Breaking

Bursa Wall Street Anjlok Setelah The Fed Beri Sinyal Hawkish

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 18 Juni 2026
Bursa Wall Street Anjlok Setelah The Fed Beri Sinyal Hawkish
Ilustrasi: Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq melemah pada penutupan perdagangan Rabu (17/6). (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan pada akhir perdagangan Rabu (17/6) menyusul sinyal dari Federal Reserve terkait potensi peningkatan suku bunga tahun ini demi meredam gejolak inflasi yang belum mereda. Indeks S&P 500 bersama Nasdaq mengalami penyusutan masing-masing di atas 1 persen lantaran para investor merespons sikap kebijakan moneter The Fed yang dinilai lebih hawkish dari estimasi awal.

Sesi perdagangan berakhir dengan jatuhnya indeks Dow Jones Industrial Average sebesar 507,12 poin atau 0,98 persen menuju posisi 51.492,55. Sementara itu, indeks S&P 500 tergerus 91,25 poin atau 1,21 persen ke level 7.420,10, dan Nasdaq Composite terpangkas 354,69 poin atau 1,34 persen ke angka 26.021,66.

Melalui pertemuan kebijakan yang rampung pada Rabu, bank sentral AS tersebut memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan pada rentang 3,50 persen sampai 3,75 persen, selaras dengan proyeksi pasar. 

Kendati demikian, dalam estimasi ekonomi paling anyar, terdapat sembilan otoritas bank sentral yang memproyeksikan sekurangnya ada satu kali lonjakan suku bunga hingga penghujung tahun 2026 demi menekan laju inflasi.

Langkah hawkish institusi tersebut kian tegas setelah The Fed menghapus redaksi kalimat sebelumnya yang sempat membuka ruang bagi penurunan suku bunga di tahun ini.

Ketua The Fed Kevin Warsh, yang menjalani debut kepemimpinannya dalam rapat tersebut, menegaskan determinasi penuh institusinya dalam mempertahankan stabilitas harga.

"Kami akan memastikan mandat stabilitas harga tetap tercapai," ujar Warsh dalam konferensi pers usai rapat sebagaimana dilansir dari berita sumber. Warsh juga memperkenalkan agenda evaluasi menyeluruh terhadap proses pengambilan kebijakan moneter The Fed.

Dia menginginkan agar para pelaku pasar finansial lebih mencermati publikasi data ekonomi daripada berspekulasi mengenai langkah yang bakal diambil oleh jajaran petinggi bank sentral. 

Selepas pertemuan itu, pasar finansial langsung memperbesar estimasi mereka terhadap peluang terkereknya suku bunga pada bulan September nanti.

Berdasarkan data dari CME FedWatch, peluang The Fed untuk mempertahankan tingkat suku bunga hingga akhir tahun merosot ke kisaran 13 persen, berbanding terbalik dari angka 40 persen pada hari sebelumnya. 

Managing Director sekaligus Equity Sales Trader Rosenblatt Securities, Michael James, berpendapat bahwa maklumat dari The Fed serta pernyataan Warsh mengindikasikan prioritas yang sangat tegas dari bank sentral dalam mengontrol inflasi.

"Terdapat nada yang cukup hawkish dalam pernyataan The Fed maupun konferensi pers Ketua Warsh. Pesan utamanya adalah komitmen kuat untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi," ujar Michael James sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Aksi lepas saham melanda seluruh sektor utama yang ada di dalam indeks S&P 500, menyebabkan seluruh 11 sektor terperosok ke zona merah. 

Sektor layanan komunikasi menjadi bidang yang paling terdampak dengan koreksi mendekati 3 persen, sementara sektor industri menjadi yang paling tangguh dengan pelemahan tipis sekitar 0,1 persen.

Kondisi kurang menguntungkan juga membayangi saham perbankan regional secara lebih masif ketimbang kelompok bank raksasa. Indeks KBW Regional Banking merosot hingga 1,8 persen, sedangkan indeks industri perbankan di S&P 500 hanya tergelincir 0,2 persen.

Berdasarkan analisis James, sektor perbankan regional umumnya memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap fluktuasi suku bunga jika disandingkan dengan perbankan berskala besar. 

Di sisi lain, sentimen negatif dari tingginya suku bunga turut menekan sektor properti, terbukti dari merosotnya ETF State Street SPDR S&P 500 Homebuilders sebesar 2,3 persen akibat kekhawatiran bahwa membengkaknya ongkos pinjaman dapat menghambat serapan pasar perumahan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua