Breaking

Bursa Asia Melonjak Tajam, IHSG Berpotensi Naik Menuju 6.000

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Bursa Asia Melonjak Tajam, IHSG Berpotensi Naik Menuju 6.000
Ilustrasi Bursa saham Asia dibuka menguat mengikuti tren positif di Wall Street dan Eropa. (Gambar: NET)

JAKARTA – Pasar saham di kawasan Asia mencatatkan penguatan signifikan menjelang akhir pekan, meneruskan tren positif yang terjadi pada indeks saham di Eropa dan Wall Street. Gairah para pelaku pasar meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa ketegangan politik di Timur Tengah berpotensi segera usai.

Trump menyampaikan kepada para jurnalis di Ruang Oval bahwa Amerika Serikat "baru saja mencapai penyelesaian besar atas perang dengan Iran," sebagaimana dilansir dari berita sumber. Ia memprediksi bahwa proses penandatanganan kesepakatan damai tersebut akan terlaksana dalam beberapa hari mendatang.

"Dokumen-dokumennya sudah hampir final. Seharusnya bisa selesai dan selesai dengan sangat cepat," ujar Trump, sebagaimana dilansir dari berita sumber. Indeks ASX 200 di Australia mencatatkan lonjakan sebesar 1,54 persen, sementara indeks Kospi di Korea Selatan melesat hingga 7,01 persen.

Selanjutnya, indeks Nikkei 225 di Jepang bergerak menguat sebesar 3,48 persen menuju level 66.559,69, sedangkan kontrak berjangka untuk indeks Hang Seng Hong Kong berada pada posisi 24.376. 

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada di bawah bayang-bayang tekanan jual, namun tetap memiliki momentum untuk berbalik menguat ke kisaran level 6.000.

Aktivitas perdagangan saham di Wall Street sendiri ditutup melesat tinggi setelah Trump membatalkan agenda serangan militer terhadap Iran. 

Para investor kembali memburu aset-aset berisiko, yang juga didorong oleh antusiasme pasar menyambut peluncuran perdana saham atau IPO SpaceX yang memiliki nilai valuasi sekitar 75 miliar dolar Amerika Serikat.

Kondisi serupa terjadi di bursa-bursa utama Eropa yang berakhir di zona hijau setelah Bank Sentral Eropa mengambil kebijakan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. 

Sektor semikonduktor menjadi motor utama penguatan pasar, meskipun sektor properti dan jasa keuangan menunjukkan pergerakan yang cenderung lebih lesu.

Di pasar valuta asing New York, nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan seiring meningkatnya harapan positif terhadap tercapainya kesepakatan damai. 

Sebaliknya, mata uang euro, poundsterling, yen, dan franc Swiss terpantau bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Sementara itu, harga minyak mentah global ditutup merosot tajam lantaran batalnya rencana aksi militer ke Iran berhasil meredakan tensi geopolitik.

Meski demikian, penyusutan cadangan minyak mentah domestik Amerika Serikat sebanyak 7,2 juta barel menjadi penahan kejatuhan harga komoditas energi ini lebih dalam.

Untuk komoditas lainnya, harga emas spot melonjak sebesar 2 persen ke level 4.153,71 dolar Amerika Serikat per ounce akibat berkurangnya peluang kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat. 

Namun, harga emas berjangka Amerika Serikat justru mengalami penurunan sebesar 0,5 persen ke angka 4.114 dolar Amerika Serikat per ounce.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua