Kamis, 19 Februari 2026

Kereta Petani Pedagang Layani Ribuan Pengguna Jalur Merak

Kereta Petani Pedagang Layani Ribuan Pengguna Jalur Merak
Kereta Petani Pedagang Layani Ribuan Pengguna Jalur Merak

JAKARTA - Mobilitas pelaku usaha kecil di wilayah barat Pulau Jawa menemukan tumpuan baru lewat layanan transportasi rel yang dirancang lebih ramah barang bawaan. 

Kehadiran Kereta Petani dan Pedagang di lintas Commuter Line Merak memberi ruang bagi petani, pedagang pasar, dan pengrajin untuk membawa komoditas dagangan tanpa harus bergantung pada moda angkut mahal. Skema ini sekaligus menjawab kebutuhan distribusi jarak menengah yang cepat, terjangkau, dan terjadwal. 

Seiring meningkatnya aktivitas niaga lokal, layanan ini mulai menunjukkan peran nyata dalam menghubungkan sentra produksi dengan pasar di kota-kota tujuan.

Baca Juga

Permen ESDM Dorong Lifting Migas Nasional Tahun 2025

Peran Kereta Petani Dan Pedagang Bagi Mobilitas Usaha

Kereta Petani dan Pedagang di lintas Commuter Line Merak menjadi penopang mobilitas pelaku usaha kecil di ujung barat Pulau Jawa. Sejak diluncurkan pada 1 Desember 2025 hingga 17 Februari 2026, layanan itu telah dimanfaatkan oleh 11.428 pelanggan. Pergerakan tertinggi tercatat di Stasiun Cikeusal dengan 3.730 penumpang naik dan 3.511 penumpang turun. 

Data tersebut menunjukkan pemanfaatan yang stabil selama lebih dari dua bulan operasional sekaligus menegaskan peran Cikeusal sebagai titik distribusi komoditas lokal, mulai dari hasil pertanian, olahan makanan, hingga produk kerajinan menuju Serang, Cilegon, dan Merak. 

Pola pergerakan ini memperlihatkan bahwa moda rel dapat menjadi solusi logistik mikro bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan akses rutin ke pasar tanpa beban biaya tinggi.

Modifikasi Sarana Untuk Kebutuhan Pengguna

Layanan ini merupakan hasil modifikasi sarana oleh teknisi Balai Yasa Surabaya Gubeng milik PT Kereta Api Indonesia atau KAI. Penyesuaian dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pengguna yang membawa barang dagangan dalam volume tertentu. 

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan, inovasi tersebut menunjukkan kesiapan fasilitas perawatan sarana dalam menghadirkan layanan sesuai kebutuhan masyarakat. “

KAI akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi operasional berdasarkan data perjalanan dan respons pelanggan guna menjaga kualitas layanan di lintas Merak,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pengembangan layanan tidak berhenti pada peluncuran awal, melainkan akan terus disesuaikan dengan dinamika permintaan pengguna di lapangan.

Rute Operasional Dan Fasilitas Penunjang Perjalanan

Secara teknis, rangkaian itu menyediakan 73 tempat duduk dan dilengkapi area bagasi khusus. Operasionalnya mencakup 14 perjalanan setiap hari, terdiri dari tujuh perjalanan Merak–Rangkasbitung dan tujuh perjalanan Rangkasbitung–Merak yang melayani 11 stasiun. 

Setiap penumpang diperbolehkan membawa maksimal dua koli berukuran 100 centimeter (cm) x 40 cm x 30 cm untuk menjaga kenyamanan dan keteraturan selama perjalanan. 

Ketentuan teknis ini memberi kepastian bagi pengguna mengenai kapasitas angkut yang diperbolehkan, sehingga aktivitas niaga dapat direncanakan lebih rapi. 

Bagi pedagang kecil, kepastian ruang bagasi dan jadwal perjalanan menjadi faktor penting agar distribusi barang bisa tepat waktu tanpa mengganggu kenyamanan penumpang lain.

Kolaborasi Pemerintah Dan Skema Layanan Publik

Program tersebut merupakan kolaborasi KAI Group bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan melalui skema public service obligation. Tarifnya ditetapkan Rp 3.000, setara dengan tarif KRL umum, sehingga tetap terjangkau bagi petani dan pedagang kecil yang mengandalkan transportasi rel untuk mendistribusikan hasil usaha mereka. 

Skema PSO memastikan keberlanjutan layanan dengan dukungan negara, sekaligus menjaga agar tarif tidak membebani pengguna. Dengan tarif terjangkau, layanan ini membuka akses yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil untuk memanfaatkan transportasi massal dalam aktivitas distribusi.

Ke depan, tantangan utama layanan ini terletak pada konsistensi operasional dan adaptasi terhadap kebutuhan lapangan yang dinamis. Evaluasi berkala atas pola penumpang, jenis barang bawaan, serta kepadatan di stasiun-stasiun utama menjadi kunci agar layanan tetap relevan. 

Di sisi lain, keberhasilan Kereta Petani dan Pedagang juga dapat menjadi rujukan pengembangan layanan serupa di lintas lain yang memiliki karakteristik sentra produksi dan pasar. 

Dengan dukungan infrastruktur, modifikasi sarana, serta kolaborasi lintas lembaga, moda rel berpotensi memainkan peran lebih besar dalam memperkuat rantai distribusi lokal, mempercepat pergerakan komoditas, dan mendukung keberlanjutan usaha mikro di daerah.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Menu Buka Puasa Favorit Keluarga Kolak Pisang Dan Es Buah Jadi Primadona

Menu Buka Puasa Favorit Keluarga Kolak Pisang Dan Es Buah Jadi Primadona

Mengungkap Alasan Kolak Pisang Menjadi Menu Takjil Paling Favorit Saat Ramadan

Mengungkap Alasan Kolak Pisang Menjadi Menu Takjil Paling Favorit Saat Ramadan

Masa Depan Ko Hee Jin Terancam Usai Deretan Kekalahan Beruntun Red Sparks

Masa Depan Ko Hee Jin Terancam Usai Deretan Kekalahan Beruntun Red Sparks

Jakarta Bhayangkara Presisi Resmi Melepas Aimal Khan Menjelang Babak Final Four

Jakarta Bhayangkara Presisi Resmi Melepas Aimal Khan Menjelang Babak Final Four

Menteri PU Meminta Diskon Tarif Tol 30 Persen Selama Lebaran

Menteri PU Meminta Diskon Tarif Tol 30 Persen Selama Lebaran