Breaking

Adira Finance Kelola Struktur Dana Hadapi Tekanan Pasar

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 04 Mei 2026
Adira Finance Kelola Struktur Dana Hadapi Tekanan Pasar
Jejeran Pemegang Saham Adira Finance, Rapat Tahunan

JAKARTA - Adira Finance menyesuaikan strategi pendanaan menyusul kebijakan suku bunga BI dan lonjakan yield obligasi guna menjaga stabilitas beban bunga perusahaan.

Langkah ini diambil untuk mengantisipasi dinamika pasar keuangan global yang terus memberikan tekanan pada biaya dana domestik. Perusahaan pembiayaan ini menyadari bahwa fluktuasi suku bunga acuan akan berdampak langsung pada biaya modal yang dihimpun.

Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi yang sedang dihadapi perusahaan saat ini. Beliau menekankan bahwa transmisi kenaikan suku bunga biasanya memerlukan waktu sebelum dirasakan sepenuhnya oleh industri pembiayaan.

"Tentu kebijakan suku bunga BI dan kenaikan yield obligasi akan berpengaruh pada biaya pendanaan (cost of fund) perusahaan," ujar Gani kepada Kontan, Jumat (3/5), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Pihaknya terus memantau pergerakan pasar agar keputusan pendanaan tetap efisien bagi keberlangsungan bisnis ke depan.

Kenaikan yield obligasi di pasar menjadi indikator utama bahwa biaya pinjaman melalui instrumen surat utang cenderung akan merangkak naik. Gani menjelaskan bahwa fenomena ini memaksa perusahaan untuk lebih selektif dalam memilih instrumen pendanaan yang tersedia.

"Meskipun kenaikan suku bunga biasanya memiliki jeda waktu terhadap cost of fund perusahaan, namun kenaikan yield obligasi akan langsung berdampak pada bunga yang harus dibayarkan perusahaan saat menerbitkan obligasi baru," kata Gani, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Hal ini menunjukkan betapa sensitifnya biaya modal terhadap kondisi makroekonomi saat ini.

Guna meminimalisir risiko, Adira Finance terus melakukan diversifikasi pada sumber pendanaan mereka agar tidak terpaku pada satu kanal saja. Saat ini, perusahaan masih memiliki fleksibilitas tinggi dalam menarik dana dari perbankan maupun pasar modal domestik.

"Saat ini, Adira Finance memiliki sumber pendanaan yang terdiversifikasi mulai dari pinjaman bank baik lokal maupun luar negeri, serta penerbitan obligasi dan sukuk," kata Gani, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Komposisi ini diharapkan mampu memberikan ruang gerak yang lebih luas dalam menjaga margin keuntungan.

Hingga periode Maret 2024, perusahaan mencatat total pinjaman yang berasal dari eksternal mencapai angka signifikan sebesar Rp 16,3 triliun. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 14% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Secara rinci, komposisi utang tersebut terdiri dari porsi pinjaman bank yang mendominasi sebesar 49% dari total kewajiban. Sementara itu, sisa pendanaan sebesar 51% bersumber dari instrumen surat berharga berupa obligasi dan juga sukuk.

Meskipun beban bunga diprediksi meningkat, performa penyaluran kredit perusahaan tetap menunjukkan tren positif yang sangat menggembirakan. Adira Finance berhasil mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan yang dikelola mencapai Rp 58,1 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Angka piutang tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 20% secara tahunan dibandingkan dengan capaian pada kuartal satu tahun 2023. Perusahaan optimis bahwa permintaan kendaraan bermotor dan pembiayaan lainnya masih akan tetap stabil di masyarakat.

Untuk mendukung ekspansi bisnis tersebut, manajemen telah merencanakan penerbitan instrumen utang baru dalam waktu dekat ini. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemenuhan target modal kerja yang telah ditetapkan dalam rencana kerja tahunan.

"Ke depannya, perusahaan berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VI Adira Finance Tahap III dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan V Adira Finance Tahap III pada kuartal II-2024," ungkap Gani, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Target dana yang ingin dihimpun melalui penerbitan ini dipatok mencapai Rp 2 triliun.

Selain mengandalkan modal eksternal, perusahaan juga didukung oleh skema pembiayaan bersama dengan induk usaha mereka yaitu Bank Danamon. Sinergi ini terbukti efektif dalam menjaga likuiditas perusahaan di tengah ketatnya persaingan pasar keuangan saat ini.

"Adira Finance terus mendiversifikasi sumber pendanaannya untuk memperoleh biaya pendanaan yang kompetitif," pungkas Gani, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Dengan strategi yang komprehensif, Adira Finance yakin mampu menghadapi tantangan kenaikan yield obligasi dan suku bunga BI.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua