Breaking

BI Rate Naik Jadi 5,75 Persen, Kurs Rupiah Hari Ini Masih Tertekan

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 19 Juni 2026
BI Rate Naik Jadi 5,75 Persen, Kurs Rupiah Hari Ini Masih Tertekan
ILUSTRASI, rupiah dollar (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Kurs rupiah diproyeksikan bakal tetap berada di bawah tekanan pada sesi perdagangan Jumat (19/6/2026) kendati Bank Indonesia telah kembali mengerek tingkat suku bunga acuan mereka.

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan laju rupiah akan bergerak fluktuatif namun berakhir melemah pada rentang Rp17.790 sampai Rp17.840 per dolar AS dalam perdagangan hari ini. 

Adapun pada sesi perdagangan Kamis (18/6/2026), mata uang rupiah ditutup terkoreksi 0,18% atau merosot 32 poin ke level Rp17.794 per dolar AS. Pada saat yang bersamaan, indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY terpantau menguat 0,26% menuju posisi 100,34.

Ibrahim Assuaibi mengamati bahwa dalam perdagangan intraday hari ini rupiah sempat mengalami depresiasi hingga 60 poin, akan tetapi penyusutan yang terjadi di akhir sesi cenderung mengecil sehingga rupiah berakhir di posisi Rp17.794 per dolar AS. 

Menurut pandangannya, hari ini pasar keuangan tengah menyerap sentimen yang datang dari kebijakan moneter. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 mengambil keputusan untuk mengerek BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga menyentuh 5,75%.

Selaras dengan keputusan itu, suku bunga Deposit Facility turut dikerek sebesar 25 bps ke posisi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility ikut naik 25 bps menjadi 6,50%.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, dalam agenda rapat reguler mingguan pada Senin (9/6/2026) BI pun telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menuju level 5,50%. 

Hal ini menandakan bahwa dalam periode kurang dari satu bulan, BI tercatat telah mengerek suku bunga acuan dengan total sebesar 75 basis poin. 

Langkah bank sentral dalam menaikkan BI rate tersebut sejalan dengan adanya tren penarikan dana asing (outflow) dalam skala besar di pasar modal, yang mengakibatkan rupiah jatuh di sepanjang tahun berjalan.

Ibrahim menilai, pasar dalam negeri memang tengah didera tekanan serta volatilitas yang tinggi lantaran sikap wait and see dari para pelaku pasar. 

Menurutnya, para investor global dan lembaga institusi memilih untuk menahan diri sembari menanti dua putusan penting dari MSCI guna mencermati apakah status Indonesia bakal dipertahankan dalam kelompok pasar negara berkembang (emerging market) serta apakah pembekuan konstituen akan dicabut.

Sementara dari sentimen global, pelaku pasar memantau perkembangan pakta perdamaian antara pihak AS-Iran. Penurunan eskalasi konflik berimbas pada melandainya harga minyak global dari posisi US$100 per barel menuju kisaran US$80 per barel. 

Di sisi lain, ketika harga minyak dunia melambung tinggi, Indonesia selaku negara net importir minyak memerlukan anggaran impor yang lebih besar, yang pada prosesnya ikut menjadi instrumen penekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Perjanjian damai tersebut telah membantu meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan, mengurangi kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi dan mendukung permintaan emas sebagai lindung nilai portofolio," tandas Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping itu, MSCI mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan Indonesia di dalam kelompok pasar negara berkembang atau emerging market berdasarkan laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang dipublikasikan Kamis (18/6/2026) waktu setempat. 

Walau demikian, MSCI menyertakan sejumlah evaluasi mengenai aksesibilitas pasar di Indonesia. Lembaga penyedia indeks global tersebut menyoroti masalah transparansi pada bagan kepemilikan saham serta adanya indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dianggap menghambat proses pembentukan harga yang wajar di industri pasar modal.

MSCI memangkas peringkat Indonesia untuk kriteria Information Flow dari yang sebelumnya berstatus "+" menjadi "-". Bersama dengan Turki, Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapati penurunan level aksesibilitas pasar dalam periode peninjauan tahun ini.

"Di Indonesia, kekhawatiran aksesibilitas muncul akibat berlanjutnya ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi sehingga mengganggu pembentukan harga yang wajar," tulis MSCI dalam laporannya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan penilaian MSCI, situasi tersebut menghambat kapasitas investor institusi global untuk mengukur tingkat free float yang sesungguhnya serta mempersulit penggunaan harga pasar dalam mekanisme perancangan portofolio maupun replikasi indeks.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua