Breaking

The Fed Tahan Suku Bunga 3,5-3,75 persen Rupiah Rawan Melemah

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 18 Juni 2026
The Fed Tahan Suku Bunga 3,5-3,75 persen Rupiah Rawan Melemah
Ilustrasi Rupiah dan dolar (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Federal Reserve (The Fed) mempertahankan tingkat suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate di kisaran 3,5-3,75 persen dalam pertemuan perdana yang dipimpin oleh Ketua The Fed Kevin Warsh pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat. Meskipun kebijakan ini sesuai dengan prediksi pasar, bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut justru memberi sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga masih terbuka untuk kebijakan ke depan.

Berdasarkan data CNBC International, Kamis (18/6/2026), Federal Open Market Committee (FOMC) mengambil keputusan untuk tetap menjaga Federal Funds Rate di rentang 3,5-3,75 persen. 

Tingkat bunga acuan ini terpantau tidak berubah sejak terakhir kali The Fed memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin (bps) pada paruh kedua tahun 2025.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa ketetapan The Fed yang mempertahankan suku bunga ini berpotensi menyebabkan penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Menurut pandangannya, pergerakan rupiah saat ini tidak hanya ditentukan oleh kebijakan moneter Negeri Paman Sam, tetapi juga didorong oleh berbagai faktor eksternal lain, seperti memanasnya kembali isu perang dagang antara AS dan Tiongkok.

“Pada saat Bank Sentral Amerika mempertahankan suku bunga, kemungkinan besar rupiah akan melemah,” ujar Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (17/6/2026).

“Karena rupiah sendiri pun bukan berkiblat terhadap keputusan Bank Sentral yang mempertahankan suku bunga juga. Karena di sini pun juga akan membahas tentang masalah perang dagang. Ya perang dagang sudah mulai lagi genderang antara Amerika dan Tiongkok,” paparnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup jatuh pada sesi perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda tersebut melemah sebesar 37 poin atau terkoreksi 0,21 persen ke posisi Rp 17.762 per dolar AS.

Ibrahim memperkirakan nilai kurs rupiah berpotensi terus merosot hingga mencapai level Rp 18.500 per dolar AS. Proyeksi ini dinilai lebih rendah bila dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp 19.000 per dolar AS.

“Kemarin saya pernah bilang rupiah bisa ke Rp 19.000 per dollar AS apabila Selat Hormuz tetap ditutup, kemudian dollar masih akan terus penguat, perang masih berjalan, tapi ini tidak lagi kemungkinan besar hanya di Rp 18.500an, itu level tertinggi (pelemahan,” pungkas dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Bahkan, jika di luar dugaan The Fed memilih untuk menaikkan suku bunga acuan, maka dampaknya akan memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan dalam negeri, baik pada fluktuasi kurs rupiah maupun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Meski demikian, ia melihat peluang Kevin Warsh untuk mendongkrak suku bunga pada tahun ini terhitung sangat kecil. Mulai kondusifnya situasi konflik di Timur Tengah serta dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi faktor utama yang meredam laju inflasi global, terutama melalui penurunan harga komoditas energi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua