Breaking

Sentimen Pasar Semester II 2026, BBCA Jadi Rekomendasi Utama

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 10 Juli 2026
Sentimen Pasar Semester II 2026, BBCA Jadi Rekomendasi Utama
ILUSTRASI, Investor disarankan memilih BBCA sebagai top pick sektor perbankan pada semester II 2026. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Ketahanan sektor eksternal Indonesia dinilai oleh Mirae Asset Sekuritas akan menjadi faktor penentu utama bagi sentimen pasar pada paruh kedua tahun 2026. Di tengah situasi ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian, para investor diproyeksikan bakal lebih selektif dan memprioritaskan emiten-emiten yang mempunyai fundamental kokoh.

Menurut Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, daya tahan emiten dalam mempertahankan performa di tengah dinamika ekonomi serta tingkat suku bunga yang tetap tinggi bakal menjadi salah satu acuan utama bagi investor.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (9/7/2026).

Faktor tersebut yang melandasi Mirae Asset Sekuritas untuk tetap memposisikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai pilihan utama di sektor perbankan.

BBCA dianggap mempunyai fundamental yang lebih tangguh ketimbang bank besar lain, disokong oleh prospek ekspansi net interest margin (NIM), kondisi likuiditas yang aman dengan loan to deposit ratio (LDR) di angka 74,1%, serta kualitas aset yang konsisten terjaga, yang terlihat dari gross non-performing loan (NPL) di level 1,8% dan cost of credit yang stabil pada posisi 6 basis poin.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Dalam kondisi likuiditas perbankan yang masih relatif ketat, kami melihat BBCA berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan bank-bank besar lainnya. Fundamental tersebut menjadi salah satu alasan kami tetap menempatkan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan," ujar Rully.

Ia pun mengimbau agar di tengah sorotan terhadap situasi makro, investor harus dapat mengimbangi analisis aspek eksternal dengan mutu fundamental emiten supaya bisa mengantisipasi fluktuasi pasar secara lebih optimal.

Sependapat dengan hal itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, memandang bahwa fokus pasar saat ini mulai beralih pada kapasitas Indonesia dalam menjaga ketahanan sektor eksternal. 

Hal ini terjadi pasca neraca perdagangan periode Mei 2026 mengalami defisit senilai US$ 1,61 miliar, yang menghentikan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sekaligus memecahkan rekor defisit bulanan terbesar sejak April 2019.

Novani menilai bahwa defisit pada neraca perdagangan Mei 2026 mengindikasikan kian besarnya tekanan pada sektor eksternal Indonesia, yang dipicu oleh perlambatan laju perdagangan global, normalisasi harga komoditas, serta tingginya angka impor migas.

Kondisi tersebut diperparah karena transaksi berjalan yang masih mencatatkan defisit di saat cadangan devisa terus menyusut.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," kata Novani.

Ia memaparkan bahwa ke depannya perhatian pasar tidak lagi cuma berfokus pada kembalinya surplus perdagangan, melainkan pada situasi ketahanan sektor eksternal Indonesia secara menyeluruh.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, tingginya kebutuhan impor energi, serta efektivitas implementasi kebijakan DHE akan menjadi faktor utama yang menentukan ketahanan sektor eksternal, stabilitas rupiah dan sentimen pasar,” tambahnya.

Novani memastikan bahwa sepanjang surplus perdagangan masih dalam posisi terbatas, transaksi berjalan tetap mengalami defisit, dan tekanan pada mata uang rupiah belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan tetap mempertahankan bauran kebijakan yang berfokus pada stabilitas.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua