Breaking

Bursa Eropa Menguat Usai ECB Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Bursa Eropa Menguat Usai ECB Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Basis Poin
Bursa Eropa menguat setelah ECB menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

JAKARTA – Pasar saham Eropa mengalami penguatan pada aktivitas perdagangan hari Kamis, yang sekaligus menyudahi tren penurunan selama empat hari berturut-turut. Para investor tampaknya memilih untuk tidak memedulikan eskalasi pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai Iran, dan lebih memusatkan perhatian pada kebijakan terbaru Bank Sentral Eropa terkait suku bunga mereka.

Indeks pan-Eropa STOXX 600 berakhir menguat sebesar 0,54 persen di level 621,53, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Sebagian besar pasar saham utama di wilayah Eropa bergerak di zona hijau sebagai bentuk reaksi dari para pelaku pasar atas keputusan Bank Sentral Eropa yang mengerek suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin.

Pada pergerakan indeks negara, DAX Jerman tercatat naik sebesar 0,06 persen ke posisi 24.209,71, kemudian FTSE 100 Inggris tumbuh sebesar 0,48 persen menuju level 10.303,88, dan CAC Prancis mengalami peningkatan sebesar 0,48 persen ke angka 8.200,80. 

Langkah menaikkan suku bunga ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan dalam kurun waktu hampir tiga tahun belakangan, dipicu oleh semakin tingginya perkiraan terhadap inflasi.

Kepala Global Makro ING, Carsten Brzeski, memberikan pandangan bahwa kebijakan peningkatan suku bunga itu dinilai belum terlalu masif untuk bisa mengerem laju pertumbuhan ekonomi di kawasan zona euro. 

Menurut pandangannya, risiko yang bakal dihadapi seandainya ECB tidak melakukan langkah apa pun justru akan jauh lebih besar ketimbang efek buruk terhadap roda pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga tersebut.

Di sisi lain, sektor-sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kebijakan suku bunga terpantau bergerak melorot, di mana indeks jasa keuangan mengalami penurunan sebesar 0,7 persen. 

Saham dari perusahaan pengelola aset ICG jatuh sebesar 4,7 persen dan Partners Group merosot sebesar 3 persen, sedangkan untuk saham di sektor properti mengalami koreksi sebesar 0,8 persen.

Laju penguatan di pasar saham sempat tertahan sebagian setelah Trump mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat bakal melancarkan serangan yang sangat masif ke Iran pada waktu malam hari. 

Ucapan itu seketika memicu gejolak pada harga komoditas energi, hingga membuat minyak mentah berakhir menguat sebesar 0,5 persen di harga 93,58 dolar Amerika Serikat per barel.

Untuk pergerakan di sektor teknologi, saham-saham di bidang semikonduktor terpantau melaju kencang yang disokong oleh melonjaknya saham BE Semiconductor sebesar 6,6 persen serta melejitnya saham ASM International sebanyak 7,3 persen. 

Berbanding terbalik, saham di bidang perangkat lunak justru berada dalam tekanan usai Oracle melaporkan adanya penurunan performa yang cukup dalam, sehingga memengaruhi psikologis pasar secara menyeluruh.

Saham SAP mengalami kejatuhan sebesar 6,6 persen, Capgemini merosot hingga 4,2 persen, dan Dassault Systemes terpangkas sebanyak 5,8 persen. 

Beban pasar kian bertambah setelah UBS mengubah penilaian mereka terhadap saham teknologi informasi di Eropa menjadi "neutral" dengan pertimbangan nilai valuasi yang dinilai sudah terlalu tinggi.

Sementara itu pada sektor non-teknologi, saham Halma mengalami anjlok yang cukup dalam mendekati 15,4 persen disebabkan oleh prediksi proyeksi pertumbuhan pendapatan perusahaan yang mengalami perlambatan. 

Di kutub berbeda, saham Hugo Boss justru meroket hingga 9,1 persen pasca Frasers Group mengajukan proposal penawaran untuk proses akuisisi dengan nilai mencapai 2,3 billion atau miliar dolar Amerika Serikat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua