PBID Andalkan Multi Supplier Antisipasi Gejolak di Timur Tengah
- Minggu, 10 Mei 2026
JAKARTA – PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) mengandalkan strategi multi supplier untuk menjaga pasokan bahan baku di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga minyak dan bahan baku petrokimia global.
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk Vicky Taslim mengungkapkan, perusahaan tidak bergantung pada satu pemasok bahan baku biji plastik untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik.
“Di setiap bahan biji plastik yang kami beli, minimal ada empat sampai lima backup supplier. Jadi kami tidak boleh bergantung sama satu,” ujar Vicky dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (8/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Baca JugaProyeksi IHSG Minggu Depan Naik Tipis 0,18 Persen atau Rebound Terbatas
Menurut dia, pemasok bahan baku PBID berasal dari berbagai perusahaan petrokimia, baik domestik maupun global, seperti Chandra Asri, Lotte Chemical, Polytama, Chevron Phillips, ExxonMobil, PTT hingga SCG.
Strategi tersebut dinilai penting mengingat industri petrokimia sangat rentan terhadap gangguan geopolitik dan fluktuasi harga energi global.
Vicky mencontohkan, saat konflik geopolitik memanas dan salah satu produsen petrokimia nasional mengumumkan force majeure, operasional PBID tetap berjalan normal karena masih memiliki alternatif pasokan dari pemasok lain.
“Pada saat salah satu produsen biji plastik terbesar di Indonesia mengumumkan force majeure, di kami tidak pengaruh karena supplier lain masih ada,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Selain mengandalkan diversifikasi pemasok, perusahaan juga menjaga ketersediaan stok bahan baku pada level aman agar tidak perlu melakukan panic buying ketika harga melonjak.
Menurut Vicky, PBID memilih menjaga keseimbangan persediaan tanpa melakukan spekulasi berlebihan terhadap pergerakan harga bahan baku.
“Kami tidak panic buying. Kami jaga feedstock cukup nyaman sehingga kalau ada kejadian seperti itu kami tidak perlu ikut berebut beli,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia mengungkapkan, harga biji plastik sempat melonjak signifikan sejak konflik geopolitik memanas. Namun, dalam beberapa waktu terakhir harga mulai mengalami koreksi seiring meredanya ketegangan pasar.
Di sisi lain, PBID menilai dampak terbesar dari konflik berkepanjangan bukan hanya risiko pasokan bahan baku, tetapi juga potensi inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.
Vicky mengatakan, kenaikan harga energi dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan sektor barang konsumsi secara lebih luas.
“Kalau perangnya berkepanjangan, saya lebih mengkhawatirkan tingkat inflasinya,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Meski menghadapi tekanan global, PBID tetap optimistis terhadap prospek bisnis tahun 2026. Perusahaan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 10% seiring meningkatnya permintaan consumer packaging, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Gemilang Ramadhan
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kolaborasi Nasional, Gerakan Indonesia ASRI Libatkan Semua Elemen Bangsa
- Kamis, 16 April 2026
Peran Krusial Tendik Dorong Kualitas Kampus Adaptif Berkelanjutan Nasional
- Jumat, 10 April 2026
Berita Lainnya
Saham EURO Melesat 1,342 Persen dan Lepas dari Papan Pemantauan Khusus
- Minggu, 10 Mei 2026












