Bank Indonesia Komitmen Menjaga Stabilitas Harga di Tengah Ketidakpastian Global
- Jumat, 06 Maret 2026
JAKARTA - Di tengah gejolak ekonomi global, ketangguhan fiskal dan moneter menjadi pilar utama menjaga kestabilan ekonomi nasional.
Inflasi yang biasanya meningkat saat Ramadan harus dikendalikan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Dua kondisi ini muncul bersamaan, sehingga kebijakan pemerintah perlu diatur agar masyarakat tidak mengalami tekanan finansial berlebih.
Dalam forum diskusi strategis Kontan Share & Learn bersama Bank Indonesia di Jakarta, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyatakan, lanskap global masih penuh ketidakpastian.
Baca JugaAdira Finance Laporkan Pertumbuhan Pembiayaan Baru yang Menggembirakan Tahun Ini
Perlambatan ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih, sementara arah kebijakan suku bunga global, termasuk potensi perubahan Federal Funds Rate di Amerika Serikat, masih menjadi perhatian utama.
Tak hanya kebijakan ekonomi global, tensi geopolitik dan konflik baru juga mempengaruhi stabilitas harga. Aida menilai, kondisi ini berpotensi menambah risiko rambatan terhadap harga komoditas dan pasar keuangan domestik.
Pemantauan Tiga Saluran Transmisi Gejolak
Bank Indonesia memantau tiga saluran utama dampak gejolak global, yaitu harga pangan, pasar keuangan, dan nilai tukar. Stabilitas rupiah menjadi jangkar penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali. Untuk itu, BI melakukan intervensi melalui pasar spot maupun instrumen derivatif.
“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Kami terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar dan inflasi terkendali,” ujar Aida. Pengendalian ini menjadi strategi utama agar tekanan global tidak langsung diteruskan ke masyarakat. Dengan pemantauan intensif, BI berharap dapat memitigasi risiko gejolak eksternal terhadap ekonomi domestik.
Selain itu, Bank Indonesia menekankan perlunya koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk menjaga stabilitas harga. Kebijakan ini akan memperkuat daya beli masyarakat dan mencegah gejolak inflasi yang tidak terkendali. Langkah-langkah ini diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan.
Prospek Ekonomi dan Inflasi 2026
Meski tantangan global membayangi, prospek ekonomi domestik pada 2026 tetap positif. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9%–5,7%. Momentum kuartal pertama menjadi krusial karena adanya Hari Besar Keagamaan Nasional yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat.
“Pada kuartal pertama ini ada banyak HBKN yang mendorong masyarakat melakukan spending. Selain itu, pemerintah meningkatkan belanja untuk memastikan berbagai program berjalan dengan baik,” jelas Aida. Belanja pemerintah ini diharapkan menopang permintaan domestik sehingga produksi tetap berjalan.
Terkait inflasi, data menunjukkan angka tahunan sempat berada di 4,76%. Lonjakan ini terutama dipengaruhi komponen administered prices yang sebelumnya mengalami deflasi cukup dalam. Inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan tetap terjaga di sekitar 2,63%, menunjukkan kestabilan di sisi konsumsi domestik.
Koordinasi Kebijakan dan Strategi 4K
Tekanan harga biasanya meningkat menjelang dan sesudah HBKN, terutama pada komponen volatile food. Aida menekankan, koordinasi kebijakan sangat penting untuk menekan inflasi tersebut. Strategi 4K diterapkan, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Di tingkat pusat, sinergi dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat, sementara di daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Jaringan 46 kantor perwakilan BI memetakan sentra produksi dan wilayah non-sentra untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Upaya ini bertujuan menahan laju harga sekaligus menjaga kesejahteraan pelaku usaha pangan.
Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera juga telah dibuka di beberapa daerah. Aida menyatakan, langkah ini menjadi strategi integral menekan inflasi dan memperkuat ekonomi dari hulu ke hilir. Intervensi ini memastikan pasokan aman, harga terkendali, dan masyarakat dapat melaksanakan aktivitas dengan nyaman.
Penguatan Kebijakan Moneter dan Supply Chain
BI mengarahkan kebijakan moneter terintegrasi, termasuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75% pada Februari 2026. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga dimanfaatkan untuk operasi moneter, pendalaman pasar keuangan, dan menarik aliran modal. Strategi ini menjaga stabilitas harga serta memperkuat pasar keuangan domestik.
“Secara umum arah inflasi menunjukkan penurunan beberapa periode ini. Pra-HBKN, HBKN, dan pasca-HBKN memang meningkat, namun setelah permintaan normal kembali, inflasi turun kembali,” jelas Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar. Penguatan pasokan harus berjalan selaras dengan kebijakan moneter untuk menekan tekanan harga.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menekankan eksekusi distribusi pangan di lapangan. Distribusi cabai dan bawang merah dari sentra produksi ke daerah defisit disesuaikan dengan preferensi konsumen. Pasokan aman hingga akhir tahun, sehingga masyarakat dihimbau tidak melakukan panic buying.
“Sehubungan dengan stoknya bagus, aman, tentu kami menghimbau masyarakat tidak panic buying. Melaksanakan ibadah dengan nyaman karena pasokannya aman. Kami juga hadir memantau harga agar stabil,” ungkap Gusti.
Ekonom CORE Indonesia, Hendri Saparini, menambahkan, program belanja pemerintah diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat produksi dalam negeri. Anggaran sebaiknya menjadi pengungkit ekonomi daerah dan pencipta lapangan kerja, bukan sekadar belanja jangka pendek.
“Kita hanya mengendalikan dari sisi makro, suku bunganya dikendalikan, harus ada supply pendanaan untuk pengadaan, terus ada bantuan. Memang harus ada kebijakan-kebijakan lain yang mendukung,” jelas Hendri. Kenaikan harga membuat masyarakat memprioritaskan belanja pokok, sehingga konsumsi non-pangan menurun.
Fenomena makan tabungan atau makan pinjaman akan berdampak pada ekonomi karena simpanan masyarakat terserap untuk kebutuhan dasar. Pemerintah dapat menerapkan price control seperti di Malaysia, mengatur harga pangan strategis agar tidak melonjak selama hari besar.
“Harus ada kesungguhan dan political will untuk menjaga masyarakat tidak harus menghadapi harga tinggi saat hari besar,” pungkas Hendri. Langkah-langkah ini diharapkan menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Alif Bais Khoiriyah
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Menteri Lingkungan Hidup Ingatkan Sampah Bali Jaga Citra Pariwisata Indonesia
- Jumat, 06 Maret 2026
Kemenhut Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Untuk Masa Depan
- Jumat, 06 Maret 2026
Berita Lainnya
Menteri Lingkungan Hidup Ingatkan Sampah Bali Jaga Citra Pariwisata Indonesia
- Jumat, 06 Maret 2026
Kemenhut Tegaskan Komitmen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Untuk Masa Depan
- Jumat, 06 Maret 2026








