Breaking

Rotasi Pasar Modal: Sektor Perbankan Kembali Kuasai BEI

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 20 Mei 2026
Rotasi Pasar Modal: Sektor Perbankan Kembali Kuasai BEI
Ilustrasi IDX BEI (Foto: NET)

JAKARTA – Peta kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergeseran yang amat kentara sepanjang beberapa bulan terakhir.

Posisi saham-saham konglomerasi yang sebelumnya bertengger di peringkat atas kini kian menyusut. Hal ini terjadi seiring dengan kembalinya sektor keuangan, terutama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), ke posisi puncak. Sampai hari Selasa (19/5/2026), tidak ada lagi satu pun emiten di BEI yang memiliki nilai kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun.

Kondisi tersebut bertolak belakang dengan situasi pada penutupan tahun 2025. Saat itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyedot perhatian setelah nilai kapitalisasi pasarnya menembus Rp 1.298 triliun atau setara dengan 8,19 persen dari total kapitalisasi pasar saham. 

Namun, pencapaian itu kini merosot sangat dalam. Nilai kapitalisasi pasar BREN jatuh ke kisaran Rp 404 triliun, sehingga kontribusinya terhadap pasar menyusut menjadi 3,64 persen. Posisi teratas yang dulu digenggamnya kini terlempar ke urutan keempat dalam jajaran emiten terbesar di BEI.

Sebaliknya, BBCA kembali memperkokoh kedudukannya sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar paling masif di BEI. Nilainya tercatat berada di kisaran Rp 726 triliun atau setara 6,54 persen dari total kapitalisasi bursa. 

Padahal pada akhir tahun 2025, BBCA berada di posisi kedua dengan nilai kapitalisasi sekitar Rp 985 triliun, sebelum akhirnya sempat tergeser akibat lonjakan tajam saham-saham konglomerasi.

Perubahan posisi ini juga dialami oleh beberapa emiten non-perbankan lainnya. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat penurunan yang terbilang besar, di mana posisinya yang semula berada di urutan keempat dengan kapitalisasi Rp 606 triliun kini merosot ke kisaran Rp 270 triliun. 

Sementara itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang sebelumnya sukses menembus peringkat tiga besar, kini justru tersingkir dari kelompok 10 besar kapitalisasi pasar BEI.

Di sisi lain, kelompok saham perbankan kembali menguasai papan atas. Selain BBCA, dua bank besar lainnya yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kini turut mengisi daftar enam besar emiten berkapitalisasi pasar terbesar di BEI. 

Kondisi ini menandakan kembalinya dominasi sektor keuangan setelah sempat tergeser dalam waktu singkat oleh saham-saham konglomerat.

Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menilai bahwa rotasi ini menjadi titik penting untuk melihat arah pergerakan pasar modal domestik ke depan. Menurutnya, para investor asing saat ini semakin selektif dan tidak hanya terpaku pada besarnya nilai kapitalisasi pasar semata.

"Pasar sekarang mulai kembali membedakan market cap riil dengan market cap semu. Investor global lebih peduli free float, governance, likuiditas, dan transparansi dibanding sekadar angka kapitalisasi pasar," ujarnya, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Edwin menambahkan bahwa merosotnya kapitalisasi pasar tidak serta-merta mencerminkan kinerja fundamental emiten yang memburuk. Dalam banyak kasus, situasi yang terjadi merupakan bentuk penyesuaian valuasi yang wajar setelah mengalami fase lonjakan harga yang sudah terlampau tinggi.

"Yang runtuh pertama kali bukan operasional bisnisnya, tetapi persepsi valuasi pasar. Sekarang investor mulai masuk ke fase ‘show me the earnings," katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Merujuk pada penjelasan Edwin, penurunan nilai kapitalisasi dari sejumlah emiten raksasa tersebut juga ikut memengaruhi bobot saham terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Efeknya, ketergantungan indeks terhadap beberapa saham konglomerat mulai berkurang secara bertahap. 

Untuk jangka panjang, ia memperkirakan struktur bursa berpotensi bergerak lebih seimbang dengan kontribusi dari berbagai sektor, mulai dari keuangan, barang konsumsi, telekomunikasi, komoditas, energi, hingga manufaktur. Kondisi tersebut dinilai jauh lebih sehat ketimbang postur pasar sebelumnya yang terlalu terfokus pada segelintir sektor.

Pandangan yang mirip juga disampaikan oleh Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus. 

Ia menilai bahwa jatuhnya nilai kapitalisasi saham-saham milik grup konglomerasi sangat berkaitan dengan aksi penjualan portofolio oleh investor asing pada saham-saham tersebut.

"Ketika harga saham turun cukup dalam, market cap juga ikut turun. Ini menunjukkan pelaku pasar, khususnya asing, keluar dari saham tersebut," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nico melihat pergerakan pasar saat ini cenderung lebih berhati-hati, dengan memprioritaskan emiten yang ditopang oleh fundamental yang kuat, rencana ekspansi yang cerah, serta likuiditas yang cukup untuk menjaga stabilitas pergerakan harga. 

Di tengah kondisi pasar yang dinamis ini, ia menyarankan para pelaku pasar untuk mencermati barisan saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, serta TPIA yang dinilai masih kokoh dalam menghadapi gejolak pasar saat ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua