Harga CPO Malaysia Anjlok Dipicu Faktor Stok dan Pasar China
- Rabu, 13 Mei 2026
JAKARTA – Nilai kontrak Crude Palm Oil (CPO) pada Bursa Malaysia Derivatives (BMD) merosot pada Selasa (12/5/2026). Penurunan tersebut dipicu oleh tekanan dari pasar minyak nabati China serta bertambahnya persediaan sawit di Malaysia.
Menilik data BMD saat penutupan Selasa (12/5/2026), kontrak berjangka CPO untuk periode Mei 2026 merosot 44 Ringgit Malaysia ke angka 4.451 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 turut melemah 34 Ringgit Malaysia ke posisi 4.450 Ringgit Malaysia per ton.
Adapun kontrak berjangka CPO Juli 2026 mengalami koreksi sebesar 35 Ringgit Malaysia menjadi 4.481 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Agustus 2026 terpangkas 28 Ringgit Malaysia ke level 4.504 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO September 2026 melemah 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak berjangka CPO Oktober 2026 turun 23 Ringgit Malaysia ke angka 4.525 Ringgit Malaysia per ton.
Baca JugaUpdate Harga BBM Pertamina 13 Mei 2026 Pertamina Dex Naik 2.400 Rupiah
Melansir Tradingview, harga CPO berubah arah usai sempat menguat pada periode sebelumnya. Penurunan terjadi berbarengan dengan tekanan dari pasar minyak nabati China, terutama olein sawit Dalian yang terdampak aksi jual sepanjang sesi perdagangan Asia.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, “Pasar terbebani tekanan jual pada kontrak palm olein Dalian selama sesi perdagangan Asia,” ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur.
Pada pasar China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian menanjak 0,16%, namun kontrak minyak sawit merosot 1,35%. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) mengalami penguatan sebesar 0,81%.
Pergerakan harga minyak sawit lazimnya mengekor rivalnya di pasar minyak nabati dunia karena adanya persaingan dalam pasar global.
Harga Minyak Melonjak
Dari sudut lain, harga minyak mentah dunia melambung tinggi setelah peluang tercapainya perdamaian terkait konflik AS-Iran mulai menipis. Melompatnya harga minyak mentah menjadikan CPO lebih kompetitif sebagai bahan baku biodiesel.
Akan tetapi, sentimen pasar juga terpengaruh oleh naiknya stok minyak sawit Malaysia pada bulan April yang merupakan kenaikan perdana dalam kurun empat bulan terakhir.
Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) memperlihatkan stok menanjak lantaran penurunan angka ekspor di tengah lonjakan hasil produksi dan kenaikan impor.
Hasil survei Intertek Testing Services menaksir ekspor produk sawit Malaysia untuk masa 1-10 Mei naik 8,5% dibanding bulan sebelumnya. Namun, lembaga survei independen AmSpec Agri Malaysia justru memprediksi ekspor merosot 10,8% pada periode serupa.
Di saat bersamaan, nilai tukar ringgit Malaysia melemah 0,31% atas dolar AS, yang menyebabkan harga CPO menjadi sedikit lebih ekonomis bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Daftar Harga Kontrak CPO BMD (12 Mei 2026)
Berikut adalah rincian penurunan harga kontrak berjangka CPO:
Kontrak Mei 2026: 4.451 Ringgit Malaysia (Turun 44 RM)
Kontrak Juni 2026: 4.450 Ringgit Malaysia (Turun 34 RM)
Kontrak Juli 2026: 4.481 Ringgit Malaysia (Turun 35 RM)
Kontrak Agustus 2026: 4.504 Ringgit Malaysia (Turun 28 RM)
Kontrak September 2026: 4.515 Ringgit Malaysia (Turun 26 RM)
Kontrak Oktober 2026: 4.525 Ringgit Malaysia (Turun 23 RM)
Gemilang Ramadhan
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Kolaborasi Nasional, Gerakan Indonesia ASRI Libatkan Semua Elemen Bangsa
- Kamis, 16 April 2026
Peran Krusial Tendik Dorong Kualitas Kampus Adaptif Berkelanjutan Nasional
- Jumat, 10 April 2026












