Harga Minyak Dunia Menguat di Tengah Dialog Damai Amerika Serikat-Iran
CALGARY/LONDON – Nilai jual komoditas minyak mentah global mencatatkan kenaikan tipis saat menutup sesi perdagangan hari Jumat (3/7/2026), meski performa akumulatif selama sepekan terpantau cenderung stabil.
Para pelaku pasar terpantau terus memantau perkembangan proses diskusi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang diyakini berpotensi menstabilkan kembali ketersediaan pasokan minyak di pasar internasional.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, nilai minyak jenis Brent terapresiasi 14 sen (0,19 persen) ke level US$ 71,94 per barel. Untuk akumulasi mingguan, Brent tercatat hanya melemah tipis 5 sen dibanding harga penutupan pekan sebelumnya.
Pada periode yang sama, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 9 sen (0,13 persen) menjadi US$ 68,78 per barel.
Aktivitas jual beli di pasar minyak dilaporkan melambat menjelang libur Hari Kemerdekaan AS pada 4 Juli. Sebelumnya, baik Brent maupun WTI sempat menyentuh titik terendah sejak ketegangan antara AS-Israel dan Iran mencuat pada akhir Februari lalu.
Seorang analis dari Commerzbank menilai bahwa optimisme investor meningkat seiring dengan besarnya harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.
Upaya tersebut dipandang mampu menormalisasi kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute logistik minyak vital dunia.
Senada dengan pandangan tersebut, analis dari Citi menyatakan bahwa jalur diplomasi antara kedua negara tersebut masih memiliki kerentanan, namun prosesnya tetap berjalan. "Kami memperkirakan nota kesepahaman (MoU) akan tetap bertahan, bukan karena tingkat kepercayaan meningkat, melainkan karena kedua pihak memiliki sedikit insentif untuk melanggarnya," tulis analis Citi.
Sebagian jalur pengiriman logistik melalui Selat Hormuz diketahui telah kembali beroperasi berdasarkan kesepakatan awal AS dan Iran. Meski demikian, risiko ketidakpastian dipandang masih signifikan setelah kedua pihak sempat bersitegang pada akhir pekan lalu menyusul aksi serangan Iran terhadap sebuah kapal kargo.
Prospek kelancaran distribusi minyak ini memicu negara-negara di kawasan Teluk untuk meningkatkan volume produksinya. Sebuah survei dari Reuters menunjukkan bahwa total produksi minyak dari anggota OPEC selama Juni naik sekitar 3,3 juta barel per hari dibanding bulan sebelumnya.
Volume produksi minyak Kuwait juga dilaporkan meningkat tajam hingga mencapai 1,65 juta barel per hari pada Juni, melonjak dari 580 ribu barel per hari pada Mei.
Sementara itu, setidaknya lima kapal tanker besar yang membawa sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi dikabarkan telah berhasil melewati Selat Hormuz. Bahkan, Saudi Aramco mulai mengalihkan sebagian sistem penjualannya ke harga spot guna mempercepat pengiriman ke pasar Asia.
Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, berpendapat bahwa normalisasi pasokan dari Timur Tengah berlangsung lebih cepat dari perkiraan semula, di tengah permintaan impor China yang masih melemah.
"Pemulihan pasokan dari Timur Tengah terjadi lebih cepat dari ekspektasi kami, sedangkan permintaan impor China masih tertekan," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Peningkatan volume pasokan ini turut mengubah struktur pasar minyak dari backwardation menjadi contango, yakni kondisi di mana harga kontrak pengiriman masa depan lebih tinggi dibandingkan harga pengiriman saat ini.
Perubahan tren tersebut menunjukkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan stok dalam jangka pendek.