Selasa, 10 Maret 2026

Kemenperin dan HIMKI Dorong Indonesia Jadi Hub Furnitur Global

Kemenperin dan HIMKI Dorong Indonesia Jadi Hub Furnitur Global
Kemenperin dan HIMKI Dorong Indonesia Jadi Hub Furnitur Global

JAKARTA - Industri furnitur Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di pasar global. 

Selain didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah, sektor ini juga dikenal sebagai industri padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta memberikan dampak ekonomi luas di berbagai daerah. 

Melihat potensi tersebut, pemerintah bersama pelaku industri terus berupaya mendorong transformasi sektor furnitur agar mampu bersaing di tingkat internasional.

Baca Juga

BPS: Tekankan Stabilitas Harga Pangan Kunci Pengendalian Inflasi Nasional

Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai strategi, mulai dari penguatan rantai pasok bahan baku, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pengembangan inovasi desain yang berkelanjutan. 

Sinergi antara pemerintah dan asosiasi industri juga menjadi faktor penting untuk memastikan industri furnitur nasional dapat berkembang secara lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Kolaborasi Pemerintah Dan Industri Furnitur

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) berupaya mengungkit posisi Indonesia sebagai hub manufaktur furnitur global. Di samping mengoptimalkan potensi ekspor, industri furnitur merupakan sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya diestimasikan mencapai lebih dari US$ 736,21 miliar.

"Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan,” ungkap Agus.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan, industri furnitur merupakan sektor manufaktur strategis (strategic manufacturing sector) yang menjadi pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam.

 “Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu.

Tantangan Ekspor Dan Persaingan Global

Meski memiliki potensi besar, sektor industri furnitur nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya terlihat dari kinerja ekspor yang mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Sektor industri furnitur dalam negeri tercatat menghadapi penurunan ekspor sebesar 3% pada tahun 2025 menjadi US$ 1,85 Miliar serta kenaikan impor sebesar 6% menjadi US$ 0,82 Miliar. Kondisi tersebut menunjukkan adanya persaingan yang semakin ketat di pasar global.

Tantangan lainnya berasal dari faktor eksternal seperti kondisi geopolitik yang berdampak pada rantai logistik internasional serta kebijakan lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, pemerintah tetap optimistis untuk memperkuat struktur industri nasional melalui berbagai program peningkatan daya saing. Salah satunya dilakukan dengan mendorong modernisasi mesin produksi serta peningkatan kualitas produk furnitur nasional.

Langkah ini diharapkan dapat membantu industri dalam negeri untuk merebut kembali pasar domestik yang saat ini menyerap 78,39% output manufaktur nasional sekaligus memperluas peluang ekspor ke berbagai negara.

Penguatan Sertifikasi Dan Modernisasi Industri

Indonesia juga memiliki modal penting dalam menjaga daya saing produk furnitur di pasar internasional, terutama melalui penerapan standar keberlanjutan dan legalitas bahan baku.

Dari sisi sertifikasi, Indonesia telah memiliki Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) yang memastikan produk furnitur nasional tetap responsible dan sustainable. Sertifikasi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk furnitur asal Indonesia.

Selain itu, Kemenperin juga berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas industri melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu.

Hingga saat ini, program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimburse mencapai Rp 26,1 Miliar. Program ini memberikan dampak terhadap efisiensi proses sekitar 10,70%, peningkatan mutu produk sekitar 36,28%, serta lonjakan produktivitas mencapai 32,65%.

Ke depan, Kemenperin juga menyiapkan sejumlah strategi penguatan industri melalui lima pilar fasilitasi. Pilar tersebut meliputi ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia yang terampil, riset pasar, peningkatan kapasitas produksi, serta penciptaan iklim usaha yang kondusif melalui insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday.

Peran Pameran Global Dorong Ekspansi Pasar

Upaya memperkuat industri furnitur nasional juga dilakukan melalui promosi di tingkat internasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyambut kolaborasi dengan Kemenperin, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi. Menurutnya, pameran internasional tersebut menjadi sarana penting untuk memperkenalkan produk furnitur Indonesia kepada pasar global.

"Melalui ajang IFEX 2026, HIMKI berkomitmen terus mendorong inovasi desain dan penggunaan material ramah lingkungan. Sinergi ini penting agar produk anggota kami tidak hanya kuat di pasar domestik, namun juga mampu bersaing secara adil di kancah internasional sebagai produk yang berkualitas dan berkelanjutan," ungkap Abdul.

IFEX telah terselenggara pada 5 – 8 Maret 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Agenda yang diselenggarakan oleh HIMKI dan Dyandra Promosindo telah berkembang dari sebuah pameran dagang menjadi platform global yang menghubungkan produsen furnitur Indonesia dengan buyers internasional.

Dengan luasan mencapai sekitar 85.000 meter persegi, IFEX kini menjadi salah satu pameran furnitur terbesar di kawasan Asia Tenggara. Ekspansi skala tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan industri dan pasar internasional terhadap kemampuan Indonesia sebagai salah satu sumber penting furnitur dan kerajinan dunia.

Melalui platform ini, produsen furnitur dari berbagai daerah memiliki kesempatan untuk membangun jaringan bisnis baru serta memperluas akses pasar global. 

Jika kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri terus diperkuat, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusinya dalam pasar furnitur dunia.

Celo

Celo

Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama

Pendapatan PGEO Tembus Rp7,32 Triliun, Kamojang Jadi Kontributor Utama

RISE Percepat Ekspansi Properti Lewat Proyek Baru dan Hotel Surabaya

RISE Percepat Ekspansi Properti Lewat Proyek Baru dan Hotel Surabaya

Solusi Bangun Kembangkan Dermaga dan Produksi Pabrik Tuban Rp1,4 Triliun

Solusi Bangun Kembangkan Dermaga dan Produksi Pabrik Tuban Rp1,4 Triliun

BPS: Tekankan Stabilitas Harga Pangan Kunci Pengendalian Inflasi Nasional

BPS: Tekankan Stabilitas Harga Pangan Kunci Pengendalian Inflasi Nasional

Harga Minyak Dunia Melonjak Pemerintah Jamin BBM Subsidi Stabil Lebaran

Harga Minyak Dunia Melonjak Pemerintah Jamin BBM Subsidi Stabil Lebaran