Breaking

Simak Prospek Saham Emiten Emas di Tengah Tren Pelemahan Harga Dunia

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Simak Prospek Saham Emiten Emas di Tengah Tren Pelemahan Harga Dunia
ILUSTRASI, tambang emas (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Tren penurunan harga emas dunia terpantau masih berlangsung sampai sekarang. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan emiten produsen emas perlu memperhatikan secara saksama dampak yang bisa muncul akibat penurunan harga komoditas tersebut.

Merujuk pada data dari situs Trading Economics, harga emas dunia mengalami penurunan sebesar 9,03% dalam jangka waktu seminggu terakhir hingga menyentuh level US$ 4.070,64 per ons troi pada hari Kamis (11/6/2026) jam 19.45 WIB. 

Saat ini, pergerakan harga emas tercatat sudah terkoreksi sebesar 5,77% year to date (ytd) jika dihitung sejak awal tahun ini.

Pihak PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melihat bahwa fluktuasi harga komoditas merupakan siklus lumrah dalam industri yang mesti direspons dengan pengelolaan secara hati-hati. 

Di waktu yang sama, ANTM menganggap ketertarikan pasar domestik terhadap emas tetap memperlihatkan arah yang positif sejalan dengan besarnya kesadaran para warga untuk berinvestasi pada instrumen berbasis emas.

"Perusahaan terus berfokus pada penguatan fundamental operasional, efisiensi biaya, serta pengembangan hilirisasi untuk menjaga kinerja yang berkelanjutan di tengah dinamika pasar," ujar Corporate Secretary Aneka Tambang Wisnu Danandi Haryanto, Kamis (11/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah utama yang dijalankan oleh ANTM yaitu mengupayakan keseimbangan antara optimalisasi di sektor operasional, penghematan biaya, serta penguatan ceruk pasar dalam negeri. 

ANTM senantiasa menaikkan kualitas pelayanan sekaligus memperluas jangkauan masyarakat untuk mendapatkan produk emas ANTAM lewat bermacam pilihan saluran distribusi dan kolaborasi bersama para rekanan strategis.

Menurut pandangan Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, posisi harga emas saat ini pada dasarnya masih berada di atas nilai impas atau breakeven milik emiten. 

Berkat kondisi tersebut, selisih keuntungan para emiten dinilai masih dapat dipertahankan dengan cukup baik di atas kertas.

Walakin, Wafi berpendapat terdapat kelompok emiten tertentu yang memiliki peluang paling besar untuk merasakan dampak dari tren penurunan harga emas ini. 

Dia mencontohkan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang dipandang punya sensitivitas cukup tinggi terhadap fluktuasi harga jual rata-rata atau average selling price.

Bukan hanya itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dinilai juga terbilang ringkih untuk ikut tertekan karena memiliki eksposur pada komoditas tembaga dan/atau nikel. “Pelemahan harga emas kali ini lebih de-risking valuasi premium sektor tersebut,” kata dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Apabila ditinjau secara umum, peluang ekspansi kinerja bagi emiten produsen emas dinilai masih terbuka cukup lebar pada tahun 2026, khususnya bila dilihat berdasarkan kapasitas produksinya. 

Perusahaan seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan MDKA lewat PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bakal diuntungkan berkat target perolehan produksi yang sangat besar pada tahun ini, yakni berturut-turut sebesar 80.000 ons troi dan 100.000—115.000 ons troi.

Besarnya volume produksi tersebut dipercaya mampu meredam risiko akibat rendahnya average selling price seiring melemahnya nilai emas di pasar global. 

Faktor pendorong positif lainnya datang dari depresiasi nilai tukar rupiah yang memberi keuntungan bagi emiten berpendapatan mata uang dolar AS, ditambah adanya aktivitas akumulasi pembelian emas oleh jajaran bank sentral dunia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, ikut mengemukakan bahwa kondisi harga emas yang sedang tertekan menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pihak emiten. 

Di tengah situasi seperti ini, mendongkrak volume produksi kerap dipilih sebagai taktik demi mempertahankan laju pendapatan, kendati penerapannya sangat bergantung pada efisiensi di lini operasional.

“Jika peningkatan volume produksi diikuti oleh peningkatan variabel biaya yang besar, maka laba bersih emiten tetap akan tertekan,” ungkap dia, Kamis (11/6), sebagaimana dilansir dari berita sumber. Sebaliknya, emiten yang sanggup mengendalikan struktur pengeluaran agar tetap efisien akan lebih gampang dalam mempertahankan konsistensi tingkat profitabilitasnya.

Bukan cuma efisiensi, emiten juga perlu memikirkan keputusan strategis untuk jangka panjang seperti melaksanakan eksplorasi cadangan baru guna memperpanjang masa pakai lahan tambang. 

Tren permintaan emas yang sedang tinggi pun wajib dimanfaatkan secara optimal melalui pengerjaan ekspansi fasilitas pengolahan demi memperkokoh daya saing korporasi.

Nafan memberikan rekomendasi beli untuk saham ANTM dengan target harga mencapai Rp 3.390 per saham, serta rekomendasi akumulasi beli untuk saham BRMS dan HRTA dengan target nilai masing-masing pada angka Rp 775 dan Rp 2.970 per saham. 

Di sisi lain, Wafi memberikan saran kepada para penanam modal untuk melirik BRMS dan ANTM sebagai saham pilihan utama karena didukung faktor kapasitas produksi yang besar sekaligus adanya diversifikasi usaha yang dijalankan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua