JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memproyeksikan pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan yang signifikan selama Ramadan dan Lebaran tahun 2026.
Dalam proyeksinya, APPBI memperkirakan kinerja pusat perbelanjaan akan mengalami kenaikan antara 5 hingga 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini akan didorong oleh beberapa faktor yang saling mendukung, mulai dari momentum musiman hingga kebijakan ekonomi yang berjalan sejak awal tahun.
Baca Juga9 Daftar Ruas Tol Gratis Mudik Lebaran 2026 yang Harus Diketahui
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa berbagai pendorong konsumsi yang terjadi bersamaan di awal tahun, seperti kenaikan upah minimum, perayaan Tahun Baru Imlek, serta pembagian bonus dan tunjangan hari raya (THR), menjadi katalisator yang memperkuat proyeksi positif tersebut.
Momen Musiman Didorong Oleh Faktor Ekonomi yang Positif
Menurut Alphonzus, Ramadan dan Idulfitri tahun ini diprediksi akan lebih baik, berkat adanya momentum yang sangat baik pada triwulan pertama tahun ini.
Perpaduan antara faktor musiman, seperti pembagian THR, dan faktor ekonomi lainnya, diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat konsumsi di sektor ritel.
"Ramadan dan Idulfitri tahun ini diharapkan bisa lebih baik karena momentum penting ada di triwulan pertama. Prediksi kami berada di kisaran 5% sampai 10%. Mudah-mudahan bisa mencapai 10%," ujarnya.
Namun, meskipun adanya dorongan musiman, APPBI juga menekankan pentingnya kebijakan yang berkelanjutan untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang.
Hal ini penting agar konsumsi rumah tangga tidak hanya bergantung pada insentif jangka pendek yang diberikan oleh pemerintah, seperti pemberian bonus atau THR, tetapi lebih pada kebijakan yang dapat menciptakan permintaan secara berkelanjutan.
Harapan APPBI Terhadap Kebijakan Pemerintah
Meskipun APPBI menyambut positif langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mendukung konsumsi masyarakat, seperti pemberian stimulus dan insentif ekonomi, Alphonzus Widjaja menegaskan bahwa kebijakan yang bersifat sementara tidak akan cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Oleh karena itu, penting untuk merumuskan strategi yang lebih terfokus pada penciptaan permintaan (demand creation), bukan hanya memperbesar pasokan.
"Dari sisi kebijakan, yang perlu diperhatikan adalah pergeseran strategi dari supply mode ke demand mode. Jika ingin pertumbuhan ekonomi lebih dari 5%, bahkan lebih dari 6%, harus ada terobosan," kata Alphonzus.
Menurutnya, ini adalah langkah penting untuk memastikan agar sektor pusat perbelanjaan tetap mengalami pertumbuhan yang konsisten meskipun di tengah tantangan ekonomi global.
Strategi Pusat Perbelanjaan untuk Optimalkan Momentum Ramadan dan Lebaran
Untuk mendukung proyeksi pertumbuhan yang positif, banyak pusat perbelanjaan yang mulai menyiapkan strategi-strategi taktis guna memaksimalkan momentum Ramadan dan Lebaran 2026.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah memperbanyak program tematik yang relevan dengan suasana Lebaran. Program ini bisa meliputi pertunjukan budaya, hiburan musik, serta acara keluarga yang dirancang untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Selain itu, penguatan promosi belanja juga menjadi fokus utama. Skema promosi yang ditawarkan tidak hanya terbatas pada diskon harga, tetapi juga meliputi program bundling, hadiah langsung, hingga program loyalitas yang bertujuan untuk mendorong transaksi lebih banyak.
Promosi semacam ini diharapkan bisa meningkatkan pengalaman belanja fisik di pusat perbelanjaan, yang semakin bersaing dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce.
Tak ketinggalan, dekorasi tematik yang memanfaatkan suasana Lebaran juga diprioritaskan oleh banyak pusat perbelanjaan. Pengalaman visual yang menarik ini bertujuan untuk memperkaya pengalaman pengunjung, menjadikan pusat perbelanjaan tidak hanya sebagai tempat berbelanja, tetapi juga sebagai destinasi rekreasi keluarga selama liburan.
Pergeseran Pola Konsumsi di Kalangan Masyarakat
Di balik optimisme yang ada, APPBI juga mencatat adanya pergeseran dalam pola konsumsi masyarakat, terutama di kalangan segmen menengah ke bawah. Meskipun masyarakat tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan, mereka kini lebih selektif dalam menentukan produk yang akan dibeli. Pilihan produk yang lebih terjangkau dengan harga satuan rendah menjadi pilihan yang lebih populer dibandingkan produk dengan harga tinggi.
“Yang berubah adalah pola belanjanya. Konsumen cenderung memilih produk dengan unit price yang kecil,” jelas Alphonzus.
Masyarakat lebih mengutamakan barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah lebih banyak dengan harga yang lebih terjangkau, daripada membeli barang dengan harga tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan konsumsi, namun daya beli masyarakat cenderung terkonsentrasi pada produk dengan harga lebih terjangkau.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
MIND ID dan Kemendikti Kembangkan Limbah Timah Jadi Logam Tanah Jarang
- Senin, 02 Maret 2026








