Breaking

Bursa Asia Tertekan akibat Kekhawatiran Inflasi Gelombang Kedua

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 20 Mei 2026
Bursa Asia Tertekan akibat Kekhawatiran Inflasi Gelombang Kedua
Ilustrasi Bursa Asia Tertekan. (Sumber Gambar: NET)

JAKARTA – Zona pasar modal di Asia kembali berada di bawah tekanan besar akibat meroketnya yield obligasi Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga komoditas energi. Kondisi tersebut memicu para pelaku pasar untuk menjauhi instrumen investasi yang berisiko.

Pada pergelaran pasar Rabu, 20 Mei 2026, indeks Nikkei 225 tercatat melemah 1,64 persen ke posisi 59.557,02. Sementara itu, pergerakan indeks Kospi terpantau bergerak fluktuatif setelah sempat dibuka pada level 7.324,52 dan menyentuh titik terendahnya di angka 7.053,84. 

Untuk pasar saham China, indeks Shanghai Composite justru menguat 0,92 persen ke level 4.169,54, sedangkan indeks Hang Seng stagnan di posisi 25.797,85.

Pelemahan yang terjadi di pasar Asia ini mengikuti tren buruk yang menimpa Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 0,65 persen, S&P 500 berkurang 0,67 persen, dan Nasdaq mengalami depresiasi sebesar 0,84 persen. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Reuters melaporkan, “Indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah pada Selasa dengan Nasdaq memimpin penurunan.”

Lonjakan tingkat pengembalian (yield) obligasi AS menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju aset berisiko di tingkat global. 

Yield US Treasury bertenor 10 tahun kini berada di level 4,667 persen, sementara yield obligasi untuk jangka waktu 30 tahun sempat melesat mendekati 5,2 persen, sebuah rekor tertinggi yang belum pernah terjadi lagi sejak tahun 2007.

Saat ini, para pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve. Hal ini disebabkan oleh harga energi yang kembali merangkak naik akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. 

Harga minyak mentah Brent berada di posisi USD110,85 per barel, sedangkan minyak jenis WTI diperdagangkan di kisaran USD107,77 per barel. Melambungnya biaya energi ini semakin memperkuat kecemasan para investor terhadap ancaman inflasi gelombang kedua di tingkat global.

Di sisi lain, penguatan mata uang dolar AS turut membebani pergerakan bursa saham Asia. WSJ Dollar Index terpantau naik 0,35 persen menuju level 95,99, yang menjadi posisi tertinggi sejak 7 April 2026. Indeks dolar AS (DXY) juga merangkak mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir di posisi 99,255.

Beralih ke China, gairah pasar masih terganjal oleh melambatnya data indikator ekonomi untuk periode April 2026. Sektor produksi industri China tercatat hanya tumbuh 4,1 persen secara tahunan, mengalami penurunan dibandingkan capaian bulan Maret yang menyentuh 5,7 persen. 

Sementara itu, angka penjualan ritel hanya mengalami kenaikan sebesar 0,2 persen, berada di bawah estimasi pasar. Kinerja tersebut memicu spekulasi bahwa People's Bank of China (PBOC) akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga pinjaman acuan atau loan prime rate (LPR) mereka. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Reuters menyebutkan, “China diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya tidak berubah untuk bulan ke-12 berturut-turut pada Mei.”

Sementara itu di Jepang, pertumbuhan ekonomi dilaporkan berjalan lebih kuat dari perkiraan awal. Produk domestik bruto (PDB) Jepang naik dengan kecepatan tahunan sebesar 2,1 persen pada kuartal pertama tahun 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Associated Press melaporkan, “Ekonomi Jepang tumbuh pada laju tahunan 2,1 persen pada kuartal Januari-Maret 2026.” Kendati demikian, publikasi data ini malah memperkuat dugaan pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BoJ). Dampaknya, saham-saham Jepang yang sensitif terhadap kenaikan biaya modal serta tarif energi kembali mendapatkan tekanan ekonomi.

Sektor industri teknologi dan semikonduktor masih terus menjadi fokus utama para investor di Asia. Tren kenaikan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di Korea Selatan yang sebelumnya dipimpin oleh Samsung serta SK Hynix mulai terimbas sentimen negatif akibat koreksi yang terjadi pada Nasdaq serta kenaikan yield global. 

Di bagian lain, sektor energi tetap menjadi penggerak utama pasar karena lonjakan harga minyak bumi memperbesar risiko inflasi bagi negara-negara net-impor energi seperti Jepang dan Korea Selatan.

Pasar saat ini juga terus memantau dinamika geopolitik antara Iran dan AS. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Reuters melaporkan Presiden Donald Trump menangguhkan proyeksi serangan terhadap Iran usai hadirnya draf perdamaian, kendati pilihan untuk meluncurkan tindakan militer dikabarkan masih terbuka.

Para penanam modal kini menilai bahwa kombinasi antara kenaikan yield obligasi, keperkasaan kurs dolar AS, serta tingginya harga minyak mentah dunia menjadi faktor-faktor fundamental yang dapat menahan laju penguatan pasar saham Asia dalam jangka pendek.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua