unik.
Perbedaan metode ini tidak mengurangi esensi puasa sebagai ibadah wajib bagi umat Islam. Setiap lembaga memiliki alasan dan dasar ilmiah maupun tradisi yang berbeda dalam menentukan tanggal. Hal ini menunjukkan keragaman cara umat Islam di Indonesia dalam menjalankan ibadah puasa secara tepat.
Baca Juga5 Pilihan Gamis Lebaran 2026, Simpel namun Tetap Elegan dan Stylish
Mengetahui tanggal awal puasa penting untuk menyiapkan diri secara fisik dan spiritual. Umat Islam mempersiapkan sahur, berbuka, serta berbagai kegiatan keagamaan di bulan Ramadan. Dengan informasi yang tepat, masyarakat dapat menjalani puasa dengan tertib dan khusyuk.
Tanggal Puasa Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal untuk menentukan awal Ramadan. Metode ini menghitung posisi bulan dan matahari secara astronomis tanpa harus melihat hilal secara langsung. Penetapan tanggal puasa dilakukan dengan presisi tinggi berdasarkan hasil perhitungan tersebut.
Berdasarkan metode ini, Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penentuan awal puasa melalui Hisab Hakiki dianggap akurat dan dapat diprediksi jauh hari sebelumnya. Metode ini juga memungkinkan umat Islam mengikuti kalender puasa dengan kepastian yang jelas.
Selain menentukan tanggal puasa, metode Muhammadiyah juga diterapkan untuk menetapkan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini memudahkan umat Islam di seluruh Indonesia untuk menyesuaikan jadwal ibadah dan kegiatan keagamaan. Dengan demikian, metode hisab menjadi panduan praktis bagi jamaah.
Tanggal Puasa Menurut Nahdlatul Ulama (NU)
Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode Rukyatul Hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal pada hari ke-29 bulan Sya’ban. Metode ini menekankan observasi fisik sebagai dasar penentuan awal bulan. Penggunaan rukyat juga memperkuat tradisi keagamaan yang telah berlangsung lama di masyarakat.
Meskipun NU belum mengumumkan tanggal resmi puasa Ramadan 2026, prediksi kalender Almanak menunjukkan 1 Ramadan kemungkinan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Observasi hilal akan dilakukan di berbagai lokasi untuk memastikan penentuan tanggal yang akurat. Hasil rukyat ini kemudian dibahas dalam forum pengambilan keputusan.
Rukyatul hilal memungkinkan masyarakat ikut menyaksikan proses penentuan awal bulan. Hal ini mempererat keterlibatan komunitas dan meningkatkan kesadaran akan perhitungan waktu ibadah. Dengan demikian, metode NU tetap mengedepankan nilai tradisi dan partisipasi masyarakat dalam penetapan awal puasa.
Tanggal Puasa Menurut Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama juga menentukan awal puasa melalui Sidang Isbat. Sidang ini digelar pada akhir bulan Sya’ban setelah pemantauan hilal. Hasil Sidang Isbat menjadi keputusan resmi pemerintah yang berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia 2026, puasa Ramadan diprediksi akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, tanggal pastinya menunggu pengumuman resmi dari pemerintah setelah sidang dilakukan. Keputusan pemerintah biasanya disosialisasikan secara luas agar masyarakat dapat mempersiapkan diri menunaikan ibadah puasa dengan tertib.
Selain menentukan awal puasa, pemerintah juga memandu pelaksanaan ibadah lain seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Hal ini memastikan konsistensi pelaksanaan ibadah di seluruh wilayah Indonesia. Dengan adanya keputusan resmi, masyarakat memiliki acuan yang jelas untuk menyelenggarakan aktivitas keagamaan selama bulan suci.
Perbedaan Metode dan Esensi Puasa
Perbedaan metode antara Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah Indonesia merupakan hal yang lazim terjadi setiap tahun. Meskipun tanggal awal puasa dapat berbeda, tujuan ibadah tetap sama. Esensi puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan dari terbit hingga terbenam matahari.
Masyarakat diimbau untuk menghormati perbedaan penentuan awal puasa antar lembaga. Kesiapan fisik, mental, dan spiritual tetap menjadi prioritas dalam menjalankan ibadah. Setiap umat Islam dapat menyesuaikan diri sesuai metode yang diyakini atau mengikuti keputusan resmi pemerintah.
Menjalankan ibadah puasa juga menjadi sarana mendidik disiplin dan meningkatkan kepedulian sosial. Dengan berpuasa, umat Islam belajar mengendalikan diri, menumbuhkan empati terhadap sesama, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Perbedaan metode tidak mengurangi nilai ibadah, melainkan menambah kekayaan tradisi keagamaan di Indonesia.
Dengan informasi ini, masyarakat dapat merencanakan sahur, berbuka, dan ibadah lainnya secara tepat. Persiapan yang matang membantu umat Islam menjalani puasa dengan khusyuk dan penuh keberkahan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 2026 dengan semangat dan ketulusan hati.
Alif Bais Khoiriyah
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pemerintah Percepat Pemulihan Infrastruktur Publik Pascabencana Di Sumatera
- Jumat, 13 Februari 2026
Berita Lainnya
Estimasi Biaya Layanan Listrik Makin Transparan Melalui Fitur Baru Di Aplikasi PLN Mobile
- Jumat, 13 Februari 2026
Pelanggan Kini Bisa Hitung Estimasi Layanan Resmi Secara Mandiri Melalui PLN Mobile
- Jumat, 13 Februari 2026
Terpopuler
1.
Strategi Lolos Mudik Gratis 2026 Tanpa Calo Dan Ribet
- 13 Februari 2026
2.
Peluang Affiliate Digital Dorong Kemandirian Ekonomi Generasi Muda
- 13 Februari 2026
3.
Bansos Pangan Ramadan 2026 Cair Untuk Juta KPM Nasional
- 13 Februari 2026
4.
5.
Ekspor Motor Indonesia Tumbuh Positif Awal Tahun 2026
- 13 Februari 2026













