Breaking

Industri Baja Minta Enam Dukungan Kebijakan demi Genjot Ekspor

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Senin, 15 Juni 2026
Industri Baja Minta Enam Dukungan Kebijakan demi Genjot Ekspor
ILUSTRASI, Industri Baja (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Industri baja domestik menyatakan kesiapannya untuk menyokong target pemerintah dalam mendongkrak porsi ekspor manufaktur dari 20% menjadi 30% dari seluruh penjualan industri nasional. Kendati demikian, para pelaku industri berpendapat bahwa beberapa dukungan kebijakan sangat dibutuhkan agar target tersebut bisa diraih dengan maksimal.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara menyampaikan, pihaknya merespons positif target tersebut karena memperlihatkan komitmen pemerintah dalam memperkuat daya saing industri domestik, khususnya di sektor hilirisasi besi dan baja, serta memperlebar jangkauan produk Indonesia ke pasar internasional.

“Dari sisi industri baja, kapasitas produksi nasional masih memiliki ruang untuk mendukung peningkatan produksi, khususnya untuk kebutuhan ekspor,” ujar Harry sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, perluasan penjualan ekspor dapat menjadi salah satu sarana untuk memaksimalkan utilisasi industri baja domestik sekaligus memperkokoh efisiensi operasional secara menyeluruh. 

Namun, Harry mengingatkan bahwa peningkatan ekspor harus dijalankan secara terencana dengan menitikberatkan pada produk-produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Di samping itu, kebutuhan pasar dalam negeri pun harus tetap dijadikan prioritas utama.

“Ekspor harus dilakukan secara terukur dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri yang masih menjadi prioritas,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Demi menyokong peningkatan ekspor manufaktur tersebut, IISIA berpandangan bahwa pemerintah wajib memperkuat sejumlah kebijakan strategis. 

Pertama, memperkokoh instrumen perlindungan perdagangan demi menangkal praktik dumping dan lonjakan impor yang berisiko menekan industri domestik.

Kedua, menaikkan efisiensi logistik serta infrastruktur kepelabuhanan untuk memangkas biaya distribusi ekspor maupun impor bahan baku.

Ketiga, menyokong transformasi industri hijau lewat insentif investasi, akses pendanaan, serta pengembangan teknologi rendah karbon. 

Langkah ini dipandang krusial agar produk baja asal Indonesia tetap memiliki daya saing di pasar global yang kian memprioritaskan aspek keberlanjutan. 

Keempat, pemerintah perlu memperluas kerja sama perdagangan internasional dan memperkuat diplomasi ekonomi demi membuka akses pasar baru sekaligus mengikis hambatan tarif maupun non-tarif di negara tujuan ekspor.

Bukan hanya itu, Harry pun menyoroti krusialnya konsistensi harga energi, terutama penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang dinilai masih belum merata serta belum konsisten di berbagai sektor industri.

“Stabilitas dan kepastian harga energi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri baja nasional,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

IISIA juga mengharapkan pemerintah bersedia mengucurkan insentif ekspor, baik berupa insentif perpajakan maupun skema pendanaan dengan suku bunga khusus bagi para eksportir. 

Menurut Harry, langkah kebijakan tersebut dapat memberikan stimulasi langsung bagi daya saing produk domestik di pasar internasional.

Melalui dukungan kebijakan yang tepat, Harry merasa optimistis bahwa industri baja domestik tidak sekadar mampu mencukupi kebutuhan pembangunan dalam negeri, melainkan juga dapat menjadi salah satu penyumbang utama dalam merealisasikan target peningkatan ekspor manufaktur Indonesia.

“Industri baja berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mendukung target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah,” tutupnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua